5 Dampak Bahaya Jika Anak Terlalu Banyak Makan Cookies

Meski lezat, namun jangan terlalu sering memberikan cookies pada anak ya, Ma!

13 Juni 2021

5 Dampak Bahaya Jika Anak Terlalu Banyak Makan Cookies
Freepik/azerbaijan-stockers

Masih suasana bulan Lebaran, umumnya disetiap rumah akan menyediakan ragam kue kering atau cookies. Rasanya yang manis dan lezat tentu akan menarik perhatian banyak orang, tak terkecuali anak-anak.

Manis menjadi rasa pertama yang paling banyak disukai oleh anak-anak. Sehingga tak heran jika cookies menjadi makanan yang banyak dipilih anak untuk camilan.

Meski rasanya lezat, namun pemberian cookies pada anak sebaiknya diperhatikan ya, Ma. Beri cookies pada anak secukupnya saja, jangan berlebihan. Sebab, anak yang terlalu banyak mengonsumsi cookies juga tidak baik untuk kesehatannya.

Sejumlah dokter menyebutkan, cookies mengandung gula dan tepung yang jika dikonsumsi oleh anak secara berlebihan, maka akan menimbulkan kegemukan pada anak mama.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut Popmama.com telah merangkum bahaya terlalu banyak makan cookies bagi kesehatan anak. Yuk, lebih diperhatikan pemberian cookies pada anak-anak mama.

1. Bisa bikin kegemukan

1. Bisa bikin kegemukan
Freepik

Rasa manis pada cookies umumnya karena kandungan gula yang tinggi di dalamnya. Seperti yang sudah diketahui, cookies terbuat dari bahan seperti tepung dan gula, yang mana kedua bahan tersebut akan membuat anak mengalami kenaikan berat badan yang signifikan jika mengonsumsi secara berlebihan.

Orangtua sering kali membiarkan anak mereka memakan cookies jika tidak mau makan nasi atau makanan bernutrisi lainnya. Alih-alih membiarkan anak kenyang karena cookies, sebaiknya ketahui juga bahaya yang didapat jika membiarkan si Kecil mengonsumsi cookies berlebihan, Ma.

Editors' Picks

2. Membuat nafsu makan menjadi meningkat

2. Membuat nafsu makan menjadi meningkat
Freepik/jcomp

Saat anak mengonsumsi cookies, bukannya merasa kenyang, justru mereka akan merasa sulit kenyang, Ma. Hal ini karena cookies memiliki kandungan serat yang sangat rendah.

Konsumsi serat membuat anak akan merasa kenyang lebih lama, namun tidak dengan cookies. Anak akan semakin merasa lapar dan inilah yang membuat berat badannya meningkat secara signifikan.

3. Menjadi pemicu penyakit kronis

3. Menjadi pemicu penyakit kronis
Freepik

Dilansir dari riset Journal of American Medical Association, mengonsumsi makanan dengan kadar gula yang tinggi seperti cookies akan memicu seseorang alami diabetes, Ma.

Itulah mengapa pemberian cookies pada anak harus dibatasi. Hal ini guna menghindari risiko penyakit kronis seperti diabetes, hingga memicu penyakit jantung dan kematian dini.

4. Gula darah lebih meningkat

4. Gula darah lebih meningkat
Pexels/gustavo

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, tingginya kandungan gula pada cookies juga akan membuat gula darah pada tubuh anak menjadi lebih meningkat. Ketika anak mengonsumsi cookies berlebihan, glukosa dalam tubuhnya bisa memicu kerusakan otak dan berbagai penyakit kronis lainnya.

Itulah mengapa sebaiknya pemberian makanan dengan gula dan tepung pada anak-anak perlu lebih diperhatikan lagi pemberiannya.

5. Dapat merusak kesehatan kulit anak

5. Dapat merusak kesehatan kulit anak
Pixabay/chezbeate

Selain gula dan tepung, umumnya pembuatan cookies juga menggunakan bahan berupa margarin. Meski memberikan lemak, tidak semua lemak baik untuk tubuh.

Dalam Journal of the American College of Nutrition, margarin memicu kulit lebih kering lantaran kandungan lemak trans yang dihasilkan. Sehingga kandungan pada cookies seperti margarin dapat mengurangi elastisikas kulit sejak dini, Ma.

Itulah deretan dampak berbahaya jika anak terlalu banyak makan cookies yang akan mengganggu kesehatan anak. Mulai saat ini, yuk, batasi pemberian cookies pada anak mama.

Jika ingin memberikan cookies padanya, Mama juga perlu memastikan untuk mengimbanginya dengan makanan sehat dan benutrisi lengkap seperti sayur dan buah. 

Semoga informasinya bermanfaat ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.