Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Tips Menenangkan Anak Tantrum, Efektif  Tanpa Harus Berbicara
Freepik/karlyukav
  • Tantrum adalah fase normal perkembangan anak saat mereka belum mampu mengelola emosi besar, biasanya melalui tangisan, teriakan, atau perilaku agresif.
  • Orangtua disarankan tetap tenang, mengambil jeda sebelum merespons, dan menggunakan bahasa tubuh hangat untuk membantu anak menenangkan diri tanpa banyak bicara.
  • Pemahaman bahwa anak masih belajar mengatur emosi membantu orangtua bersikap sabar dan empatik agar anak perlahan mampu mengenali serta mengendalikan perasaannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tantrum merupakan salah satu fase yang umum terjadi pada masa perkembangan anak. Pada tahap ini, anak sejatinya belum memiliki kemampuan yang cukup matang untuk mengelola emosi seperti marah, kecewa, atau frustrasi.

Akibatnya, emosi tersebut sering diekspresikan melalui tangisan keras, teriakan, hingga perilaku agresif. Menariknya, sejumlah studi menunjukkan bahwa tantrum, biasanya mengikuti pola emosi tertentu, lalu berakhir pada kesedihan atau kelelahan emosional.

Untuk memahami informasi ini secara lebih mendalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum beberapa cara menenangkan anak tantrum. Disimak, ya!

1. Bagikan ketenangan pada anak

Freepik/

Ketika anak sedang tantrum, reaksi orangtua sering kali ikut terbawa emosi. Padahal, anak justru membutuhkan sosok yang tetap tenang di sekitarnya. Anak kecil belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang sehingga mereka masih bergantung pada orang dewasa untuk membantu menenangkan diri.

Menurut penelitian dalam jurnal Developmental Psychology, anak belajar mengatur emosi melalui proses co-regulation, yaitu kemampuan orangtua membantu menstabilkan emosi anak dengan sikap yang tenang. Ketika Mama tetap stabil secara emosional, anak dapat “menangkap” ketenangan tersebut melalui interaksi nonverbal seperti ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh.

Oleh karena itu, cobalah menarik napas dalam dan menjaga ekspresi tetap lembut ketika menghadapi tantrum. Tanpa perlu banyak berbicara, sikap tenang dinilai sudah dapat membantu menurunkan intensitas emosi anak secara perlahan.

2. Ambil jeda sejenak sebelum merespons

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Saat anak berteriak atau menangis keras, dorongan untuk segera bereaksi biasanya muncul secara spontan. Namun reaksi yang terlalu cepat justru dapat memperburuk situasi, terutama jika orangtua merespons dengan emosi yang sama kuatnya.

Cobalah mengambil power pause, suatu jeda singkat untuk menarik napas dan menenangkan diri sebelum merespons. Jeda beberapa detik ini memberi kesempatan bagi sistem saraf orangtua untuk kembali stabil sehingga respons yang diberikan menjadi lebih bijak.

Perlu diingat juga, Ma, bahwa tantrum adalah bagian normal dari perkembangan anak. Dengan mengingat hal ini, orangtua dapat lebih mudah menahan diri agar tidak langsung bereaksi secara impulsif yang dapat memperbesar ledakan emosi anak.

3. Dekatkan diri saat emosi anak mulai mereda

Freepik

Tantrum biasanya mencapai puncaknya pada fase marah dan agresi. Setelah energi emosi tersebut menurun, anak sering memasuki fase kesedihan atau kelelahan. Pada tahap inilah orangtua dapat mulai mendekat.

Kehadiran fisik seperti duduk di samping anak, memeluk dengan lembut, atau mengusap punggungnya dapat memberikan rasa aman tanpa harus mengatakan apa pun. Bahasa tubuh yang hangat sering kali jauh lebih menenangkan dibandingkan nasihat panjang.

Penelitian dalam jurnal Emotion Review, menjelaskan bahwa kontak emosional dan fisik yang hangat membantu menurunkan aktivitas stres pada otak anak. Akibatnya, anak dapat kembali merasa aman dan emosinya perlahan menjadi lebih stabil.

4. Tunjukkan bahwa anak didengarkan

Freepik

Ketika emosi anak mulai mereda, langkah berikutnya adalah membantu mereka merasa dipahami. Anak yang merasa dimengerti biasanya lebih cepat menenangkan diri dibandingkan anak yang merasa diabaikan atau dimarahi.

Orangtua tidak selalu perlu menjelaskan panjang lebar. Terkadang, cukup dengan menatap anak dengan lembut, mengangguk, atau memeluknya sudah dapat memberi pesan bahwa perasaannya diterima.

Menurut Dr. Daniel Siegel, perasaan dipahami membantu menenangkan sistem saraf anak. Ketika anak merasa dilihat dan diterima, otak mereka lebih mudah kembali ke kondisi tenang setelah mengalami ledakan emosi.

5. Ingatlah bahwa anak masih proses belajar mengelola emosi

Freepik

Bagi anak, emosi besar seperti kecewa, marah, atau frustrasi bisa terasa sangat membingungkan Ma. Mereka belum memiliki kemampuan bahasa dan kontrol diri yang cukup untuk mengekspresikan perasaan tersebut dengan cara yang lebih matang.

Menurut Jean Piaget, anak usia dini masih berada pada tahap perkembangan yang membuat mereka sulit memahami dan mengendalikan emosi secara kompleks. Oleh karena itu, tantrum sering kali menjadi cara alami anak mengekspresikan perasaan yang belum mampu mereka jelaskan dengan kata-kata.

Dengan memahami hal ini, orangtua dapat melihat tantrum sebagai bagian dari proses belajar anak. Sikap sabar dan respons yang tenang membantu anak secara perlahan mengembangkan kemampuan mengelola emosi dengan lebih baik.

Itulah Ma, beberapa tips menenangkan anak tantrum tanpa harus banyak berbicara. Dengan memahami pola emosi anak serta meresponsnya dengan tenang dan penuh empati, Mama dapat membantu si Kecil belajar mengenali serta mengelola perasaannya secara lebih sehat.

Editorial Team