Wah, Ternyata Ada Gangguan Tidur Bernama Sleeping Beauty Syndrome!

Penderitanya dilanda rasa kantuk berlebihan dan sulit bangun pagi

6 Februari 2020

Wah, Ternyata Ada Gangguan Tidur Bernama Sleeping Beauty Syndrome
Unsplash/Vladislav Muskalov

Setiap orang memerlukan tidur sebagai waktu istirahat setelah menjalani beragam aktivitas harian.

Selain melepas rasa lelah, tidur juga dapat mengembalikan energi sehingga tubuh akan lebih segar ketika bangun.

Namun, tidur yang berlebihan juga tidak baik dan bisa memiliki dampak buruk. Selain dampak kesehatan, juga dampak lain yang merugikan dan mengganggu kegiatan.

Tidur yang berlebihan ini disebut sebagai sleeping beauty syndrome dalam istilah kesehatan.

Sleeping beauty syndrome merupakan suatu gangguan langka yang menyebabkan rasa kantuk berulang. Penderita sleeping beauty syndrome ini bahkan bisa menghabiskan 20 jam dalam sehari hanya untuk tidur.

Sleeping beauty syndrome dapat terjadi pada siapa pun, baik perempuan atau laki-laki. Namun, lebih banyak diderita oleh laki-laki. Gangguan ini dapat berlangsung dalam periode yang cukup panjang dan terjadi tidak menentu.

Jadi, bisa kambuh dan bisa sembuh sesekali. Saat kambuh, sleeping beauty syndrome cenderung menyulitkan penderitanya dalam bekerja, bersekolah, atau beraktivitas lainnya.

Secara lebih lanjut, berikut Popmama.com beberapa penyebab, ciri-ciri, dan cara mengatasi sleeping beauty syndrome yang dirangkum dari laman Healthline.

1. Gejala umum

1. Gejala umum
Unsplash/Elizabeth Lies

Orang yang mengalami sleeping beauty syndrome mungkin tidak akan memiliki gejala-gejala pasti sehingga saat terjadi bisa berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. Biasanya penderita akan dilanda rasa kantuk yang ekstrim. Ada keinginan yang sangat kuat untuk tidur dan mengalami sulit bangun pagi.

Saat syndrome muncul, bahkan penderita akan tidur selama 20 jam dalam sehari. Mereka mungkin akan bangun untuk pergi ke toilet atau makan.

Lalu, kembali tidur lagi. Rasa lelah yang sangat parah dapat menghampiri penderita sehingga mereka terbaring di tempat tidur hingga sleeping beauty syndrome selesai.

Penderita juga mungkin akan mengalami halusinasi, sifat mudah marah, nafsu makan meningkat, disorientasi, nafsu seks meningkat, dan pengaruh berkurangnya aliran darah ke bagian otak.

Sleeping beauty syndrome merupakan kondisi yang tidak dapat diprediksi sehingga gejala tidak dapat diduga sebelumnya. Kebanyakan orang yang melanjutkan aktivitas normal setelah syndrome ini tidak akan mengalami disfungsi fisik atau perilaku. Namun, mereka mungkin akan kehilangan sedikit memori ketika sleeping beauty syndrome terjadi.

2. Penyebab dan risiko

2. Penyebab risiko
Unsplash/Kyle Broad

Hingga saat ini, sleeping beauty syndrome belum diketahui penyebabnya, tetapi beberapa dokter percaya bahwa faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko untuk kondisi ini.

Misalnya, sleeping beauty syndrome dapat timbul dari cedera di bagian otak bernama hipotalamus. Sebuah bagian otak yang mengontrol tidur, nafsu makan, dan suhu tubuh. Kemungkinan cedera dan mengenai kepala juga dapat meningkatkan risiko syndrome.

Beberapa orang juga mengatakan bahwa sleeping beauty syndrome mungkin merupakan gangguan autoimun. Autoimun adalah kondisi sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan sehatnya sendiri.

