Anak Tiba-Tiba Berubah Jadi Pemalu, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Dulunya ceria dan outgoing, kenapa tiba-tiba jadi tidak mau bermain bersama teman-temannya ya?

7 Desember 2021

Anak Tiba-Tiba Berubah Jadi Pemalu, Apa Harus Dilakukan Orangtua
Freepik/karlyukav

Tiap anak adalah unik. Mereka punya kepribadian dan preferensi yang membuatnya berbeda dari anak yang lain, sekalipun itu anak kembar. Ada anak yang berkepribadian ceria dan outgoing, sementara yang lain lebih pemalu.

Namun, pada beberapa situasi, anak yang ceria dan outgoing mendadak berubah sikap. Ia menjadi pemalu dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Apa yang terjadi?

Berikut ini Popmama.com merangkum hal-hal yang penting diketahui orangtua jika anak tiba-tiba berubah menjadi pemalu?

1. Anak mengalami perubahan besar

1. Anak mengalami perubahan besar
Pixabay/Anastasia Gepp

Ada begitu banyak perubahan besar yang terjadi dalam hidup seorang anak. Mereka mengalami transisi yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman. Apabila anak mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan bagian-bagian dari lingkungan dan rutinitas baru, bukan tidak mungkin anak akan mengalami stres. 

Editors' Picks

2. Stres dan kegugupan

2. Stres kegugupan
Freepik/Karlyukav

Ketika lingkungan dan rutinitas berubah, sebagian anak bisa beradaptasi dengan cepat. Tetapi, sebagian yang lain mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Pada anak yang cukup lama beradaptasi dengan lingkungan dan rutinitas barunya, mereka bisa mengalami stres. 

Stres ini muncul dalam wujud kecanggungan atau kegugupan saat berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Sekalipun itu orang-orang yang sudah pernah dikenalnya.

Harapan orang dewasa terhadap mereka bisa terasa berlebihan, dan mencari teman baru membutuhkan usaha dan energi yang mungkin terasa besar bagi mereka.

3. Tiap anak lahir dengan kepribadian yang berbeda

3. Tiap anak lahir kepribadian berbeda
Pexels/Ba Phi

Dalam masa tumbuh-kembangnya, anak tak hanya mengalami perubahan dari segi fisik, melainkan juga kepribadiannya. Termasuk berkembangnya ciri-ciri kepribadian yang mungkin baru muncul. 

Budaya ketimuran menghargai ekstroversi atau keramahan, terlepas bagaimana kepribadian seseorang sesungguhnya yang mungkin saja introvert. Hal ini dapat diterjemahkan bahwa orangtua berharap memiliki anak yang ramah karena keramahan identik dengan kebaikan. Tetapi orangtua perlu menyadari bahwa anak yang introvert memiliki bawaan kepribadian alami yang butuh waktu lebih untuk dapat nyaman dan bersikap terbuka terhadap orang lain. Inilah yang membedakannya dengan anak berkepribadian ekstrovert.

4. Dorong, bukan menyuruh

4. Dorong, bukan menyuruh
Freepik

Di usia ini anak umumnya punya keinginan untuk bermain bersama teman-temannya, sekalipun itu teman yang baru dikenalnya. Tetapi berhati-hatilah untuk tidak terlalu menyuruh dan menekan mereka bermain dengan teman-temannya. 

Alih-alih menyuruhnya menghampiri sekelompok anak yang sedang bermain kotak pasir, Mama bisa menggunakan taktik yang lebih halus, "Kayaknya seru deh bermain di sana. Apakah kamu mau coba ke sana dan bertanya apakah boleh bergabung dengan mereka?"

Cara ini akan untuk membangun kepercayaan diri anak karena anak akan merasa itu adalah pilihannya. Jika dia menolak, maka ini memberi orangtua kesempatan untuk menyelidiki perubahan sikap ini lebih lanjut.

5. Galilah pengalamannya

5. Galilah pengalamannya
Pexels/pavel danilyuk

Anak mama memang masihlah sangat muda. Beberapa pertanyaan sederhana dan terbuka dapat membantu mama memahami seperti apa yang dirasakannya dalam situasi sosial ini. 

Pada usia ini, mungkin anak tidak tertarik menceritakan apa yang terjadi di sekolah seharian. Jadi, ketika ia melakukan penolakan terhadap ajakan mama, mama dapat mengajukan pertanyaan terbuka padanya saat itu juga untuk mendapatkan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana ia berpikir dan merasakan. 

Beberapa contoh pertanyaan yang dapat mama ajukan misalnya, "Teman yang seperti apa yang menurutmu asyik diajak bermain?" atau "Bagaimana perasaanmu tadi saat mengajak teman baru bermain?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membangun rasa kepercayaan anak terhadap orangtua, bahwa orangtua tertarik pada perspektifnya ketimbang hanya menyuruhnya melakukan sesuatu yang ia tidak nyaman. 

Orangtua dapat menambahkan kekuatan empati, seperti. "Mama tahu kamu mungkin takut mereka akan mengatakan 'tidak'. Itu tidak apa-apa kok." Dengan cara ini orangtua juga mempelajari sesuatu yang mengejutkan tentang pengalaman anak, yang dapat membantu orangtua memberi respons dengan lebih efektif.

Memahami perspektif anak dan adanya empati dalam respons kita merupakan unsur utama agar anak-anak kita merasa dipahami dan diterima apa adanya.

Semoga informasi ini menginspirasi ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.