Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Dampak yang Bisa Terjadi Jika Anak Terlalu Sering Dibantu
Pexels/ronlach
  • Meta-analisis dari 44 studi menunjukkan overparenting berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.
  • Terlalu sering membantu anak dapat menghambat kemandirian, kemampuan memecahkan masalah, serta menurunkan rasa percaya diri mereka.
  • Dampak overparenting bisa berbeda tergantung budaya dan lingkungan, namun tetap disarankan memberi ruang bagi anak untuk belajar mandiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai orangtua, wajar banget ingin membantu anak supaya hidupnya terasa lebih mudah. Tapi tanpa disadari, terlalu sering turun tangan justru bisa berdampak ke perkembangan mental dan kemandirian mereka, lho.

Berdasarkan meta-analisis dari 44 studi dengan lebih dari 21.000 partisipan, pola asuh yang terlalu mengontrol atau dikenal sebagai overparenting ternyata berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental pada anak dan remaja. Yuk, pahami dampaknya supaya kita bisa lebih bijak dalam mendampingi si kecil.

1. Anak jadi kurang mandiri

Pexels/rdnestockproject

Saat orangtua terlalu sering membantu, anak jadi jarang punya kesempatan untuk mencoba sendiri. Lama-lama, mereka bisa terbiasa bergantung dan merasa tidak percaya diri saat harus mengambil keputusan tanpa bantuan.

Padahal, kemandirian itu penting banget untuk bekal anak menghadapi tantangan di masa depan.

2. Sulit belajar menyelesaikan masalah

Pexels/mikhailnilov

Kalau setiap masalah langsung “diselesaikan” oleh orangtua, anak jadi kehilangan kesempatan untuk berpikir dan mencari solusi. Akibatnya, kemampuan problem solving mereka tidak terasah dengan optimal.

Padahal, justru dari situ anak belajar berpikir kritis dan kreatif.

3. Lebih rentan mengalami kecemasan

Pexels/mikhailnilov

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan overparenting cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak terbiasa menghadapi tantangan sendiri.

Saat dihadapkan pada situasi sulit, mereka jadi lebih mudah merasa panik atau tidak siap.

4. Risiko depresi bisa meningkat

Pexels/mikhailnilov

Selain kecemasan, pola asuh yang terlalu mengontrol juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko depresi, terutama saat anak beranjak remaja. Semakin besar usia anak, dampaknya bisa terasa lebih kuat.

Ini karena kebutuhan mereka untuk mandiri dan mengambil keputusan sendiri tidak terpenuhi.

5. Kurang percaya diri menghadapi tantangan

Pexels/cottonbrostudio

Anak yang jarang diberi kesempatan mencoba akan lebih mudah ragu dengan kemampuannya sendiri. Mereka bisa merasa “tidak mampu” bahkan sebelum mencoba.

Padahal, rasa percaya diri justru tumbuh dari pengalaman mencoba dan belajar dari kesalahan.

6. Tidak terbiasa menghadapi stres dengan sehat

Pexels/cottonbrostudio

Perkembangan mental anak membutuhkan pengalaman menghadapi tantangan yang masih dalam batas wajar. Dari situ, mereka belajar mengelola emosi dan membangun ketahanan diri (resilience).

Kalau semua hambatan selalu “dihilangkan”, anak jadi tidak punya kesempatan melatih kemampuan ini.

7. Bisa berdampak berbeda tergantung lingkungan

Pexels/jack

Menariknya, beberapa studi juga menemukan bahwa dalam konteks budaya tertentu, overparenting bisa tetap berkaitan dengan rasa puas dalam hidup, meski di sisi lain meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.

Artinya, dampak pola asuh ini tidak selalu sama pada setiap anak. Faktor seperti budaya, lingkungan keluarga, dan cara anak memaknai pengalaman juga ikut berperan.

Jadi, apa yang bisa dilakukan orangtua?

Mendampingi anak tetap penting, tapi beri mereka ruang untuk mencoba. Misalnya:

  • Membiarkan anak berpikir saat mengerjakan PR

  • Mengalami konsekuensi ringan dari pilihannya sendiri

  • Mencoba hal baru, meski belum sempurna

Anak tidak harus selalu “dipermudah”, tapi perlu dibekali. Karena dari proses mencoba, gagal, dan mencoba lagi, mereka akan belajar seseorang yang kuat.

Editorial Team