Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Hal yang Tidak Boleh Orangtua Bicarakan di Depan Anak, Bisa Ganggu Mentalnya
Pexels/Monstera Production
  • Percakapan orangtua di rumah membentuk persepsi, rasa aman, kepercayaan diri, dan cara anak berinteraksi; ucapan penuh ketegangan dapat mengganggu kestabilan emosional mereka.
  • Orangtua disarankan tidak membahas keburukan pasangan, penampilan atau kekurangan orang lain, perbandingan anak, pengorbanan pengasuhan, serta rasa tidak percaya diri di depan anak.
  • Masalah keuangan, pekerjaan, trauma pribadi, dan isu kontroversial juga perlu dibatasi karena dapat memicu kecemasan, ketakutan, rasa bersalah, stres, atau kebingungan pada anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tentunya orangtua ingin memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang anaknya. Namun, tanpa disadari, percakapan sehari-hari yang terjadi saat berkumpul bersama di rumah ternyata malah menjadi bumerang bagi kesehatan mental dan kestabilan emosional anak.

Rumah yang seharusnya menjadi ruang paling aman justru bisa berubah menjadi lingkungan yang penuh ketegangan akibat ucapan orang dewasa di depan anak.

Mama, anak-anak adalah peniru ulung sekaligus pengamat yang sangat peka.

Apa yang mereka dengar dari orangtua akan membentuk persepsi, rasa percaya diri, hingga cara berinteraksi dengan dunia luar. Oleh karena itu, penting bagi Papa dan Mama untuk mengetahui batasan dalam berkomunikasi di depan anak.

Lantas hal apa saja yang tidak boleh orangtua bicarakan di depan anak? Berikut sudah Popmama.com rangkum selengkapnya.

1. Keburukan satu sama lain

Pexels/Afif Ramdhasuma

Pertengkaran atau perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam kehidupan rumah tangga.

Beragam masalah bisa menjadi pemicu argumen seperti, masalah keuangan, hingga pembagian peran. Namun, ada satu batasan tegas yang tidak boleh dilanggar, Ma.

Jangan pernah Mama dan Papa membicarakan keburukan pasangan di depan anak.

Ma, membuka keburukan pasangan di hadapan anak akan berdampak langsung pada rasa aman emosional mereka di rumah.

Seharusnya rumah menjadi tempat paling aman dan nyaman, bukan lingkungan yang penuh ketegangan.

2. Membicarakan penampilan orang lain

Pexels/Ron Lach

Ma, menilai penampilan orang lain adalah pembahasan yang umum terjadi. Kadang tidak sadar, kita mengomentari warna pakaian, model hijab atau motif tas orang lain yang kita lihat.

Tapi, mengkritik penampilan orang lain adalah hal yang sebaiknya dihindari untuk dilakukan depan anak. Selain, karena dapat mengajari anak untuk menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya, efek dari pembicaraan ini bisa membuat anak bingung tentang konsep bagus dan jelek tentang suatu hal.

Apa lagi jika kritik ditujukan pada anak, ini akan merusak rasa percaya diri saat mendengarnya.

Anak akan berpikir bahwa Papa dan Mama yang paling dipanuti saja mengkritik penampilan seseorang yang mungkin tidak dikenal, apalagi kalau mengenal orang tersebut.

Sebagian besar anak sangat rentan terpengaruh oleh perkataan orangtua. Untuk itu, hindari membahas hal negatif ini di depan anak. Bahayanya lagi, bentuk kritik yang orangtua lakukan juga bisa di copy oleh anak dan ia utarakan untuk orang lain.

3. Membandingkan anak

Pexels/Pavel Danilyuk

Mama pasti tahu bahwa anak terkadang bisa melakukan kesalahan.

Meskipun mengecewakan, orangtua tidak boleh membicarakan kehebatan anak orang lain di hadapan anak mereka sendiri.

