Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Cara Mengarahkan Anak Tanpa Bentak atau Marah-Marah
freepik/jcomp
  • Orangtua perlu merubah kalimat perintah bernada negatif menjadi arahan positif agar anak merasa dihargai dan lebih mudah memahami pesan orangtua.

  • Ada beberapa opsi perubahan kalimat, seperti mengganti ‘jangan nangis’ dengan validasi emosi atau ‘cepetan’ dengan ajakan mengatur waktu secara santai.

  • Pendekatan komunikasi positif ini membantu anak belajar mengenali emosi, tanggung jawab, serta membangun kebiasaan berinteraksi yang lebih empatik sejak dini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai orangtua atau orang dewasa di sekitar anak, kadang kita refleks ngomong, “jangan nangis”, “ayo cepat!”, atau “jangan lari!”. Padahal, pilihan kata yang kita pakai bisa banget memengaruhi cara anak memahami emosi dan perilakunya.

Dengan sedikit mengubah cara bicara, kita tetap bisa memberi arahan tanpa bikin anak merasa dimarahi atau tidak didengar. Yuk, coba ubah kalimat “perintah” jadi lebih positif dan efektif seperti ini:

1. Daripada “Harus berbagi!”, coba ajak anak paham giliran

Pexels/August de Richelieu

Meminta anak langsung berbagi kadang terasa memaksa. Lebih mudah kalau anak diajak memahami konsep bergantian.
Contoh:

  • “Yuk, kita pastikan semua bisa main dengan senang.”

  • “Boleh minta giliran setelah dia selesai, ya.”

  • “Sambil nunggu, kamu bisa pilih mainan lain dulu.”

  • “Nanti kamu dapat giliran, kok.”

  • “Berbagi itu artinya semua dapat kesempatan.”

  • “Menurut kamu, cara yang adil buat kalian berdua gimana?”

2. Daripada “Diam!”, coba arahkan fokus anak

Pexels/August de Richelieu

Kata “diam!” sering terdengar keras dan bikin anak defensif. Lebih baik arahkan fokusnya pelan-pelan.
Contoh:

  • “Yuk, tunjukkan kalau kamu sudah siap belajar.”

  • “Cerita itu kita lanjut nanti, ya.”

  • “Sekarang Mama/Papa yang bicara, ya.”

  • “Yuk, kita fokus lagi.”

  • “Ini waktunya dengar dulu, ya.”

3. Daripada “Jangan nangis”, coba validasi perasaannya

Pexels/Monstera Production

Menangis itu cara anak mengekspresikan emosi. Daripada dilarang, lebih baik ditemani.
Contoh:

  • “Mama/Papa di sini, ya.”

  • “Kamu mau cerita apa yang terjadi?”

  • “Nggak apa-apa kok kalau kamu lagi sedih.”

  • “Yuk, tarik napas pelan-pelan bareng.”

  • “Kamu aman di sini.”

  • “Mama/Papa dengerin kamu.”

4. Daripada “Jangan lari!”, jelaskan aturan dengan jelas

Pexels/Monstera Production

Anak sering belum paham konteks tempat. Jadi, arahkan dengan kalimat yang spesifik.
Contoh:

  • “Di dalam kita jalan, ya.”

  • “Kalau di luar baru boleh lari.”

  • “Yuk, pelan-pelan jalannya.”

  • “Pelan-pelan supaya tetap aman.”

  • “Sekarang mode jalan, ya.”

  • “Di sini kita jalan pelan.”

5. Daripada “Cepetan!”, bantu anak atur waktu

Pexels/Monstera Production

Nada terburu-buru bisa bikin anak panik. Lebih baik ajak mereka belajar mengatur waktu dengan cara santai.
Contoh:

  • “Kira-kira bisa selesai sebelum waktunya nggak?”

  • “Coba tunjukkan cara kamu menyelesaikannya.”

  • “Menurut kamu, gimana biar bisa cepat selesai?”

  • “Kamu butuh bantuan nggak?”

  • “Yuk, kita selesaikan bareng.”

  • “Setelah ini kita lanjut ke kegiatan berikutnya, ya.”

6. Daripada “Jangan marah!”, bantu anak kenali emosinya

Pexels/Monstera Production

Marah itu wajar, tapi anak perlu tahu cara mengekspresikannya dengan aman.
Contoh:

  • “Kamu lagi kesal, ya?”

  • “Mau cerita apa yang bikin kamu marah?”

  • “Yuk, kita cari cara biar lebih tenang.”

  • “Kalau marah, kita bisa tarik napas dulu.”

  • “Perasaan kamu penting, kok.”

  • “Mama/Papa bantu, ya.”

7. Daripada “Jangan berantakin!”, arahkan cara merapikan

Pexels/Monstera Production

Anak sering belum tahu ekspektasi kita. Jadi, penting memberi arahan, bukan sekadar larangan.
Contoh:

  • “Setelah main, kita rapikan lagi, ya.”

  • “Yuk, bereskan mainannya bareng.”

  • “Main boleh, tapi jangan lupa dirapikan.”

  • “Kalau sudah selesai, kita simpan lagi di tempatnya.”

  • “Biar rapi, kita susun bareng, yuk.”

Dengan mengubah cara bicara yang sederhana seperti ini, anak tidak hanya merasa lebih dihargai, tapi juga belajar memahami emosi, tanggung jawab, dan cara berkomunikasi yang baik sejak dini.

Editorial Team