Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kenali 4 Penyebab Ketakutan Anak Balita yang Paling Umum pada Terjadi
Freepik/karlyukav

Masa kanak-kanak memiliki fase yang unik di mana dalam rentang waktu tiga tahun, balita mengenali dan mulai mengamati hal-hal di sekitarnya. Oleh karena itu, ketakutannya dibangun di atas dasar lingkungan di sekitarnya.

Seringkali ketakutan yang paling umum pada masa kanak-kanak mungkin tampak konyol bagi orangtua, Namun, itu semua adalah bagian dari proses si Kecil untuk tumbuh dewasa, sehingga ketakutan ini tak boleh diabaikan agar tidak melekat dalam dirinya hingga usia dewasa nanti.

Lantas apa saja ketakutan yang umum terjadi pada anak balita dan perlu Mama atasi?

Kenali 4 penyebab ketakutan anak balita yang paling umum terjadi yang telah Popmama.com rangkum di bawah ini!

1. Takut pada perpisahan

Freepik/jcomp

Pada usia dini sekitar tiga atau empat tahun, anak-anak masih sangat polos karena tidak terpapar banyak hal. Mereka hanya mengenal anggota keluarga dan kerabat dekatnya, dan inilah yang bisa menjadi pemicu rasa takut akan perpisahan pada balita.

Selama tiga tahun terakhir, si Kecil mungkin telah tinggal dengan sekelompok orang. Setiap hari ketika mereka bangun, mereka melihat wajah yang sama. Anak tahu bahwa keluarga atau kerabat yang selalu ada bersamanya.

Meninggalkan anak sendiri di suatu tempat, seperti di tempat penitipan anak atau sekolah adalah perubahan lingkungan yang rumit bagi balita. Secara alami ini menanamkan rasa takut dan perasaan ditinggalkan.

Jika anak mengalami hal ini, penting bagi Mama untuk menjelaskan mengapa anak perlu berada di sana, dan membahas hal-hal apa saja yang menyenangkan di sana. Umumnya setelah beberapa hari, anak mungkin akan baru mendapatkan kepercayaannya dan mulai menikmati lingkungan baru.

2. Takut membedakan antara realitas dan imajinasi

Freepik/Macrovector

Imajinasi balita tidak memiliki batas. Namun satu-satunya masalah adalah bahwa ini bisa berubah menjadi ketakutan. Anak memiliki kecemasan dalam membedakan antara sesuatu yang benar-benar ada atau hanya ada di dunia fantasinya.

Karena ketidakmampuan untuk membedakan antara objek nyata dan imajiner, segala bentuk kebisingan di malam hari bisa membuat balita takut. Cuaca buruk seperti guntur justru bisa menjadi mimpi buruk baginya. 

Jika ketakutan imajiner ini bisa lebih mudah diterima anak, ketakutan yang nyata mungkin menjadi tantangan bagi orangtua. Anak sangat memahami lingkungannya. Ketika terjadi hujan deras dan petir yang saling menyambar, ini memang terjadi dan secara teknis bukan imajiner.

Cobalah jelaskan pada anak mengapa petir bisa terjadi dan mengeluarkan suara keras. Sebaliknya, jika Mama menunjukkan ketidakpastian dengan mengatakan, "Sebentar lagi akan reda", anak akan segera mengetahui kebohongan, dan ketakutannya bisa semakin dalam.

3. Takut pada kehidupan nyata

Ilustrasi - Freepik/Karlyukav

Berbagai ketakutan justru menunjukkan perkembangan otak yang besar. Begitu anak masuk sekolah dan proses pembelajaran dimulai, ia akan lebih memahami berbagai hal dengan baik. Ia juga diajari situasi apa yang baik dan buruk.

Namun hal-hal "buruk" ini bisa masuk ke dalam daftar ketakutan seorang anak. Misalnya, situasi buruk apa yang sering muncul di kehidupan sehari-hari? Salah satunya, pemberitaan di televisi tentang penculikan, pembunuhan, bencana alam, dan lain-lain.

Tak hanya itu, anak yang lebih kecil mungkin takut pada binatang. Hewan dan serangga yang menyeramkan seperti ular dan kecoa. Kemudian, ada ketakutan akan cedera dan penyakit. Ketakutan akan kegagalan dan teriakan guru dan orangtua mungkin mulai muncul.

Setiap kali seorang anak diperkenalkan dengan hal-hal baru dalam hidup, perasaan pertama adalah rasa takut.

Sehingga jelaskan bahwa rasa ketakutan yang anak alami wajar, karena ia ingin melindungi diri dari apa yang tidak diketahuinya. Namun penting juga untuk memberi tahu anak bahwa ia aman dan sebagai orangtua Mama akan selalu melindunginya.

4. Takut bersosialisasi

Pexels/Eren Li

Pada akhirnya seorang anak juga harus belajar bersosialisasi, baik itu di sekolah atau lingkungan rumah. Walau mungkin terlihat mudah bagi seorang anak menemukan teman baru, ia mungkin mengembangkan ketakutan ini.

Sayangnya, ketakutan untuk bersosialisasi di usia ini juga ditambah belum mampunya balita untuk memahami sesuatu yang harus ia atasi. Ada pemikirannya untuk bereksplorasi dan menjadi mandiri, namun juga bisa dipengaruhi oleh teman sebayanya.

Di sinilah peran orangtua sangat diperlukan, ada banyak hal yang bisa Mama tanamkan pada anak saat bersosialisasi. Mulai dari bagaimana berkenalan dengan orang lain, berbagi, menghargai batasan dengan orang lain, bersikap sopan santun, dan masih banyak lagi.

Jangan jadikan ketakutan anak dalam bersosialisasi menghambatnya untuk berkembang, karena membangun relasi sejak usia dini dapat menjadi keterampilan penting yang akan di bawa anak hingga usianya besar nanti.

Nah itulah beberapa penyebab ketakutan yang paling umum pada balita. Setiap ketakutan dimaksudkan untuk diatasi. Rasa takut adalah bagian dari kehidupan setiap anak, sampai ia memahami apa kekuatan dan mempercayai nalurinya sendiri.

Beri si Kecil waktu dan keberanian untuk mengatasi ketakutannya, dan itu akan membuat balita berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih baik, lebih berani, dan lebih pintar.

Topics

Editorial Team