Tindakan membanding-bandingkan ini tidak hanya dapat merusak ikatan antara orangtua dan anak, tetapi juga membuat anak semakin merasa tidak aman, Ma.

Belum lagi harga dirinya akan menurunkan drastis, saat bertemu dengan anak yang menjadi pembandingnya.

Jika tujuan sebenarnya adalah mendorong perubahan positif pada anak, maka menormalisasi kesalahan adalah langkah awal yang tepat, Ma.

Dengan Mama menerima kesalahan anak serta mengupayakan agar kesalahan tidak terulang malah akan membuat ia semakin jujur dan terbuka kepada Mama.

4. Masalah keuangan

Pexels/Mikhail Nilov

Masalah keuangan memang membuat pusing. Tapi membicarakan masalah keuangan di depan anak sebaiknya dihindari, Ma. Hal ini hanya menimbulkan rasa cemas dan ketidakamanan terhadap stabilitas keluarga.

Melansir dari berbagai sumber, dikatakan bahwa stres dapat menular dan memengaruhi emosi orang di sekitarnya. Hal ini juga ditemukan dalam hubungan orangtua dan anak.

Hubungan ini berkaitan dengan gejala depresi dan gaya pengasuhan Mama dan Papa.

Ketika orangtua menunjukkan stres atau gejala depresi akibat beban keuangan secara terbuka Anak cenderung ikut merasa khawatir sehingga dapat memicu perubahan perilaku ke arah yang buruk.

5. Membahas masalah pekerjaan yang membuat Mama atau Papa merasa frustasi

Pexels/Nicola Barts

Stres akibat pekerjaan memang sulit untuk disimpan. Namun, membagikan rasa stres pekerjaan di depan anak sebaiknya dihindari. Apa yang bisa anak pahami hanyalah kekhawatiran yang belum mampu mereka kelola.

Selain itu, dapat membuat mereka lebih rentan mengalami stres dan berdampak buruk pada kesehatan mental.

Untuk mencegah stres pekerjaan terbawa ke rumah, Mama dan Papa bisa mencari tempat berbagi di komunitas tertentu. Tentunya yang aman dan bebas penghakiman.

Jika beban emosional terasa terlalu berat, Papa dan Mama dapat melakukan konsultasi dengan tenaga profesional.

6. Membahas kekurangan orang lain

Pexels/Anastasiya Gepp

Mungkin Mama pernah bergosip setidaknya sekali, baik membicarakan orang asing dan menganggapnya sebagai hiburan semata.

Meski demikian, Mama harus buat batasan tegas antara apa yang dibicarakan dengan teman dan apa yang diucapkan di depan anak.

Membicarakan keburukan orang lain secara gamblang adalah hal yang tidak boleh dilakukan orangtua di hadapan anak.

Sayangnya, secara tidak sadar dan mungkin tidak sengaja, Mama melontarkan sindiran saat melihat sesuatu yang dianggap aneh di tempat umum.

Perilaku ini tidak baik ya, karena dapat menanamkan prasangka pada anak terhadap orang asing yang mungkin hanya sedang memiliki hari yang buruk.

Pada akhirnya, anak-anak yang terbiasa mendengar gosip akan tumbuh menjadi pribadi yang gemar membicarakan keburukan orang lain. Kebiasaan ini berpotensi merusak hubungan pertemanan anak di masa depan, karena orang-orang di sekitar mereka perlahan akan menjauh.

7. Membicarakan trauma pribadi

Pexels/https://kaboompics.com/

Setiap orang tentunya mengalami peristiwa traumatis dalam hidupnya. Baik yang melibatkan keluarga maupun hubungan masa lalu. Trauma merupakan siklus mendalam yang dapat membentuk kepribadian seseorang, Ma.

Untuk itu, orangtua tidak boleh membicarakan trauma masa lalu di hadapan anak-anak. Mungkin Mama pernah melakukannya sebab sedang memberikan pelajaran hidup dengan membagikan pengalaman lalu. Namun anak-anak pada kenyataannya belum siap secara emosional untuk mengolahnya.

