Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Kalimat untuk Mengasah Pola Pikir Anak saat Membaca Buku
Freepik
  • Membaca buku bersama anak bukan hanya menyelesaikan cerita, tapi juga momen penting untuk berdiskusi dan menumbuhkan kemampuan berpikir serta empati melalui interaksi aktif.
  • Lima jenis pertanyaan reflektif seperti memprediksi alur, memahami emosi tokoh, hingga mengaitkan pengalaman pribadi membantu anak mengembangkan logika, empati, dan kesadaran diri.
  • Penelitian dari para ahli seperti Snow, Kuhn, Harter, dan Vygotsky menegaskan bahwa dialog terarah antara orangtua dan anak saat membaca memperkuat kemampuan kognitif serta emosional anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah perkembangan teknologi saat ini, sering kali anak lebih tertarik pada layar gawai, alih-alih melakukan aktivitas yang melibatkan interaksi langsung.

Padahal, ada banyak kegiatan sederhana yang bisa memberikan manfaat besar bagi tumbuh kembang anak, salah satunya adalah membaca buku bersama orangtua. Membaca buku bersama bukan sekadar menyelesaikan cerita saja Ma, tetapi juga menjadi momen untuk membuka ruang percakapan mendalam antara satu sama lain.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga mengajak anak berdiskusi untuk turut membantu meningkatkan fungsi otak dan empati pada anak.

Untuk memahami informasi ini secara lebih dalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum beberapa kalimat yang dapat digunakan untuk mengasah pola pikir anak saat membaca buku. Disimak, ya!

1. “Menurut kamu, setelah ini akan terjadi apa?”

Freepik

Saat anak sedang membaca, tanyakan pertanyaan yang menuntut respon kritis anak akan situasi yang sedang dibaca Ma. Pertanyaan ini membantu anak melatih kemampuan berpikir secara prediktif. Mereka diajak untuk menebak alur cerita berdasarkan informasi yang sudah ia baca sebelumnya.

Saat si Kecil sedang mencoba memprediksi, mereka sejatinya sedang belajar menghubungkan sebab dan akibat suatu kejadian. Proses ini juga melatih daya imajinasi serta kemampuan berpikir logis yang akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Catherine E. Snow, dalam jurnal Reading Research Quarterly, mengungkapkan bahwa kemampuan memahami bacaan berkembang melalui interaksi aktif, termasuk kegiatan seperti bertanya, memprediksi, dan berdiskusi saat membaca.

Artinya, keterlibatan anak secara langsung dalam proses membaca, dapat memperkuat kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti analisis dan penalaran, yang menjadi fondasi penting dalam perkembangan kognitif anak.

2. “Kalau kamu di situasi itu, kamu akan melakukan apa?”

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Memberikan pertanyaan ini mendorong anak untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan. Ia belajar melihat suatu situasi dari sudut pandang yang berbeda dan mempertimbangkan pilihan yang ada Ma.

Melalui pertanyaan sederhana ini, si Kecil juga belajar memahami arti konsekuensi dari setiap tindakan. Mereka mulai mengembangkan kemampuan problem solving dengan cara yang sederhana namun efektif.

Hal ini sejalan menurut Deanna Kuhn, dalam jurnal Developmental Psychology berjudul “Young Children’s Ability to Use Reasoning in Decision-Making Contexts”, menunjukan bahwa anak yang dilatih untuk mempertimbangkan pilihan dan konsekuensi sejak dini cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan yang lebih baik di kemudian hari.

3. “Menurut kamu, dia sedang merasakan apa?”

Freepik/pressfoto

Pertanyaan yang mengungkap emosi anak, seperti “Menurut kamu, dia sedang apa” secara tak langsung membantu anak belajar mengenali dan memahami emosi orang lain melalui cerita yang dibaca Ma. Anak diajak untuk memperhatikan ekspresi, situasi, serta alur cerita guna menebak perasaan tokoh.

Dengan kebiasaan ini, anak tidak hanya memahami apa yang terjadi, tetapi juga belajar merasakan apa yang dialami orang lain. Mereka mulai mengenali berbagai emosi seperti sedih, marah, senang, atau kecewa, serta memahami alasan di balik perasaan tersebut.

4. “Kamu pernah merasa seperti itu juga”

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Pertanyaan ini dapat Mama jadikan sebagai bahan pembahasan pribadi lho, Ma. Kalimat ini membantu anak menghubungkan cerita dengan pengalaman pribadi. Anak belajar mengenali perasaan mereka sendiri melalui situasi yang dialami tokoh dalam buku.

Dengan cara ini, anak menjadi lebih terbuka dalam mengekspresikan emosi. Mereka juga merasa bahwa perasaan yang dimiliki adalah hal yang wajar dan bisa dibicarakan.

Menurut Susan Harter, dalam jurnal Child Development berjudul “The Construction of the Self” mengungkapkan bahwa kemampuan anak dalam mengenali dan memahami diri sendiri merupakan dasar penting dalam pembentukan self-concept dan kesehatan emosional.

Penelitian ini juga menekankan, bahwa interaksi yang mendukung, seperti percakapan reflektif antara orangtua dan anak, berperan besar dalam membantu si Kecil mengelola emosi dan kepercayaan diri secara bertahap.

5. “Kenapa ya dia bisa seperti itu”

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Sebagai penutup, pertanyaan ini dapat digunakan untuk mendorong anak berpikir lebih dalam, mengenai alasan di balik tindakan tokoh dalam cerita. Mereka tak hanya memahami apa yang terjadi, tetapi juga mulai mencari tahu “mengapa” suatu peristiwa bisa terjadi.

Proses ini membantu anak melihat hubungan sebab-akibat secara lebih jelas. Dengan terbiasa menjawab pertanyaan saat membaca bersama, tak jarang anak akan mengembangkan kemampuan analisis dan berpikir secara kritis. Menurut Lev Vygotsky, dalam jurnal Mind in Society, mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir anak berkembang melalui interaksi sosial dan dialog yang terarah.

Itulah ma, beragam bentuk kalimat untuk mengasah pola pikir anak saat membaca buku. Perlu diingat bahwa memberikan pertanyaan saat sedang membaca biasanya digunakan untuk mengasah beragam kemampuan anak tanpa memberikan distraksi yang berlebihan.

Jadi gimana nih menurut Mama, apakah sudah diterapkan di rumah.

Editorial Team