Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mama dan Papa Sering Bertengkar di Depan Anak? Kenali 5 Risikonya
Pexels/Gustavo Fring
  • Pertengkaran orangtua dapat memicu respons stres pada anak, termasuk peningkatan kortisol; paparan konflik yang intens dan berulang lebih berisiko daripada satu kali perbedaan pendapat.

  • Konflik dengan emosi atau suara keras dapat mengganggu rasa aman anak, memicu kecemasan, perubahan perilaku, sulit berkonsentrasi, menarik diri, hingga kualitas tidur menurun.

  • Stres berkepanjangan tanpa dukungan memadai dapat memengaruhi perkembangan otak, perhatian, pembelajaran, pengaturan emosi, dan sistem tubuh; anak tidak perlu dilibatkan atau dijadikan penengah konflik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perbedaan pendapat dalam rumah tangga merupakan hal yang bisa terjadi. Mama dan Papa tentu tidak selalu memiliki pandangan yang sama dalam menghadapi berbagai persoalan.

Namun, ketika perbedaan tersebut berubah menjadi pertengkaran, sebaiknya Mama dan Papa lebih berhati-hati jika si Kecil berada di sekitar.

Anak mungkin belum memahami persoalan yang sedang dihadapi Mama dan Papa. Meski begitu, mereka tetap dapat menangkap perubahan suasana melalui suara yang meninggi, ekspresi wajah, atau sikap orangtua yang terlihat berbeda dari biasanya.

Mengutip Parenting For Brain dalam artikel Pamela Li (2023), pertengkaran orangtua dapat meningkatkan hormon kortisol yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres.

Lantas, apa saja risiko saat Mama dan Papa bertengkar di depan anak?

Berikut Popmama.com telah merangkum 5 risiko saat Mama dan Papa bertengkar di depan anak. Yuk, simak risikonya!

1. Anak dapat mengalami peningkatan hormon kortisol

Pexels/cottonbro studio

Ketika melihat Mama dan Papa bertengkar, tubuh anak dapat menganggap situasi tersebut sebagai sesuatu yang membuatnya tertekan. Kondisi ini kemudian dapat memicu respons stres, salah satunya melalui peningkatan hormon kortisol.

Kortisol sebenarnya merupakan bagian normal dari sistem tubuh. Hormon ini membantu tubuh merespons situasi yang dianggap menantang atau mengancam.

Jadi, meningkatnya kortisol ketika anak menghadapi situasi yang membuatnya stres bukanlah sesuatu yang secara otomatis berbahaya.

Masalah dapat muncul ketika respons stres tersebut terlalu sering atau berlangsung dalam waktu lama. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa stres yang berkepanjangan dan berlebihan tanpa dukungan orang dewasa yang memadai dapat mengganggu perkembangan otak dan berbagai sistem tubuh anak.

Kondisi ini membuat frekuensi dan intensitas pertengkaran menjadi hal yang penting diperhatikan. Satu kali Mama dan Papa berbeda pendapat tidak berarti si Kecil akan langsung mengalami gangguan kesehatan.

Sebaliknya, anak yang berulang kali berada dalam suasana rumah yang penuh konflik dapat lebih sering mengalami respons stres. Karena itu, orangtua perlu berusaha menciptakan kembali suasana yang tenang setelah konflik terjadi.

2. Rasa aman anak dapat terganggu

Pexels/Meruyert Gonullu

Rumah merupakan salah satu tempat utama bagi anak untuk mendapatkan rasa aman. Ketika Mama dan Papa bertengkar dengan suara keras atau menunjukkan emosi yang intens, anak dapat merasa bahwa lingkungan yang selama ini dianggap aman tiba-tiba berubah.

Si Kecil mungkin belum mengerti apa penyebab pertengkaran. Mereka hanya melihat Mama dan Papa yang biasanya menjadi sumber rasa aman sedang marah atau tidak akur.

Kondisi tersebut dapat membuat anak bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Pada beberapa anak, kekhawatiran bahkan bisa berkembang menjadi ketakutan bahwa Mama dan Papa akan berpisah atau sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarganya.

Penelitian mengenai emotional security menunjukkan bahwa konflik antarorangtua, terutama konflik yang bersifat destruktif, dapat mengganggu rasa aman emosional anak. Rasa tidak aman tersebut kemudian dapat berkaitan dengan berbagai masalah penyesuaian.

