Pernahkah anak pulang ke rumah dengan wajah murung, lalu bercerita bahwa ia bertengkar dengan sahabatnya di sekolah dan Mama atau Papa spontan menjawab, “Ah, itu cuma bercanda. Besok juga baikan lagi”?
Respons seperti itu mungkin terasa wajar, bahkan terkesan menenangkan. Tapi tanpa disadari, kalimat itu bisa menyampaikan pesan yang berbeda di benak anak: bahwa perasaannya tidak penting, dan tidak perlu didengarkan.
Inilah yang dimaksud dengan childhood emotional neglect kondisi dimana orangtua gagal merespons dan memvalidasi kebutuhan emosional anak. Dilansir dari healthline.com, emotional neglect berbeda dengan kekerasan emosional. Dalam banyak kasus, orangtua yang melakukan emotional neglect tetap memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan fisik anak hanya saja dukungan emosionalnya yang kurang kuat atau konsisten.
Dan dampaknya tidak berhenti di masa kecil. Masih dilansir dari healthline.com, anak yang mengalami emotional neglect berisiko mengalami depresi, gangguan stres pascatrauma atau PTSD, hingga kesulitan mengelola diri saat dewasa. Bahkan, pola ini bisa menjadi masalah turunan karena anak yang tidak pernah diajarkan cara mengenal emosinya sendiri bisa tumbuh menjadi orangtua yang juga kesulitan merespons emosi anaknya kelak.
Lantas, apa saja yang bisa terjadi pada anak jika emosinya terus-menerus diabaikan?
Berikut Popmama.com rangkum tujuh dampak yang perlu Mama dan Papa pahami.
