Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Cara Bikin Libur Lebaran Berkesan buat Anak, Bukan Cuma Jalan-jalan
Dok. FruitCity Park

Momen yang paling dinanti saat libur Lebaran di antaranya adalah berkumpul dan menciptakan kenangan indah bersama si Kecil.

Tapi, Mama dan Papa tahu nggak? Ternyata, mengajak anak jalan-jalan ke tempat wisata favorit saja nggak cukup lho untuk membentuk 'Core Memories' di otaknya.

Spesialis Psikiatri, dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @jiemiardian, menjelaskan bahwa banyak orangtua sering keliru mengira memori anak bekerja seperti kamera CCTV yang merekam semua kejadian indah apa adanya.

Padahal faktanya, memori adalah hasil konstruksi otak, bukan rekaman peristiwa. Lalu, bagaimana cara yang tepat agar momen Lebaran bersama buah hati benar-benar membekas sebagai kenangan indah?

Yuk, simak 5 cara bikin libur Lebaran jadi lebih berkesan menurut dari dr. Jiemi dalam artikel Popmama.com berikut ini.

1. Berikan pengalaman yang memicu emosi positif

Globalmousetravels.com

Menurut dr. Jiemi, agar sebuah kejadian bisa menjadi core memory, ia membutuhkan dua elemen kunci, yakni emosi yang kuat dan makna.

Jadi, nggak perlu repot-repot merencanakan liburan super mewah ke luar kota atau luar negeri, Ma. Pengalaman sederhana seperti bermain air di pantai, membuat istana pasir, atau bahkan sekadar makan bersama sambil bercerita bisa jadi jauh lebih bermakna.

Yang terpenting adalah bagaimana momen tersebut mampu memicu emosi positif pada anak.

Ketika anak merasakan kebahagiaan, takjub, atau bangga saat berhasil melakukan sesuatu, inilah yang menjadi bahan bakar utama untuk membuat kenangan tersimpan rapi di memori jangka panjangnya.

Jadi, fokuslah pada kualitas kebersamaan, bukan kemewahan tempatnya, ya Ma, Pa.

2. Tanya persepsi anak dengan pertanyaan terbuka

Freepik/jcomp

Nah, ini dia bagian yang sering terlewatkan, Ma. Setelah liburan selesai, kebanyakan orangtua cenderung mendikte cerita anak dengan pertanyaan tertutup seperti "Seru banget ya tadi mainnya?" atau "Makanannya enak kan?".

Padahal, ada cara yang lebih ampuh untuk membangun memori anak agar jadi lebih berkesan. Dalam unggahannya, dr. Jiemi menjelaskan bagaimana psikolog perkembangan Robyn Fivush menemukan bahwa cara kita mengobrol tentang liburan sangat menentukan.

Coba ganti pertanyaan dengan versi terbuka seperti, "Tadi bagian mana yang paling seru di pantai?" atau "Waktu kita jalan-jalan di karang, kamu lihat apa aja?".

Pertanyaan seperti ini yang akan mendorong anak untuk aktif mengkonstruksi ingatannya sendiri, bukan sekadar menjawab "iya" atau "nggak".

3. Perkaya cerita anak dengan makna positif

Sekolahalamkampungsawah.id

Inilah yang disebut dr. Jiemi sebagai magic yang sebenarnya. Setelah anak menjawab pertanyaan Mama, jangan berhenti di situ saja, Ma.

Lengkapi jawabannya dengan narasi positif yang membangun jati dirinya. Misalnya, saat anak bercerita tentang istana pasirnya yang roboh diterjang ombak, Mama bisa menimpali, "Iya! Habis ombak rubuhin istana pasirmu, Mama suka deh kamu langsung bangun lagi, gigih banget nih anak mama!".

Dengan cara ini, Mama nggak cuma membantu anak mengingat kejadiannya, tapi juga menanamkan makna tentang siapa dirinya.

Ia akan mulai membangun narasi identitas seperti "Aku anak yang berani" atau "Aku anak yang tidak pantang menyerah". Luar biasa, kan, Ma?

4. Hindari menolak atau mendikte cerita anak

Pexels/Polesie Toys

Ada satu tipe orangtua yang sebaiknya dihindari, yaitu tipe yang suka menolak atau membantah persepsi anak.

Misalnya, saat si Kecil bercerita dengan semangat, tiba-tiba Mama atau Papa memotong, "Nggak gitu ceritanya, kamu kan tadi nangis!" atau "Udah nggak usah dibahas lagi, ah, nanti bikin Mama capek".

Respons seperti inilah yang menurut dr. Jiemi dapat meruntuhkan rasa memiliki anak atas pengalamannya sendiri. Anak jadi merasa ceritanya itu nggak penting atau nggak valid.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa menghambat perkembangan jati dirinya dan membuatnya enggan bercerita di kemudian hari. Jadi, yuk Ma, Pa, selalu validasi perasaan dan persepsi anak, ya.

5. Bangun koneksi, bukan sekadar destinasi

Pexels/Gustavo Fring

Inti dari semua penjelasan yang dibagikan dr. Jiemi di atas adalah bagaimana orangtua membangun koneksi dengan anak.

Core memories yang terkuat bukan tentang ke mana kita pergi, tetapi tentang bagaimana kita merasa bermakna saat bersama orangtua.

Nah, momen libur Lebaran dengan segala tradisi dan kebersamaannya nanti bisa kita jadikan kesempatan emas untuk melakukan ini.

Daripada sibuk mencari spot foto terbaik atau mengejar jadwal wisata, coba luangkan waktu lebih untuk benar-benar hadir bersama anak.

Dengarkan ceritanya, hargai persepsinya, dan bantu ia merangkai pengalaman menjadi narasi indah tentang dirinya. Itulah hadiah Lebaran paling berharga yang bisa Mama dan Papa berikan.

Selamat menikmati momen Lebaran bersama si Kecil, ya!

Editorial Team