TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

7 Cara Mengatasi Perilaku Buruk Anak Sebelum Menjadi Kebiasaan

Jangan dibiarkan, perilaku anak mungkin bisa berkembang jadi kebiasaan yang merugikannya kelak

14 Februari 2022

7 Cara Mengatasi Perilaku Buruk Anak Sebelum Menjadi Kebiasaan
Freepik/Racool-studio

Ada banyak lapisan dalam kepribadian anak. Meskipun si Kecil menunjukkan perilaku yang polos dan jujur, ia juga dapat mengembangkan sifat-sifat yang mungkin tidak menyenangkan bagi orangtua.

Kelakuan buruk seorang anak seringkali merupakan akibat dari tidak mendengarkan orangtua dengan baik atau dimanjakan secara berlebihan. Sebagai orangtua, Mama Papa bertanggung jawab untuk membuat anak sadar akan tindakannya dan membuatnya lebih bertanggung jawab.

Jika balita berada di ambang masalah perilaku seperti agresi atau membantah, penting untuk segera mengatasi hal ini agar tidak berkembang menjadi kebiasaan buruk yang mungkin bisa merugikan di masa depannya.

Berikut Popmama.com telah merangkum 7 cara mengatasi perilaku buruk anak sebelum jadi kebiasaan. Yuk simak, Ma!

1. Tetapkan aturan dasar sejak dini

1. Tetapkan aturan dasar sejak dini
Freepik/Racool-studio

Saat anak mulai mengembangkan keterampilan bahasa dan kognitif, mulailah menetapkan aturan dasar. Jangan menunggu si Kecil sampai tumbuh remaja apalagi dewasa untuk mentetapkan aturan.

Sebaliknya perkenalkan anak pada nilai-nilai yang baik, rutinitas yang tepat, dan keyakinan positif sejak dini. Jika disebutkan kebiasaan buruk bisa tetap bersama anak hingga ia dewasa, begitu pula kebiasaan baik yang akan selalu tertanam dalam dirinya sampai kapan pun. 

Menetapkan aturan dasar sejak usia dini, akan mencegah anak mengembangkan perilaku yang tidak pantas dan tidak pengertian pada orang lain seiring bertambahnya usia..

2. Ajari anak perbedaan dari perilaku yang bisa diterima dan yang tidak

2. Ajari anak perbedaan dari perilaku bisa diterima tidak
Freepik/Katemangostar

Jika sulit bagi orangtua menentukan mana perilaku yang benar dan salah, cobalah menggantinya dengan perilaku apa yang bisa diterima atau tidak secara sosial. Mengingat bahwa anak belum mengalami banyak hal, pengetahuan Mama Papa tentang dunia dapat memberikan keajaiban baginya.

Bantu si Kecil membuat pilihan yang tepat dalam hidup. Alih-alih memarahinya atas kesalahan yang dibuat, jelaskan pada anak perbedaan dua perilaku ini.

Misalnya ketika anak memukul atau merebut mainan anak lain, jelaskan bahwa itu adalah perilaku yang tidak bisa diterima, karena ia membuat anak tersebut sedih. Sehingga ia perlu meminta maaf dan bertanggung jawab.

Sebaliknya, ketika anak menunjukkan perilaku yang bisa diterima seperti berbagi, berikan pujian.

Editors' Picks

3. Jadikan komunikasi sebagai proses dua arah

3. Jadikan komunikasi sebagai proses dua arah
Freepik/prostooleh

Jika Mama tergoda untuk selalu menasihati anak tanpa mengizinkannya berbicara, cobalah untuk membuat diri agar mampu mendengarkan anak.

Dalam hal mengasuh anak, komunikasi harus menjadi proses dua arah. Sama seperti bagaimana Mama mengharapkan anak untuk mendengarkan orangtuanya, Mama juga harus belajar bagaimana memberikan telinga ketika anak berbicara.

