Selective Mutism pada Anak: Penyebab, Gejala dan Cara Atasi

Bukan hanya merasa malu, mutisme selektif bisa menjadi gangguan kecemasan pada anak

11 September 2021

Selective Mutism Anak Penyebab, Gejala Cara Atasi
Freepik/Racool-studio

Hampir setiap anak pernah merasa cemas dan takut ketika berada di tempat yang asing baginya. Namun anak dengan selective mutism atau mutisme selektif, memiliki kecemasan yang lebih lama.

Ini dapat menghalangi anak untuk belajar, berteman, dan aspek penting lainnya dalam kehidupan dan perkembangan sehari-hari, karena ia tak bisa berbicara di tempat-tempat tertentu, dengan orang-orang tertentu atau selama kegiatan sosial tertentu.

Selective mutism atau mutisme selektif merupakan gangguan kecemasan yang perlu orangtua kenali dan tangani penyebabnya.

Berikut Popmama.com akan membahas beberapa informasi seputar mutisme selektif yang perlu Mama ketahui!

1. Mutisme selektif adalah gangguan kecemasan di mana anak tidak dapat berbicara dalam kondisi tertentu

1. Mutisme selektif adalah gangguan kecemasan mana anak tidak dapat berbicara dalam kondisi tertentu
Freepik

Dilansir dari NHS, Selective Mutism atau mutisme selektif adalah gangguan kecemasan yang parah di mana anak tak dapat berbicara dalam situasi sosial tertentu, seperti dengan teman sekelas di sekolah atau kerabat yang jarang ditemui.

Kondisi ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan jika tidak diobati, dapat bertahan hingga dewasa.

Seorang anak dengan mutisme selektif bukan menolak atau memilih untuk tidak berbicara pada waktu-waktu tertentu, namun ia benar-benar tidak dapat berbicara.

Hal ini disebabkan ketika anak merasa panik, seperti demam panggung yang parah.

Mutisme selektif dapat memengaruhi sekitar 1 dari 140 anak kecil. Ini lebih sering terjadi pada anak perempuan dan anak-anak yang sedang belajar bahasa kedua, seperti mereka yang baru saja bermigrasi dari negara kelahiran mereka.

2. Tanda dan gejala mutisme selektif pada anak berdasarkan perubahan perilaku dan fisik

2. Tanda gejala mutisme selektif anak berdasarkan perubahan perilaku fisik
Freepik/Karlyukav

Dilansir dari Raising Children, orangtua mungkin pertama kali melihat tanda-tanda mutisme selektif ketika anak mulai masuk prasekolah atau sekolah, yaitu pada usia 3-6 tahun.

Mama mungkin memerhatikan perilaku atau tanda-tanda fisik, atau anak mungkin memberi tahu Mama tentang tanda-tanda ini.

Tanda-tanda berdasarkan perubahan perilaku:

Jika anak memiliki mutisme selektif, Mama mungkin memerhatikan perilaku ini padanya:

  • Tidak dapat berbicara atau merespons ucapan orang lain yang bukan keluarga inti, ini termasuk kakek-nenek, pengasuh, guru, dan teman sekelas
  • Tidak dapat berbicara dengan orangtua di tempat ramai, yang mungkin ingin melihat atau mendengar anak berbicara
  • Anak memalingkan wajah ketika berpikir orang lain melihat atau berbicara kepadanya
  • Merendahkan suara atau berbisik, menggunakan lebih sedikit kata, atau melihat orangtua ketika ia perlu menjawab pertanyaan orang lain
  • Merasa sulit untuk bergabung dalam bermain atau kegiatan dengan anak-anak lain dan berteman
  • Menghindari melakukan hal-hal yang membuat orang lain fokus kepadanya, misalnya, difoto, memberikan sesuatu kepada guru, atau berolahraga di depan orang
  • Merasa sulit untuk meminta bantuan, misalnya, memberi tahu orang lain bahwa ia terluka atau meminta izin ke guru untuk pergi ke toilet
  • Tampak terganggu atau kesulitan berpikir jernih, sulit fokus atau berkonsentrasi.

