Seringkali Melakukan Kekerasan pada Anak, Ini 7 Tanda Pola Asuh Toxic

Anak mama perlu mendapat kasih sayang dan perlakuan baik dalam keluarga

4 Desember 2020

Seringkali Melakukan Kekerasan Anak, Ini 7 Tanda Pola Asuh Toxic
freepik/peoplecreations

Keluarga dapat digambarkan sebagai harta yang paling berharga. Tetapi, untuk sebagian orang justru bisa menghambat aktivitas individu karena hubungan keluarga yang tidak harmonis.

Pernahkah Mama mendengar istilah pola asuh toxic?

Pola asuh toxic merupakan kondisi orangtua yang selalu mementingkan keinginan sendiri dan kemauannya harus dituruti oleh anak tanpa memikirkan perasaan serta pendapat dari anak.

Tidak hanya itu, pola asuh ini sering kali memakai kekerasan melalui kata-kata yang dilontarkan maupun kekerasan fisik seperti memukul anak dengan sapu, mencubit atau memukul dengan tangan kosong.

Pada umumnya pola asuh toxic ditandai dengan sikap orangtua yang cenderung tidak mau berkompromi dengan anak dan tidak meminta maaf atas perilaku mereka yang salah.

Jika Mama ingin mengetahui lebih lanjut sebagai bahan pembelajaran dan renungan diri, kali ini Popmama.com telah merangkum tanda-tanda pola asuh toxic yang kadang tidak disadari.

1. Keluarga tanpa kelekatan emosi

1. Keluarga tanpa kelekatan emosi
freepik/freepik

Sering kali orangtua tidak menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anak. Hal ini berdampak pada sikap orangtua ke anak seperti kurang ramah atau kurang hangat.

Bonding antara orangtua dan anak sangat tidak terasa sehingga hubungan yang kaku menambah jarak di dalam keluarga.

Ingat istilah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” nggak, Ma?

Anak bisa meniru sikap orangtua yang dilihatnya sehari-hari, seperti perasaan dan emosi positif yang sering kali dipendam. Situasi ini jika berjangka panjang akan membuat anak tidak nyaman bahkan hilangnya kepercayaan diri.

Sebaliknya, jika emosi negatif yang sering diperlihatkan depan anak justru malah akan membuat anak mudah marah, merasa penuh penyesalan atau sulit berempati pada orang lain.

Mama bisa menunjukkan sikap hangat dan emosi positif dengan terbuka ke anak. Tidak perlu memendam sendirian ya, Ma.

Editors' Picks

2. Orangtua yang kurang perhatian

2. Orangtua kurang perhatian
freepik/freepik

Setiap hari anak membutuhkan perhatian dan pengasuhan dari orangtua. Sebagian Mama atau Papa sering kali sibuk dengan kegiatannya, sehingga lupa dengan anak yang berada di rumah.

Kasih sayang, perhatian dan pengasuhan yang kurang dari orangtua akan membuat kedekatan dengan anak menjadi melemah.

Ma, anak memang sering menunjukkan sikap tidak apa-apa jika orangtua sibuk bekerja, tetapi di dalam hati nya pasti merasakan kesedihan karena kurangnya perhatian dari Mama dan Papa. Yuk Mama luangkan waktu yang banyak untuk berkumpul dan bermain bersama anak.

3. Adanya konflik keluarga

3. Ada konflik keluarga
freepik/gpointstudio

Hubungan yang buruk dalam satu keluarga dapat menjadikan pola asuh ke anak secara toxic. Kondisi seperti ini dapat ditemukan ketika terdapat pertikaian dan perselisihan tidak sehat antar keluarga maupun ke anak.

Biasanya pertengkarannya berupa melempar perabotan rumah yang mengakibatkan luka dan cedera fisik.

Ma, jika pola asuh ini terjadi dalam jangka panjang akan mempengaruhi mental anak bahkan bisa mengalami stres. Jika Mama dan keluarga memiliki konflik, jangan sampai anak tau ya, Ma. Pikirkan bagaimana sikap Mama ke si Kecil, mungkin bisa menjadi tanda pola asuh toxic pada anak.

4. Keluarga dominan

4. Keluarga dominan
Popmama.com/Novy Agrina
This article supported by vivo as Official Journalist Smartphone Partner IDN Media

Memiliki keluarga yang dominan memang cukup sulit untuk diterima oleh anak. Orangtua yang memiliki sikap keras kepala dan otoriter akan melarang anggota keluarga lain termasuk anak untuk menyampaikan aspirasinya.

Hal ini dapat menjadi salah satu tanda dari pola asuh toxic yang nantinya akan membuat anak tertekan dan memiliki rasa marah serta negatif kepada orangtua.

Mama bisa mulai untuk tidak melarang anak menyampaikan aspirasinya ya. Cara ini bisa menjadi pembelajaran anak memberi tau pendapat yang dimilikinya.

5. Membandingkan anak dengan orang lain

5. Membandingkan anak orang lain
freepik/peoplecreations

Sering kali orangtua membandingkan anak nya dengan orang lain.

Misalnya, jika anak mendapatkan nilai yang kurang baik di sekolah, orangtua akan membandingkannya dengan anak yang mendapat nilai terbaik di sekolah.

Jika anak mengalami suatu kegagalan, sebaiknya dinasihati dengan lembut dan memberi semangat untuk berjuang lebih keras ya, Ma.

Anak sangat memerlukan cinta dari orangtua. Jika Mama dan Papa pola asuhnya seperti di atas, yuk segera menggantinya dengan lebih lembut dan meminta maaf atas ke anak karena bisa jadi itu adalah tanda-tanda pola asuh toxic.

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.