Jadikan kekhawatiran yang anak rasakan sebagai kekhawatiran Mama dan bantu anak menemukan solusi untuk masalahnya. Dengan cara ini, balita tak hanya akan menaruh kepercayaan pada Mama, tetapi juga akan percaya pada keputusan Mama.

4. Jangan selalu memarahi anak, berilah penghargaan juga

4. Jangan selalu memarahi anak, berilah penghargaan juga
Freepik

Kritik yang produktif itu memang bagus untuk membangun kepribadian positif pada seorang anak. Tetapi jika Mama terus menghitung kekurangan anak dan membuatnya merasa tidak enak, ia akan menahan diri untuk terbuka kepada Mama.

Tak menutup kemungkinan akan menjadi pemberontak dan tidak akan mendengarkan apa pun yang dikatakan.

Jika Mama ingin menghindari keadaan seperti itu, jelaskan pada anak mengapa perbuatannya salah secara lembut daripada memarahinya atas kesalahan yang dibuat.

Selain itu, ketika anak menunjukkan perbaikan atas perilaku buruk, hargailah upaya ini. Mama bisa memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi dan buat anak merasa istimewa. Ini juga mengajarkan anak bagaimana respon orang lain yang positif kepadanya, jika ia melakukan perilaku positif.

5. Hentikan perilaku buruk sejak awal

5. Hentikan perilaku buruk sejak awal
Freepik/Artfolio

Jika si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda agresi atau amarah, jangan menunggu sampai perilaku ini memburuk, dengan harapan bahwa situasi ini jarang terjadi atau akan hilang dengan sendirinya.

Pastikan Mama mengambil tindakan ketika anak pertama kali berperilaku buruk. Dan jika berlanjut, tindak lanjuti dengan konsekuensi. Biarkan anak tahu bahwa ia tidak akan lolos dari perilaku buruk.

6. Tanamkan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi perilaku buruk anak

6. Tanamkan keterampilan diperlukan mengatasi perilaku buruk anak
Freepik/Senivpetro

Terkadang perilaku buruk berasal dari kurangnya keterampilan seorang anak. Balita yang kurang memiliki keterampilan sosial dapat memukul anak lain karena mungkin sebenarnya ia ingin bermain dengan mainan.

Sama seperti seorang anak yang tidak memiliki keterampilan memecahkan masalah, ia mungkin belum memahami bagaimana membersihkan mainannya, karena ia tidak yakin apa yang harus dilakukan jika mainannya tidak muat di dalam kotak mainan.

Ketika anak berperilaku tidak baik, ajari anak keterampilan yang dibutuhkan. Misalnya, menanamkan keterampilan sosial dengan cara bermain permainan peran.

Beri tahu anak, akan lebih menyenangkan untuk mengatakan "tolong" saat ingin meminjam mainan, dan juga "terima kasih" saat diberikan. Mama juga bisa mengajarkan anak keterampilan memecahkan masalah dengan mencari solusi bersama-sama.

7. Memberikan teladan pada anak tentang bagaimana berperilaku yang baik

7. Memberikan teladan anak tentang bagaimana berperilaku baik
Freepik

Enam tips di atas akan lebih efektif jika orangtua dapat memberikan contoh bagaimana cara berperilaku yang baik pada anak.

Jika Mama berbohong, menunjukkan agresi, memarahi orang, memandang rendah orang lain, anak akan melakukan hal yang sama. Agresi bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan berkembang karena faktor-faktor di sekitarnya

Nah itulah beberapa cara mengatasi perilaku buruk anak sebelum jadi kebiasaan. Memperbaiki perilaku buruk anak tidak bisa dilakukan dalam satu kedipan mata. Melainkan membutuhkan proses yang mungkin akan panjang.

Sehingga orangtua tidak boleh jangan menyerah untuk selalu membimbing dan mengingatkan anak, tujuannya agar sikap-sikap positif ini tertanam dalam diri anak sampai ia dewasa.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Mama CerdAZ

Ikon Mama CerdAZ

Panduan kehamilan mingguan untuk Mama/Ibu, lengkap dengan artikel dan perhitungan perencanaan persalinan

Cari tahu yuk