Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mama dan anak asyik bermain handphone
Freepik

Intinya sih...

  • Pseudosains dalam konten parenting muncul dari klaim berlebihan dan bias konfirmasi

  • Setiap orang memiliki kemampuan literasi yang berbeda, dan daya tangkap yang berbeda sehingga konten edukasi juga berbeda

  • Kesehatan dan tumbuh kembang anak bukan area untuk eksperimen berdasarkan tren media sosial

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial telah mengubah cara orangtua mendapatkan informasi tentang cara mengasuh anak.

Kemudahan akses ini dapat membantu, terutama bagi orangtua baru yang membutuhkan panduan cepat dalam menangani suatu hal terkait anak.

Namun, di balik kemudahan tersebut tersimpan risiko yang tidak boleh diabaikan.

Banyak konten parenting yang viral justru tidak didasarkan pada penelitian ilmiah, melainkan pada mitos, pengalaman pribadi, atau bahkan sekadar opini yang dikemas seolah-olah fakta. Kondisi ini diperparah dengan minimnya literasi digital dalam memilah informasi yang kredibel.

Psikolog Linda Maysha melalui akun TikToknya @lindamaysha memberikan penjelasan tentang bahaya pseudosains dalam konten parenting dan mengapa hal ini bisa berdampak serius pada tumbuh kembang anak.

Simak penjelasan Linda Maysha tentang pseudosains dan bahaya yang dapat ditimbulkannya dalam rangkuman Popmama.com berikut ini.

1. Pengertian pseudosains dan ciri-cirinya

Freepik

Pseudosains adalah klaim, kepercayaan, atau praktik yang disajikan sebagai penjelasan ilmiah tetapi tidak memenuhi standar dan metode sains yang tepat, seperti tidak dapat diuji atau dibuktikan secara empiris dengan metode ilmiah, contohnya astrologi dan sebagian praktik kesehatan alternatif yang tidak terbukti.

Dalam jurnal berjudul "Science, pseudoscience, evidence-based practice and post truth" yang diterbitkan tahun 2017, José M González-Méijome menjelaskan bahwa pseudosains muncul ketika sumber pengetahuan tertentu mengambil alih peran sains itu sendiri.

Pseudosains dapat dikenali dari beberapa ciri khas:

  • cenderung kontradiktif,

  • membuat klaim yang berlebihan atau tidak dapat dibuktikan kebenarannya,

  • lebih mengandalkan bias konfirmasi daripada upaya pembuktian yang tepat,

  • tidak terbuka terhadap evaluasi dari ahli lain di bidang yang sama,

  • tidak memiliki praktik sistematis dalam mengembangkan teori-teorinya.

2. Tidak semua orang bisa menyaring informasi

Freepik

"...kemudian muncul komentar-komentar yang menyarankan untuk 'ambil positifnya aja, ambil poin-poin baiknya aja.' Pendapat seperti ini itu sebetulnya adalah pendapat yang sebaiknya ditujukan ke diri sendiri aja."

Linda Maysha menjelaskan bahwa belakangan ini cukup marak konten kreator atau motivator yang memberikan materi edukasi berdasarkan pseudosains atau bahkan mitos.

Kemudian muncul komentar-komentar yang menyarankan untuk ambil poin-poin baiknya saja.

Ketika Mama memberikan saran "ambil positifnya saja" kepada orang lain, ini sama saja dengan mengasumsikan bahwa semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menyaring informasi.

Padahal, setiap orang memiliki latar belakang pendidikan, akses informasi, dan kemampuan literasi yang berbeda-beda.

3. Daya tangkap setiap orang berbeda

Freepik/pch.vector

"Daya tangkap, daya serap, dan daya saring orang ketika menangkap informasi itu berbeda-beda."

Linda Maysha menegaskan bahwa perbedaan kemampuan ini menjadi alasan utama mengapa konten atau materi edukasi harus terkurasi dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dengan begitu, masyarakat yang menerima konten tersebut tidak perlu lagi menyaring-nyaring atau berpikir untuk mengambil positifnya saja dan membuang yang negatif.

Ketika konten edukasi dibuat berdasarkan mitos atau pengalaman pribadi yang tidak tervalidasi, ini membuka peluang kesalahpahaman yang berbahaya.

Tidak semua orangtua memiliki waktu, energi, atau akses untuk mencari informasi pembanding yang lebih kredibel.

4. Konten edukasi harus terkurasi sejak awal

Freepik/mindandi

"Konten atau materi edukasi itu haruslah terkurasi dan harus juga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, agar masyarakat yang terima konten tersebut tidak perlu lagi menyaring-nyaring."

Linda Maysha menekankan pentingnya konten yang berbasis sains. Konten edukasi yang berbasis sains sudah melalui proses riset, bukan sekadar pengalaman pribadi atau asumsi.

Jika terjadi dampak negatif, ada dasar ilmiah yang bisa ditelusuri dan dievaluasi, sehingga konten tersebut tidak dibiarkan berdiri tanpa tanggung jawab dan tetap bisa diuji kebenarannya. Tanpa dasar ini, pseudosains berpotensi menimbulkan bahaya nyata.

