Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Daripada Bilang "Stop Berteriak" mending Ucapkan Kata-Kata Ini! Anak Jadi Lebih Tenang
Pexels/Jep Gambardella
  • Pakar pengasuhan Devon Kuntzman menyarankan orangtua mengganti perintah “stop berteriak” dengan kalimat yang memvalidasi emosi anak saat menangis atau marah.

  • Orangtua dianjurkan hadir dengan tenang, mendengarkan, memberi pelukan atau pegangan tangan, serta menawarkan bantuan agar anak merasa aman dan tidak diabaikan.

  • Mengajak anak berbicara perlahan dan menarik napas dalam-dalam bersama dapat membantu mereka menenangkan diri, mengendalikan luapan emosi, serta belajar menghadapi frustrasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika anak mama menangis, biasanya respon apa yang Mama lakukan supaya menghentikan tangisannya? atau malah Mama seringnya bingung menenangankannya sambil menjaga diri agar tidak terpancing emosi.

Mama, anak itu pada dasarnya butuh perasaannya dipahami, divalidasi, dilihat, didengar, dan dicintai tanpa syarat.

Apalagi saat anak mengalami luapan emosi yang besar. Seperti menangis dan berteriak, yang merupakan cara ia berkomunikasi.

Karena si Kecil belum mampu memproses dan meregulasi emosinya sendiri. Anak sangat membutuhkan orangtua untuk menjadi ketenangan di tengah badai emosinya. Lantas bagaimana cara menenangkan anak saat menangis?

Devon Kuntzman, seorang pakar pengasuhan anak asal Amerika Serikat dalam konten media sosialnya menyarankan daripada bilang "stop berteriak" mending ganti dengan kata-kata ini. Berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya.

1. "Kalau kamu kesulitan, Mama bisa bantu kamu"

Pexels/Helena Lopes

Devon Kuntzman, PCC, menyarangkan Mama untuk memvalidasi perasaan anak, saat ia mulai bersedih atau kesal.

Karena menurut Kuntzman, anak ingin merasa dilihat dan diakui keberadaannya saat merasakan emosi yang besar, bukan diabaikan.

Saat orangtua memvalidasi perasaan anak, berarti berusaha menempatkan diri pada posisi anak. Hal ini sebagai cara untuk memahami pengalaman emosionalnya dan menerima perasaannya sebagai sesuatu yang nyata.

Mama mungkin berpikir kalau melakukan validasi perasaan berarti membenarkan atau menyetujui tindakan yang dilakukan anak. Tidak, ya, Ma. Validasi hanya menunjukkan bahwa orangtua memahami perasaan anak dan memperbolehkan ia memiliki perasaan tersebut.

Dengan begitu, anak memiliki ruang untuk mengekspresikan emosinya secara aman dan tanpa mengabaikan atau menekan perasaannya.

2. "Mama dengar kok. Bisa kamu ceritakan dengan tenang."

Pexels/Barbara Olsen

Selain menenangkan dengan perkataan,"Mama dengar kok. Bisa kamu ceritakan dengan tenang." Berikan juga anak mama pelukan, atau pegang tangannya untuk menunjukkan kehadiran Mama saat anak sedang sedih atau kesal.

Hadir bersama anak menunjukkan bahwa orangtua mendukungnya dalam menghadapi emosinya. Termasuk ketika emosi tersebut terasa besar dan meluap.

Duduk dengan tenang di dekat anak, dekap ia dan beri tahu bahwa Mama ada dan siap membantu. Selanjutnya, ketika anak mama sudah lebih tenang serta mampu melanjutkan aktivitas, ajak ia untuk bersandar di pundak Mama.

Dengan menawarkan kenyaman, anak ingin merasa didengarkan dan tidak dikesampingkan saat emosinya meluap.

3. "Bicaranya tenang dulu, yuk. Kita tarik napas dalam-dalam bersama, ya"

Pexels/Monstera Production

Mama, ketika anak mengalami luapan emosi yang besar, tubuh secara otomatis dapat menegang dan menahan napas baik yang dihirup maupun dihembuskan. Jika berlangsung dalam jangka waktu lama, kondisi tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, kecemasan, bahkan tekanan darah tinggi.

Hal ini karena aliran oksigen berkurang akibat napas yang ditekan itu. Dengan Mama mengajak anak untuk beberapa kali menarik napas dalam-dalam secara perlahan akan membuat anak dengan cepat merasakan rasa tenang. Selain itu, perkataanya juga lebih terdengar jelas oleh Mama.

Untuk itu, latihan pernapasan membantu anak menenangkan diri dan mengendalikan untuk terus berteriak. Melalui latihan, anak dapat belajar menggunakan ketrampilan menenangkan diri ini kapan pun merasa frustrasi, takut, terluka, atau marah.

Ketrampilan tersebut menjadi alat pengendalian diri yang dapat digunakan anak sepanjang hidupnya. Karena anak butuh didukung dan hanya bisa belajar cara mengatasi emosinya, jika diajarkan ketrampilan ini oleh Mama.

4. "Mama mengerti kamu merasa frustrasi. Apa yang bisa Mama bantu supaya kamu merasa lebih baik?"

Pexels/Jep Gambardella

Saat anak sedang berteriak atau mengalami tantrum, emosi yang dirasakan terasa sangat besar bagi si Kecil.

Dalam kondisi seperti ini, anak membutuhkan orangtua yang tetap tenang dan hadir di dekatnya.

Daripada ikut meninggikan suara atau meminta anak segera berhenti berteriak, Mama dapat berbicara dengan nada lembut sambil menunjukkan bahwa siap membantu ketika anak sudah lebih tenang.

Kehadiran orangtua yang tenang dapat membantu anak merasa aman. Selain itu, hadirnya Mama juga menunjukkan bahwa emosi yang besar bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Anak juga belajar bahwa ketika menghadapi situasi sulit, ia dapat mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum mencari solusi.

Dengan begitu, Mama tidak hanya berusaha menghentikan teriakan anak, tetapi juga memberikan contoh bagaimana tetap tenang ketika menghadapi emosi yang kuat.

5. “Tidak apa-apa, Mama akan tetap menemani kamu sampai kamu merasa lebih tenang.”

Pexels/ Yan Krukau

Sebagai orangtua, Mama sejatinya harus mampu menjadi tempat aman bagi anak. Karena anak perlu merasa dicintai tanpa syarat. Terlepas dari bagaimana ia menunjukkan sedang mengalami emosi yang besar.

Menjadi “tempat yang aman” bagi anak bukan hanya memastikan ia terlindungi secara fisik. Lebih dari itu, menjadi tempat aman berarti memberikan rasa aman dalam berbagai aspek, baik secara fisik, emosional, hingga intelektual.

Dengan Mama menjadi tempat yang aman untuk anak, ia dapat datang kepada orangtua dengan membawa hal apa pun. Anak yang merasa aman secara emosional akan lebih mudah menyampaikan berbagai perasaannya.

Mulai dari rasa bahagia, sedih, hingga marah. Selain itu, ia juga dapat menyampaikan pertanyaan tanpa takut dihakimi. Perasaan dicintai tanpa syarat ini menjadi dasar penting bagi kesehatan emosional dan perkembangan anak.

Nah, Ma daripada bilang "stop berteriak" mending ucapkan kata-kata ini yang sudah disarankan oleh pakar anak, ya!

Dengan mengganti kata berhenti berteriak, anak akan jadi bisa lebhiih tenang karena Mama memvalidasi emosinya terlebih dahulu. Semoga artikel ini bermanfaat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article