Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Hal yang Terjadi Jika Salah Pilih Daycare, Orangtua Harus Waspada
Pexels/paveldanilyuk
  • Kasus dugaan kekerasan di daycare Yogyakarta jadi pengingat pentingnya memilih tempat penitipan anak yang aman dan mendukung tumbuh kembang si Kecil.
  • Daycare yang kurang tepat bisa menyebabkan keterlambatan bicara, perilaku menyerupai gangguan perkembangan, hingga masalah emosi dan sosial pada anak.
  • Kualitas pengasuhan, stimulasi, serta pemenuhan gizi di daycare berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik, mental, dan kepercayaan diri anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus dugaan kekerasan di sebuah daycare di Yogyakarta belakangan menjadi pengingat penting bagi banyak orangtua tentang betapa krusialnya memilih tempat penitipan anak yang aman dan tepat. Namun, Ma, penting dipahami bahwa kejadian ini bukan berarti menitipkan anak di daycare adalah hal yang menakutkan.

Sebaliknya, kasus tersebut bisa menjadi pelajaran agar orangtua lebih teliti saat memilih daycare untuk si Kecil. Sebab, lingkungan pengasuhan yang kurang tepat, minim stimulasi, atau bahkan tidak aman dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, terutama pada usia emas perkembangan.

Dilansir dari tempo.co, hasil laporan evaluasi tumbuh kembang anak pasca kasus daycare di Yogyakarta, menemukan sejumlah dampak dari korban yang berkaitan dengan trauma, stimulasi yang tidak optimal, hingga kebutuhan emosional anak yang tidak terpenuhi.

Berikut Popmama.com rangkum 5 hal yang bisa terjadi jika anak berada di daycare yang kurang sesuai 

1. Risiko keterlambatan bicara (speech delay)

Pexels/paveldanilyuk

Salah satu dampak yang bisa muncul adalah keterlambatan bicara atau speech delay. Hal ini bisa terjadi jika anak kurang mendapatkan interaksi dua arah, stimulasi bahasa, atau respons komunikasi yang cukup selama berada di daycare.

Pada usia dini, anak membutuhkan banyak percakapan, ajakan bermain, membaca buku, hingga respons terhadap ocehan mereka. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara konsisten, perkembangan bahasa anak bisa terhambat.

Karena itu, penting memilih daycare yang aktif mengajak anak berbicara, bernyanyi, bermain edukatif, dan memberi stimulasi verbal sesuai usia.

2. Muncul perilaku yang menyerupai gangguan perkembangan

Pexels/paveldanilyuk

Lingkungan pengasuhan yang tidak responsif atau penuh tekanan juga bisa membuat anak menunjukkan perilaku yang menyerupai gangguan perkembangan tertentu, misalnya kesulitan fokus, minim kontak sosial, atau perilaku repetitif.

Namun, penting dipahami bahwa kondisi ini tidak selalu berarti anak mengalami gangguan perkembangan tertentu secara permanen. Dalam beberapa kasus, respons tersebut dapat dipicu oleh stres, trauma, atau lingkungan yang kurang mendukung.

Karena itu, observasi lebih lanjut bersama dokter atau psikolog anak tetap diperlukan jika orangtua mulai melihat perubahan perilaku yang signifikan.

3. Anak menjadi terlalu aktif atau justru sangat pasif

Pexels/kseniachernaya

Daycare idealnya menjadi tempat anak bergerak, bereksplorasi, dan bermain aktif sesuai tahap usianya.

Jika anak kurang mendapat stimulasi gerak atau terlalu banyak dibatasi, dampaknya bisa terlihat pada perilaku sehari-hari. Ada anak yang menjadi sangat aktif dan sulit tenang, tetapi ada juga yang justru tampak pasif, kurang eksploratif, atau kehilangan semangat bermain.

Pada usia 1–3 tahun, aktivitas fisik merupakan bagian penting dari perkembangan motorik, sensorik, hingga regulasi emosi anak.

4. Risiko masalah gizi dan pola makan yang kurang optimal

Pexels/paveldanilyuk

Kualitas pengasuhan di daycare juga berpengaruh pada pola makan anak. Jika jadwal makan tidak diperhatikan, kualitas makanan kurang baik, atau kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi, tumbuh kembang si Kecil bisa terdampak.

Dalam jangka panjang, anak bisa mengalami berat badan kurang, sulit naik berat badan, atau mengalami gangguan pola makan.

Karena itu, orangtua sebaiknya mencari tahu menu harian daycare, jadwal makan, siapa yang mendampingi anak makan, hingga bagaimana pengasuh menangani anak yang picky eater.

5. Perkembangan emosi dan sosial anak bisa terganggu

Pexels/mikhailnilov

Salah pilih daycare juga dapat memengaruhi perkembangan emosional anak. Anak usia dini sangat membutuhkan rasa aman, kelekatan (attachment), dan respons emosional yang konsisten dari pengasuh.

Jika anak merasa takut, tidak nyaman, atau kurang mendapatkan perhatian emosional, mereka bisa menjadi lebih mudah cemas, rewel, sulit percaya pada orang lain, atau justru menarik diri.

Dalam beberapa kasus, anak juga dapat mengalami perubahan perilaku seperti gangguan tidur, mimpi buruk, tantrum berlebihan, hingga menjadi lebih bergantung pada orangtua.

Selain itu, dampak lingkungan pengasuhan yang buruk juga bisa memengaruhi kemampuan kognitif dan sosial anak, termasuk konsentrasi, memori kerja, kemampuan belajar, serta cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Nah, Ma, memilih daycare memang tidak bisa asal nyaman atau dekat rumah saja. Orangtua juga perlu memperhatikan kualitas pengasuh, rasio caregiver dengan anak, sistem keamanan, pola komunikasi, hingga bagaimana stimulasi tumbuh kembang diberikan setiap hari. Dengan daycare yang tepat, si Kecil justru bisa tumbuh lebih mandiri, percaya diri, dan berkembang optimal, Ma.

Editorial Team