Selain itu, sleeping beauty syndrome juga mungkin bersifat genetik karena ada beberapa kasus bahwa gangguan tersebut memengaruhi lebih dari satu orang dalam sebuah keluarga.

Editors' Picks

3. Cara mendiagnosa

3. Cara mendiagnosa
Unsplash/Jeshoots.com

Dikarenakan belum diketahui pasti gejala-gejala dari sleeping beauty syndrome ini. Maka, kelainan ini masih sulit dideteksi atau didiagnosis.

Dalam beberapa kasus, sleeping beauty syndrome justru dapat terjadi dengan gangguan kejiwaan. Akibatnya, dibutuhkan rata-rata selama 4 tahun untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Rasa kantuk yang berlebihan juga bisa menjadi karakteristik adanya depresi sehingga belum tentu dinyatakan sebagai sleeping beauty syndrome. Dokter mungkin akan mengusulkan untuk evaluasi kesehatan mental sehingga dapat menilai gejala-gejala tersebut disebabkan oleh depresi atau lainnya.

Di dalam dunia medis juga belum ada tes tunggal yang dapat membantu diagnosis ini. Sebagai gantinya, dokter mungkin akan melakukan serangkaian tes untuk meminimalisir kemungkinan timbulnya penyakit lain.

Dokter akan melakukan pemeriksaan secara fisik. Dengan mengukur darah, meneliti waktu tidur, dan tes lain, seperti CT scan atau MRI pada bagian kepala.

4. Cara mengatasinya

4. Cara mengatasinya
Unsplash/Laurynas Maureckas

Jika mengalami salah satu tanda yang mungkin mengarah pada kondisi sleeping beauty syndrome, ada beberapa obat untuk bantu meredakan. Hal ini bisa mengurangi durasi terjadinya sleeping beauty syndrome dan mencegah terjadi dalam waktu lama. Obat tersebut biasanya berbentuk pil.

Namun, konsumsi obat ini mungkin bisa menyebabkan iritabilitas dan meningkatkan kesadaran sehingga dapat mencegah rasa kantuk. Obat-obatan tersebut yaitu, methylphenidate (concerta) dan modifinil (provigil).

Tak hanya itu, obat-obatan lain yang bisa mengatasi gangguan mood mungkin juga dapat membantu. misalnya, lithium (lithane) dan carbamazepine (tegretol) yang biasanya digunakan untuk mengobati gangguan bipolar sehingga bisa mengingankan gejala sleeping beauty syndrome.

5. Dampak pada penderita

5. Dampak penderita
Unsplash/Jeshoots.com

Masa berlangsungnya gangguan tidur bernama sleeping beauty syndrome ini dapat terjadi selama 10 tahun. Penderita yang mengalami akan mendapatkan dampak yang luar biasa pada kehidupan mereka.

Hal ini karena sleeping beauty syndrome dapat menganggu kemampuan penderitanya dalam bekerja, pergi ke sekolah, hingga dalam membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya.

Sleeping beauty syndrome juga dapat memicu rasa kecemasan yang berlebihan dan depresi karena penderita tida akan tahu pasti kapan gangguan ini kambuh dan mereda.

Apabila penderita mengalami gejala berupa nafsu makan yang meningkat, berat badan mereka mungkin akan naik drastis. Rasa lelah dan kantuk bisa datang secara tiba-tiba dan menghilangkan kesadaran.

Sleeping beauty syndrome juga dapat menyebabkan penderita melukai dirinya sendiri atau orang lain jika kambuh saat sedang berkendara.

Untuk itu, sebaiknya penderita melakukan konsultasi dengan dokter sehingga dapat mengidentifikasi kambuhnya sleeping beauty syndrome dan mengurangi risiko yang tidak diinginkan.

Itu lah beberapa hal yang perlu diketahui dari sleeping beauty syndrome. Semoga bermanfaat, ya.

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.