Paparan terhadap cerita trauma tetap memiliki dampak jangka panjang yang signifikan. Jurnal Stress and Health menyebutkan bahwa mendengarkan orang lain menceritakan trauma masa, lalu termasuk dalam bentuk paparan tidak langsung yang dapat menyebabkan penderitaan emosional.

Dampak ini terjadi karena cerita trauma dapat merusak persepsi anak mengenai dunia sehingga menumbuhkan rasa takut dan tidak aman dalam diri mereka.

8. Membicarakan rasa tidak percaya diri

Pexels/Timur Weber

Pernahkah Mama membicarakan rasa tidak percaya diri di depan anak?

Sebaiknya dihindari ya, Ma. Karena pembahasan ini dapat menurunkan rasa percaya diri anak dan menggoyahkan rasa amannya dalam keluarga.

Setiap orang memiliki insecurity yang sedang diupayakan untuk diatasi. Namun, Mama dan Papa sebaiknya tidak membahas pikiran negatif tentang diri sendiri di hadapan anak.

Kehangatan, pengawasan yang baik, serta kehadiran figur Papa secara aktif dapat meningkatkan rasa percaya diri anak.

Oleh karena itu, perlunya menjaga percakapan di rumah tetap positif dan menghindari komentar negatif di depan anak. Hal ini baik untuk membantu membesarkan anak yang percaya diri dan tangguh.

9. Pengorbanan yang dilakukan demi anak

Pexels/Yan Krukau

Teruntuk Mama dan Papa, jangan membicarakan pengorbanan yang telah dilakukan demi anak, dihadapannnya. Hal ini dapat menimbulkan rasa bersalah dan tekanan hingga membuat si Kecil merasa menjadi beban.

Mungkin banyak orang tumbuh dengan mendengar ucapan tentang besarnya pengorbanan orangtua demi masa depan anak, seperti, “Mama dan Papa sudah mengorbankan segalanya supaya kamu bisa hidup enak.”

Saat dewasa, mungkin si Kecil akan mengingat ucapan tersebut dengan rasa kesal, Ma. Karena menganggap perkataan Mama itu terkesan menuntut.

Meskipun dimaksudkan untuk memberi pemahaman, kalimat semacam ini justru dapat membuat anak mama merasa tidak didengar, frustasi, dan bersalah.

Oleh karena itu, Mama sebaiknya tidak mengungkit pengorbanan pengasuhan di hadapan anak karena jika dilakukan terus-menerus, hal tersebut dapat memicu masalah emosional dan menciptakan jarak dalam hubungan keluarga.

10. Membicarakan topik kontroversial

Pexels/Kabiur Rahman Riyad

Mama, membicarakan topik kontroversial seperti politik di depan anak sebaiknya dihindari, ya. Hali ini dapat membingungkan anak, mengingat ia belum mampu memahami isu-isu rumit.

Mungkin di rumah Mama dan Papa meluapkan pandangan tentang kebijakan politik dengan nada kesal dan raut wajah frustasi. Meskipun dianggap sebagai bentuk edukasi atau kepedulian, hal ini dapat berdampak buruk bagi anak.

Karena anak cenderung mengulangi apa yang didengar dari orangtua kepada teman. Topik kontroversial ini berpotensi memicu ketegangan saat bermain bersama teman-temannya.

Oleh karena itu, Mama harus memberi anak ruang untuk tumbuh tanpa terbebani perdebatan isu kontroversial. Supaya si Anak dapat menikmati masa kecil dengan lebih tenang.

Itulah 10 hal yang tidak boleh orangtua bicarakan di depan anak. Menjaga lisan dan membatasi topik pembicaraan di depan anak bukan berarti memalsukan kenyataan, melainkan bentuk perlindungan agar anak dapat tumbuh dalam lingkungan emosional yang sehat, aman, dan stabil. Semoga artikel ini bermanfaat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article