Penyebab dan Cara Mengatasi Anak yang Sering Kentut

Bisa disebabkan akibat salah mengonsumsi makanan yang tidak dapat dicerna

25 September 2020

Penyebab Cara Mengatasi Anak Sering Kentut
Freepik

Semua orang dari kalangan usia, anak-anak maupun orang dewasa pasti pernah kentut. Kentut memang bukan sembarangan angin, kentut disebabkan oleh pengeluaran gas yang berlebihan dari dalam usus melalui anus.

Dan umumnya dengan Buang Air Besar (BAB). Banyak faktor yang menentukan seberapa sering maupun volume kentut anak. Di antaranya pola makan dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti jenis antibiotik.

Memang belum ada penelitian normalnya anak kentut dalam sehari, namun buang angin sekitar 14 kali dalam sehari masih dianggap normal. Sedangkan volume angin yang di produksi setiap individu dalam kondisi normal bervariasi antara 400­1.600 ml per hari.

Namun bagaimana jika anak dalam sehari sering kentut? Berikut ini Popmama.com akan memberikan informasi selengkapnya di bawah ini, yuk simak Ma!

1. Kentut disebabkan oleh proses fermentasi dalam tubuh yang membentuk sejumlah gas

1. Kentut disebabkan oleh proses fermentasi dalam tubuh membentuk sejumlah gas
Freepik/Kwanchaiudom

Proses pencernaan dan penyerapan makanan terjadi dalam usus halus. Makanan yang tidak dapat dicerna dan diserap tubuh akan dibuang ke usus besar. Sisa makanan yang ada di dalam usus besar ini merupakan makanan bagi bakteri yang ada di dalam usus.

Dalam usus besar juga terjadi proses fermentasi yang membentuk sejumlah gas. Mengacu pada proses ini, maka jenis makanan yang dikonsumsi juga menentukan produksi gas dalam usus anak.

Semakin banyak anak mengonsumsi jenis makanan yang tidak dapat dicerna, maka semakin meningkat pula proses fermentasi oleh bakteri. Akibatnya, produksi gas pun mengalami peningkatan. Jenis gas yang diproduksi dalam usus antara lain karbondioksida (CO2), hidrogen (H2), dan metan.

Selain itu ada pula sumber gas dalam usus anak yang berasal dari udara luar, seperti nitrogen (N2) dan oksigen (O2). Udara dari luar ini dapat ikut masuk ke dalam tubuh akibat aktivitas makan yang tidak benar, seperti kebiasaan mengunyah permen karet, dan sebagainya.

Editors' Picks

2. Aroma tak sedap disebabkan oleh pembusukan metabolisme bakteri dalam usus besar

2. Aroma tak sedap disebabkan oleh pembusukan metabolisme bakteri dalam usus besar
Freepik/Anchaleeyates

Pada dasarnya tidak semua kentut mengeluarkan bau tidak sedap. Namun, angin yang satu ini bisa menjadi bau akibat proses pembusukan oleh metabolisme bakteri dalam usus besar.

Bau tak sedap juga bisa timbul berupa bau asam, yang diakibatkan jika anak mengonsumsi makanan yang tidak sesuai kemampuan organ pencernaannya. Selain itu, makanan berbau tajam seperti, petai, durian, nangka, dan cempedak, juga dapat menyebabkan kentut anak berbau.

Kentut yang tidak berbau, umumnya terdiri dari 5 komponen gas, yaitu gas nitrogen, oksigen, hidrogen, metan, dan karbondioksida. Sedagkan, kentut yang berbau umumnya merupakan campuran gas yang berbau seperti skatol, indol, hidrogen sulfida, dan asam lemak rantai pendek.

Walaupun gas ini hanya dalam jumlah kecil, namun mampu menimbulkan aroma yang menusuk hidung.

3. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi lebih sering kentut

3. Beberapa faktor dapat menyebabkan anak menjadi lebih sering kentut
Freepik

Jika anak sering kentut dalam sehari, beberapa kemungkinan penyebabnya adalah sebagai berikut:

Mengalami intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa merupakan kondisi di mana tubuh tidak dapat mencerna laktosa yang terkandung dalam susu, yang mengakibatkan produuksi gas menjadi berlebihan. Hal ini biasanya disertai dengan keluhan sakit perut. Solusinya, hindari anak dari makanan atau minuman yang mengandung susu/laktosa.

Kesalahan dalam pemberian makan

Anak yang terlalu banyak mengonsumsi makanan, tidak selalu dapat dicerna secara tuntas oleh usus. Akibatnyam banyak sisa makanan yang dihasilkan seperti selulosa atau serat, stakiosa, dan rafinosa.

Selulosa merupakan dinding sel tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada bahan makanan seperti sayuran, sedangkan stakiosa dan rafiosa banyak terdapat pada kacang merah. Semakin banyak makanan yang tidak dapat dicerna usus, maka semakin banyak juga gas yang diproduksi dalam tubuh anak.

Menangis berlebihan

Saat anak menangis, ada kemungkinan udara ikut masuk melalui mulut. Sehingga setelah anak menangis berlebihan, anak akan lebih sering kentut.

Pemberian antiobiotik yang tidak tepat atau berlebihan

Akibat pemberian antibiotik yang tidak tepat atau berlebihan, flora normal usus akan mati yang membuat pertumbuhan kuman patogen dan fermentasi makanan oleh bakteri menjadi berlebihan.

Bakteri yang tubuh berlebihan dalam usus

Hal ini kerap terjadi pada kasus-kasus diare kronik yang disebabkan oleh parasit jenis tertentu.

Pengeluaran gas dari darah

Pengeluaran gas dari darah dikenal dengan istilah difusi. Selama proses difusi ini gas tertentu seperti CO2 akan dikeluarkan ke lambung, N2 ke usus halus dan usus besar, O2 ke usus besar. Adanya tambahan gas dari peredahan darah ke usus ini dapat meningkatkan jumlah gas dalam usus yang dikeluarkan sebagai kentut.

4. Cara mengurangi intensitas anak yang kentut berlebihan

4. Cara mengurangi intensitas anak kentut berlebihan
Freepik/jcomp

Jika ingin mengurangi intensitas kentut anak yang berlebihan, ada beberapa cara yang dapat Mama lakukan. Pertama, cari tahu dan kenali penyebabnya. Kedua, dengan menghindari penyebab tersebut.

Bila disebabkan pola makan yang salah, seperti terlalu banyak mengonsumsi serat, Mama perlu mengurangi jumlah serat yang dikonsumsi anak. Bila disebabkan intoleransi laktosa, maka anak perlu menghindari susu dan produk olahannya.

Akan tetapi jika penyebabnya sudah dihindari dan intensitas kentut pasih berlebihan, maka Mama perlu membawa anak untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter nantinya akan meresepkan obat yang dapat menyerap kelebihan gas di usus. Tentunya, pemberian obat harus mengikuti anjuran dokter ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.