5. Dampak pseudosains sangat besar

Freepik/pvproductions

"Bagi sebagian orang yang bisa mencari informasi, mungkin konten tersebut tidak berdampak buruk buat kehidupannya. Tapi bagi yang tidak bisa, itu dampaknya bisa sangat besar."

Linda Maysha menjelaskan bahwa orangtua yang memiliki literasi informasi tinggi biasanya memiliki akses ke berbagai sumber informasi kredibel, terbiasa melakukan fact-checking, dan tidak mudah percaya pada satu sumber saja.

Mereka bisa dengan mudah membedakan mana informasi yang valid dan mana yang sekadar mitos.

Namun, bagi orangtua dengan literasi informasi yang lebih rendah, dampaknya bisa sangat besar.

Mereka mungkin memiliki keterbatasan akses informasi, tidak terbiasa dengan budaya mengecek kebenaran informasi, atau menganggap konten dari influencer populer sebagai kebenaran mutlak.

6. Mitos tidak kredibel ditelan mentah-mentah

Freepik

"Ada mitos yang mengatakan bahwa tahap perkembangan bahasa pada anak laki-laki itu memang jauh lebih lambat dibandingkan anak perempuan."

Linda Maysha memberikan contoh konkret tentang mitos yang sering beredar, yaitu jika anak laki-laki umur 4 tahun terlambat kemampuan perkembangan bicaranya, santai saja, tunggu saja, nanti juga dia bisa sendiri.

Bagi orangtua yang bisa mengkurasi dan memilah informasi, mereka tidak akan langsung percaya. Mereka akan mencari informasi yang lebih kredibel dan menemukan bahwa ternyata kondisi ini sebetulnya bukan kondisi yang normal.

"Hasilnya anak laki-lakinya yang sudah usia 4 tahun ini belum bisa bicara diwajarkan, dinormalisasi, dan tidak diberikan atensi khusus sehingga tidak terdeteksi bahwa anaknya ini butuh bantuan segera,"

Ini adalah bahaya nyata dari pseudosains, kondisi yang sebenarnya membutuhkan intervensi dini justru diabaikan karena orangtua percaya pada mitos.

7. Pengalaman pribadi bukan bukti ilmiah

Freepik

"Konten edukasi itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara scientific dan bukan berdasarkan mitos atau pengalaman pribadi yang kemudian digeneralisir."

Linda Maysha menegaskan bahwa salah satu bentuk pseudosains yang sering muncul adalah generalisasi pengalaman pribadi.

Hanya karena suatu metode berhasil untuk satu anak, bukan berarti metode tersebut akan berhasil atau aman untuk semua anak.

Setiap anak memiliki karakteristik, kebutuhan, dan kondisi kesehatan yang berbeda.

Apa yang berhasil menurut pengalaman pribadi seseorang belum tentu didukung oleh bukti ilmiah atau aman untuk diterapkan secara luas.

Konten edukasi yang baik harus berdasarkan penelitian yang terstruktur, melibatkan sampel yang representatif, dan telah melalui proses validasi ilmiah.

Bukan sekadar cerita sukses satu atau dua orang yang kemudian diklaim sebagai solusi universal.

8. Cara menghindari konten pseudosains

Freepik/sofatutor

  • Periksa kredensial pembuat konten. Apakah mereka memiliki keahlian di bidang yang mereka bahas? Misalnya konten kesehatan anak sebaiknya dibuat oleh dokter anak, psikolog anak, atau ahli tumbuh kembang anak yang memiliki lisensi resmi.

  • Cari sumber referensi. Konten yang kredibel biasanya menyertakan referensi dari jurnal ilmiah, organisasi kesehatan resmi, atau penelitian terpercaya. Jika tidak ada rujukan ilmiah, waspadai konten tersebut.

  • Waspadai klaim yang terlalu menjanjikan. Jika sebuah konten mengklaim solusi instan atau hasil yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, ini pertanda merah bahwa konten tersebut mungkin berbasis pseudosains.

  • Jangan bergantung pada satu sumber. Selalu cari informasi pembanding dari berbagai sumber kredibel sebelum mengambil keputusan penting tentang kesehatan atau tumbuh kembang anak.

  • Konsultasikan dengan tenaga profesional. Jika ada kekhawatiran tentang perkembangan anak, jangan hanya mengandalkan konten media sosial. Segera konsultasikan dengan dokter anak, psikolog, atau ahli yang kompeten di bidangnya.

Kesehatan dan tumbuh kembang anak bukan area untuk eksperimen berdasarkan tren media sosial. Sebagai orangtua, Mama berhak mendapatkan informasi yang akurat, tervalidasi, dan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Itulah penjelasan apa itu pseudosains dan bahaya yang dapat ditimbulkan.

Intinya Ma, perlu landasan yang jelas untuk membuat sebuah statement atau video edukasi di dunia digital, meski semua sudah serba cepat, penting untuk bisa memvalidasi terlebih dahulu sebelum membagikan informasi tersebut di media sosial.

Sudahkah Mama memastikan informasi yang didengar benar-benar aman dan bukan pseudosains?

Editorial Team