Tanda-tanda berdasarkan perubahan fisik:

Jika si Kecil memiliki mutisme selektif, Mama mungkin memperhatikan beberapa tanda fisik ketika orang lain menunggu anak untuk berbicara. Misalnya, anak mungkin:

  • Terdiam "membeku"
  • Tampak gelisah
  • Terlihat tegang
  • Gemetar dan wajah merona
  • Mengatakan jantungnya yang berdebar kencang, tangan yang lembab, atau perut yang sakit.

Jika anak cukup besar, ia mungkin memberi tahu Mama mengapa ia merasa cemas. Misalnya, ketika ia tidak tahu harus berkata apa atau khawatir melakukan kesalahan.

Anak mungkin berpikir suaranya akan terdengar lucu, atau berpikir negatif tentang bagaimana orang lain melihatnya.

Seringkali anak-anak tidak tahu mengapa mereka tidak berbicara.

Namun, umum bagi anak-anak dengan mutisme selektif untuk memiliki gangguan kecemasan lain seperti kecemasan sosial, kecemasan perpisahan, atau kecemasan umum.

Editors' Picks

3. Penyebab mutisme selektif dianggap sebagai ketakutan (fobia) berbicara

3. Penyebab mutisme selektif dianggap sebagai ketakutan (fobia) berbicara
Freepik/wayhomestudio

Dilansir dari NHS, para ahli menganggap mutisme selektif sebagai ketakutan (fobia) berbicara dengan orang-orang tertentu.

Penyebabnya tidak selalu jelas, tetapi diketahui terkait dengan kecemasan. Anak biasanya akan memiliki kecenderungan untuk cemas dan mengalami kesulitan dalam menghadapi kejadian sehari-hari dengan tenang.

Misalnya, banyak anak terlalu tertekan untuk berbicara ketika terpisah dari orangtua mereka, dan mengirimkan sinyal kecemasan ini kepada orang dewasa lain yang mencoba menenangkannya.

Jika si Kecil ternyata memiliki gangguan bicara dan bahasa atau masalah pendengaran, itu bisa membuatnya lebih frustasi untuk berbicara.

Penyebab lainnya bisa disebabkan oleh kesulitan memproses informasi sensorik, seperti suara keras dan desakan dari keramaian.

Kondisi ini lebih dikenal sebagai disfungsi integrasi sensorik. Ini membuat anak menjadi tertutup, dan tak mampu berbicara dalam kondisi lingkungan yang sibuk.

Namun jika anak mengalami gejala stres pasca-trauma, ini bisa ditunjukkan dengan tiba-tiba anak berhenti berbicara pada situasi di mana ia sebelumnya tidak mengalami kesulitan.

Kondisi ini dapat menyebabkan mutisme selektif dan kecemasan jika pemicunya tidak ditangani.

Hingga saat ini belum ditemukannya hubungan antara mutisme selektif dan autisme, meskipun seorang anak mungkin memiliki keduanya.

Selain itu juga tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan mutisme selektif lebih mungkin mengalami pelecehan, penelantaran atau trauma daripada anak lainnya.

4. Proses diagnosa dalam memastikan mutisme selektif pada anak

4. Proses diagnosa dalam memastikan mutisme selektif anak
Freepik/Pressfoto
Dok. Jovee

Seorang anak dapat berhasil mengatasi mutisme selektif jika kondisi ini didiagnosis pada usia dini dan dikelola dengan tepat.

Penting bagi anak dengan mutisme selektif untuk dikenali sejak dini oleh keluarga dan sekolah, sehingga mereka dapat bekerja sama untuk mengurangi kecemasan anak. 

Jika Mama mencurigai anak mengalami mutisme selektif dan bantuan tidak tersedia, atau ada kekhawatiran tambahan, misalnya, anak berjuang untuk memahami instruksi atau mengikuti rutinitas, carilah diagnosis formal dari ahli terapi bicara dan bahasa yang berkualifikasi.

Mama dapat menghubungi klinik terapi wicara dan bahasa secara langsung atau berkonsultasi dengan dokter umum. Jangan beranggapan bahwa kondisi ini bisa hilang sendiri atau anak "hanya malu".

Untuk anak yang lebih besar, juga perlu menemui profesional kesehatan mental atau psikolog. Dokter mungkin awalnya ingin berbicara dengan orangtua tanpa kehadiran anak, terutama tentang perkembangan atau perilaku anak.

