Di Australia, Memukul Anak Bisa Masuk Penjara

Apakah Indonesia harus mencontohnya juga?

22 Mei 2019

Di Australia, Memukul Anak Bisa Masuk Penjara
Freepik/Freephoto

Sebuah peraturan di New South Wales, Australia bisa dibilang jadi buah simalakama. Di mana, ada peraturan yang bisa memenjarakan orangtua jika ketahuan memukul anak.

Dilansir dari News.com.au, tadinya peraturan ini tidak merata, melainkan hanya mengarah ke tindakan kekerasan pada anak. Pukulan ringan tidak masuk dalam kategori hukum. Namun pada bulan Maret kemarin, peraturan ini diperbaharui menjadi setiap orangtua yang memukul anaknya bisa berakhir di meja hijau.

Beberapa instansi sosial yang menangani permasalahan anak dan keluarga mengaku keberatan dengan hal ini. Karena, ada beberapa orangtua yang harus melakukan pukulan ringan ke anaknya untuk sekadar mendisiplinkan mereka.

Bagaimanapun, pihak pemerintahan tidak berencana mengubah rencana peraturan tersebut. Menurut mereka, setiap anak berhak mendapat masa kecil yang bebas dari kekerasan. Pembaruan peraturan ini sedang dalam proses pengesahan. Diharapkan sudah bisa disahkan pada tahun 2020.

Setuju atau tidak, sebenarnya ada efek buruk dari memukul anak. Disusun Popmama.com, inilah efek buruk dari memukul anak:

1. Anak jadi rendah diri

1. Anak jadi rendah diri
Freepik/freephoto

Kekerasan pada anak bisa mempengaruhi mental mereka. Saat mengalami kekerasan, termasuk pukulan, mereka akan merasa dirinya tidak berharga. Dari sanalah timbul perasaan rendah diri.

Anak yang terlalu sering dipukul akan lebih mudah merasa minder dibanding anak yang jarang dipukul.

Ini terjadi karena anak merasa dirinya lemah dan tak berdaya di hadapan orangtuanya, dan berlanjut di hadapan dunia luar.

2. Orangtua dipandang berbeda oleh anak

2. Orangtua dipandang berbeda oleh anak
healthiz.com

Meski banyak orangtua yang sering merasa bersalah setelah memukul atau membentak anak, namun banyak juga yang masih mengulangi perbuatannya. Hasilnya, anak akan memiliki pandangan berbeda pada orangtua.

Mereka akan mengenali sebagian sisi orangtuanya sebagai pemarah dan galak. Walau pada kenyataannya, Mama tak sering memukul atau menghardiknya.

Tapi perasaan anak yang terluka tak bisa sembuh dengan mudahnya. Terlebih, pengalaman buruk itu bisa saja terekam di ingatannya selamanya.

Editors' Picks

3. Membentuk perilaku agresif

3. Membentuk perilaku agresif
Pixabay.com/AnnaKovalchuk

Setelah merasa rendah diri, timbullah perasaan defensif pada anak yang sering dipukul. Mereka akan jadi anak yang agresif dan suka bermain fisik pada teman sebayanya.

Tak bisa disalahkan, karena apa yang mereka lakukan hanyalah pengulangan yang dilakukan orangtua mereka. Jika dibiarkan terus, ini tentu bisa berbahaya, Ma.

4. Emosi yang tak usai

4. Emosi tak usai
kidsinthehouse.com

Saat memukul anak, ada 2 emosi yang tidak selesai yaitu emosi orangtua dan emosi anak. Orangtua yang memukul anak merasa kesal dengan tingkah sang anak. Sedangkan anak yang dipukul orangtua juga merasakan hal yang sama.

Sang anak merasa dendam, sedangkan orangtua merasa kesal karena anak tak bisa dinasihati.

Jika terus berulang, maka emosi akan semakin bertumpuk. Orangtua merasa kecewa pada anak. Di sisi lain, anak merasa dendam dengan perlakuan yang dilakukan orangtuanya.

Pada akhirnya, hubungan anak dan orangtua jadi tidak harmonis. Mereka akan berhenti bercerita pada orangtuanya dan memilih menutup diri.

5. Ia akan melakukannya ke anaknya

5. Ia akan melakukan ke anaknya
Freepik/Asierromero

Keras atau tidak, serius atau tidak, pukulan akan tetap diingat oleh anak. Meski pada dasarnya, pukulan yang dilakukan sangatlah ringan. Namun anak hanya akan peduli pada bagaimana cara orangtua mendisiplinkan mereka.

Padahal, memukul anak untuk berharap agar mereka jadi penurut atau disiplin merupakan hal yang mustahil. Karena saat ego ditabrakkan dengan emosi, maka tidak akan ada hasil yang baik.

Daripada membuat anak berencana melakukan pemukulan ke anak yang akan dimilikinya nanti, lebih baik cari penyelesaian masalah yang lebih positif. Alih-alih memukulnya, cobalah untuk mengajak mereka bicara dari hati ke hati. Cari tahu apa masalah mereka sulit mendengarkan arahan orangtuanya. Dengan kepala dingin dan wibawa penuh sebagai orangtua, jawaban atas tingkah negatif anak akan lebih mudah diketahui.

Meski emosi, orangtua harus tetap menjaga tangan dan lisan dari menyakiti anak. Karena jika anak sudah memiliki ingatan yang buruk terhadap orangtuanya, maka hubungan Mama dan si Kecil bisa berubah dan belum tentu bisa kembali seperti sedia kala.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;