Karena itu, penting bagi Mama dan Papa untuk tidak membuat anak merasa harus memilih pihak. Anak juga tidak seharusnya ditempatkan sebagai penengah ketika orangtua sedang memiliki masalah.

3. Anak bisa menjadi lebih cemas atau mengalami perubahan perilaku

Pexels/Vitaly Gariev

Setiap anak dapat memberikan respons yang berbeda ketika menghadapi konflik orangtua. Ada yang langsung menangis atau menjadi lebih rewel, tetapi ada pula yang memilih diam dan menjauh.

Perubahan perilaku tersebut terkadang terlihat sederhana sehingga mudah dianggap sebagai bagian dari perkembangan anak. Padahal, jika muncul setelah anak berulang kali menyaksikan pertengkaran, orangtua sebaiknya memberikan perhatian lebih.

Si Kecil mungkin menjadi lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, lebih sering mencari perhatian, atau justru menarik diri dari lingkungan. Beberapa anak juga dapat menunjukkan kecemasan dan kesulitan mengelola emosinya.

Respons negatif anak terhadap konflik dapat berkaitan dengan masalah internalisasi, seperti kecemasan dan kesedihan, serta masalah eksternalisasi, seperti perilaku bermasalah.

Hal ini bukan berarti setiap anak yang melihat Mama dan Papa bertengkar pasti mengalami masalah emosional. Namun, konflik yang intens dan berulang dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan, terutama jika mulai diikuti perubahan perilaku yang menetap.

4. Kualitas tidur anak dapat ikut terganggu

Pexels/Ron Lach

Dampak pertengkaran orangtua juga dapat terlihat ketika anak memasuki waktu istirahat. Anak yang merasa cemas atau tidak aman mungkin menjadi lebih sulit menenangkan diri sebelum tidur.

Pikiran mengenai pertengkaran yang baru saja dilihatnya dapat membuat si Kecil tetap merasa waspada. Akibatnya, anak mungkin lebih sulit tidur, terbangun pada malam hari, atau mengalami perubahan pola tidur.

Hubungan antara konflik antarorangtua dan kualitas tidur yang lebih buruk. Rasa tidak aman secara emosional menjadi salah satu faktor yang dapat menjelaskan hubungan tersebut.

Padahal, tidur memiliki peran penting bagi tumbuh kembang anak. Istirahat yang cukup membantu mendukung kemampuan anak dalam mengatur emosi, berkonsentrasi, belajar, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Karena itu, setelah terjadi konflik di depan anak, Mama dan Papa dapat membantu mengembalikan suasana menjadi lebih tenang. Pelukan, percakapan sederhana, dan penjelasan sesuai usia dapat membantu si Kecil memahami bahwa dirinya tetap aman.

5. Stres berkepanjangan dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem tubuh

Pexels/Mikhail Nilov

Paparan konflik yang terus-menerus dapat menjadi lebih mengkhawatirkan ketika anak tidak memiliki kesempatan untuk kembali merasa aman dan tenang.

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa stres yang berlebihan dan berkepanjangan dapat mengganggu perkembangan arsitektur otak. Respons stres yang terus aktif juga dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh, termasuk sistem yang berkaitan dengan:

  • perhatian,

  • pembelajaran,

  • pengaturan emosi.

Stres berkepanjangan juga dapat berkaitan dengan perubahan pada respons imun tubuh. Inilah alasan mengapa suasana lingkungan tempat anak tumbuh menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan orangtua.

Namun, Mama tidak perlu langsung panik jika pernah bertengkar di depan si Kecil. Dampak tersebut lebih berkaitan dengan stres yang berlebihan dan berlangsung terus-menerus, bukan berarti satu kali pertengkaran otomatis menyebabkan kerusakan pada otak atau kesehatan anak.

Jika pertengkaran terjadi, usahakan tidak melibatkan anak, tidak meminta mereka memilih pihak, dan tidak menjadikan si Kecil sebagai penengah. Ketika konflik sudah selesai, tunjukkan pula bahwa masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan komunikasi yang lebih tenang.

Itulah 5 risiko saat Mama dan Papa bertengkar di depan anak. Semoga Mama dan Papa selalu bisa menciptakan rumah yang menjadi tempat paling nyaman bagi si Kecil untuk tumbuh, belajar, dan merasa dicintai.

Curated For You

Editorial Team

Related Article