Dokter ingin mengetahui apakah ada riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga, dan apakah ada sesuatu yang menyebabkan kecemasan, seperti rutinitas yang terganggu atau kesulitan belajar bahasa kedua. Dokter juga akan melihat karakteristik perilaku dan mengambil riwayat medis lengkap.

5. Ada beragam pilihan terapi untuk mengatasi mutisme selektif

5. Ada beragam pilihan terapi mengatasi mutisme selektif
Freepik/Ulfypro

Terapi pendekatan stepladder dan terapi eksposur bertingkat merupakan bagian penting dari pengobatan untuk mutisme selektif pada anak.

Pendekatan stepladder melibatkan anak untuk mulai berkomunikasi dengan cara yang lebih mudah, seperti menganggukkan kepala atau menunjuk. Kemudian anak secara bertahap membangun aktivitas yang membutuhkan bicara.

Pendekatan stepladder membutuhkan sesi latihan reguler di prasekolah atau sekolah anak. Sehingga orangtua harus membagikan rencana perawatan anak dengan wali kelas dan bekerja sama dengan mereka untuk menerapkan pendekatan tersebut.

Jika usia anak lebih besar, terapi perilaku kognitif dapat membantu.

Cognitive Behaviour Therapy (CBT) dapat membantu anak mengidentifikasi kekhawatiran apa pun, dan membangun kemampuan berbicaranya sendiri, dan membangun sosial yang lebih positif serta lebih percaya diri.

Namun jika anak mengalami keterlambatan bahasa, ia perlu mendapatkan terapi wicara untuk membangun keterampilan bahasanya. Kondisi ini akan berangsur pulih ketika anak lebih nyaman menggunakan suaranya.

Obat terkadang diresepkan untuk anak-anak yang membutuhkan waktu untuk membaik dengan terapi perilaku kognitif.

6. Tips mendukung anak dengan kondisi mutisme selektif di rumah

6. Tips mendukung anak kondisi mutisme selektif rumah
Freepik/Prostooleh

Jika si Kecil memiliki mutisme selektif, ia tentu membutuhkan dukungan orangtua untuk membangun keterampilan berbicara dan kepercayaan diri. Ada banyak hal yang dapat Mama lakukan di rumah:

  • Akui kecemasan anak tentang berbicara. Biarkan anak tahu bahwa ia tidak akan mendapat masalah jika ia tidak berbicara saat jauh dari rumah atau dari orangtua.
  • Saat berdua dengan anak, pujilah upaya dan pencapaiannya dalam berbicara, terutama saat ia mencapai tonggak pencapaian yang berbeda.
  • Contoh perilaku positif dan percaya diri dalam situasi sosial. Misalnya, tersenyumlah kepada orang lain, sapa, dan tanyakan kabar orang ketika Mama bertemu dengan mereka.
  • Bicaralah dengan anak tentang saat Mama merasa cemas dan bagaimana mengatasinya, misalnya dengan pernapasan yang tenang, pembicaraan diri yang positif, dan mencoba segala sesuatunya. Ini akan membantu anak memahami bahwa tidak apa-apa membicarakan perasaan cemas.
  • Bacakan buku yang menceritakan perasaan gugup, takut atau malu atau yang memiliki karakter yang mengatasi masalah berbicara. Ini dapat membantu anak memahami perasaan dan masalahnya sendiri, serta memberikannya ide tentang cara mengatasinya.
  • Fokus pada upaya apa pun yang dilakukan anak untuk berbicara, bersabarlah dengan kemajuan anak, dan cobalah untuk menyimpan frustrasi apa pun yang Mama rasakan. Ini akan membantu anak membangun kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk berbicara.

Itulah beberapa informasi seputar selective mutism atau mutisme selektif pada anak. 

Dengan latihan rutin di rumah, anak dengan mutisme selektif dapat mengatasi kesulitan berbicara. Namun ketahuilah bahwa kondisi ini bisa memakan waktu, bahkan hingga beberapa tahun.

Ketika anak mulai berbicara, ia sangat membutuhkan dukungan untuk membangun kepercayaan diri berbicara dalam semua situasi. Penting untuk memantau seberapa banyak anak berbicara, dan berbicara dengan profesional kesehatan anak jika Mama memiliki kekhawatiran.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.