Di suatu hari yang cerah, ada seekor Kancil yang terkenal sangat licik di dalam hutan. Saat itu, si Kancil sedang bersantai di bawah pohon besar.
Dia pun menikmati waktu santainya dan terbawa suasana hembusan angin sepoi-sepoi sampai dia mengantuk. Untuk menghilangkan kantuknya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan menelusuri hutan.
Sambil berjalan, Kancil dengan bangga membusungkan dadanya lalu berkata,
"Siapa di hutan ini yang tidak mengenalku? Si pintar, si cerdik yang banyak akal. Setiap masalah pasti dapat aku selesaikan dengan mudah."
Setelah berjalan cukup jauh, Kancil sampai di tepi sungai dan dia segera minum air di aliran sungai itu untuk menghilangkan hausnya. Tak hanya itu saja, Kancil bahkan terus mengatakan kata-kata yang berisi pujian untuk dirinya sendiri.
Tanpa dia sadari, Kancil ternyata sedang diperhatikan si Siput yang sedang duduk di balik sebuah batu besar di pinggiran sungai. Selain memperhatikan, Siput juga mendengar ucapan Kancil.
"Hei Kancil, asyik sekali kau ku lihat berbicara sendiri, ada apa? Apa kamu sedang bergembira," tanya Siput.
Kancil pun mendengar suara Siput. Setelah mengetahui dari mana suara itu, Kancil lalu menjawab Siput dengan ucapan bernada hinaan.
Betapa terkejutnya Siput dengan jawaban Kancil. Jawaban itu ternyata turut membuat Siput marah dan menantang Kancil untuk berlomba adu lari. Mendengar tantangan itu, Kancil menerimanya karena tahu kalau Siput tak akan mampu mengalahkannya.
Lomba itu akhirnya digelar esok hari. Namun, si Siput sadar bahwa dia tak mampu mengalahkan Kancil sendirian. Dia akhirnya meminta bantuan teman-temannya untuk mengelabui si Kancil di hari perlombaan.
Semua teman si Siput kemudian bersembunyi di jalur lomba yang akan mereka lalui. Mereka harus muncul saat mendengar suara si Kancil dari kejauhan, sehingga Kancil mengira Siput akan selalu berada di depannya.
Saat lomba dimulai, Kancil dengan angkuh langsung berlari dengan sangat cepat. Dia bahkan tertawa sambil berkata,
"Ha-ha-ha-ha-ha selamat tinggal Siput lelet, aku tunggu kau di garis finish nanti."
Setelah berlari meninggalkan Siput cukup jauh, Kancil justru malah terkejut saat melihat di depannya ada Siput yang sedang berjalan dengan santai. Dia mengira itu adalah si Siput yang sudah ia tinggalkan. Padahal, itu adalah teman dari si Siput untuk mengelabui Kancil.
Dengan cepat, Kancil lalu melewati siput tersebut. Kejadian itu terus berulang sampai akhirnya membuat Kancil kewalahan dan kelelahan karena Siput selalu berada beberapa langkah di depan Kancil.
Saat si Kancil hampir sampai di garis finish, Siput ternyata sudah mendekati garis finish lebih dulu. Si Kancil terkejut dan berpikir mengapa Siput itu dapat berada di depannya dan sampai ke garis finish. Padahal, Kancil sudah meninggalkan Siput di belakang.
Si Kancil jelas tidak menerima kekalahannya. Dia bahkan terheran-heran karena masih belum dapat percaya kalau dirinya berhasil dikalahkan oleh hewan yang sering ia ejek sebagai "kecil dan lelet" itu.
"Sudahlah Kancil, tidak usah sedih. Aku tidak ingin hadiah apa-apa dari kamu. Aku hanya ingin kau tahu, janganlah menjadi sombong dengan kelebihan yang kau miliki. Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, jangan suka menghina dan menyepelekan makhluk hidup lainnya," kata Siput kepada Kancil.
Siput lalu pergi menyelam ke dalam sungai dan tinggalah Kanci yang menyesal dan malu karena sudah kalah dalam lomba tersebut. Sejak itu, Kancil berjanji tak akan menganggap remeh makhluk hidup lainnya.