Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Baju Viral Tanpa Timbun Stok, Kenali Tren Fast Fashion AI Yuk!
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI
  • Startup fashion berbasis AI seperti Styched dan NEWME mengubah sistem produksi dengan hanya membuat pakaian setelah ada pesanan, sehingga stok gudang bisa ditekan hingga nol persen.
  • Teknologi AI digunakan untuk menganalisis tren dari Google dan Instagram, memungkinkan brand merilis ratusan model baru tiap minggu tanpa proses desain manual atau sesi foto fisik.
  • Model bisnis ini memangkas waktu produksi dari berbulan-bulan menjadi dua hingga tiga minggu saja, memaksa pemain ritel besar ikut beradaptasi agar tetap relevan di pasar muda digital.
  • Startup fashion berbasis AI seperti Styched dan NEWME mengubah sistem produksi dengan hanya membuat pakaian setelah pesanan masuk, menekan risiko stok menumpuk dan menarik investasi besar.
  • Teknologi AI digunakan untuk menganalisis tren dari Google dan Instagram, memungkinkan brand merilis ratusan model baru tiap minggu tanpa proses desain manual atau sesi foto fisik.
  • Model bisnis cepat ini memangkas waktu produksi dari berbulan-bulan menjadi dua hingga tiga minggu, memaksa ritel besar seperti Trent dan Aditya Birla Fashion ikut beradaptasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah nggak sih kamu memperhatikan kalau tren pakaian belakangan ini rasanya cepat banget berganti model setiap minggu? Sebagai pencinta fashion atau orang yang selalu ingin tampil up-to-date, kamu pasti sering dibuat heran dengan betapa cepatnya gaya busana berputar. Rasanya baru kemarin semua orang heboh dengan satu model celana tertentu, eh, minggu ini seleranya sudah berubah total mengikuti apa yang lagi viral di FYP media sosial.

Fenomena ini sebenarnya bukan tanpa alasan, lho. Di era digital yang serba instan ini, generasi muda seperti Gen Z memang memiliki preferensi belanja yang sangat unik dan dinamis, di mana mereka sangat menghindari ketersediaan pakaian massal karena takut kembaran baju dengan orang lain saat ke acara bareng. Menurut data dari Redseer Strategy Consultants, kelompok Gen Z ini diperkirakan bakal menguasai nilai konsumsi yang fantastis, yaitu sebesar $1,3 triliun pada tahun 2030 nanti dan menyumbang setengah dari total industri fashion.

Melihat peluang yang begitu besar dari karakter konsumen masa kini, sejumlah startup fashion era baru pun mulai memutar otak. Mereka meluncurkan sebuah terobosan bisnis yang benar-benar menantang aturan lama dunia konveksi tradisional. Mengandalkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), perusahaan-perusahaan ini kini mampu memproduksi pakaian dalam waktu super singkat tanpa perlu menumpuk barang di gudang terlebih dahulu.

Pergeseran besar ini tentu menjadi angin segar sekaligus tantangan baru bagi industri gaya hidup global, termasuk bagaimana cara kita mengonsumsi fashion harian. Dengan sistem yang serba cepat, kamu bisa dengan mudah mendapatkan busana paling modis yang baru saja viral di internet hanya dalam hitungan hari saja!

Nah, biar kamu nggak penasaran dan makin paham dengan gaya belanja masa kini yang serba kilat, yuk kita bedah bersama beberapa fakta menarik seputar model bisnis fashion berbasis teknologi ini berikut Popmama.com bagikan ulasannya untuk kamu!

1. Produksi pakaian baru dimulai setelah ada pesanan masuk

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Berbeda jauh dengan sistem industri konvensional yang mengharuskan brand memproduksi koleksi mereka berbulan-bulan sebelumnya dan menimbun sekitar 120 hingga 160 hari stok barang di gudang, startup fashion modern kini menerapkan sistem terbalik. Mereka memamerkan desain digitalnya terlebih dahulu secara online, baru kemudian memproses produksinya secara nyata setelah kamu melakukan transaksi pembayaran. Langkah cerdas ini dinilai sangat efektif untuk menghemat modal kerja awal perusahaan.

Sistem operasional yang super efisien ini salah satunya diterapkan oleh startup bernama Styched, di mana proses pembuatan baju baru akan berjalan ketika konsumen benar-benar sudah menyelesaikan pembayaran. Penjelasan ini sejalan dengan laporan dari media bisnis global yang mencatat bagaimana sistem manufaktur mereka langsung dialirkan ke penjahit lewat aplikasi pintar. Langkah taktis ini terbukti sukses menekan angka risiko kerugian akibat baju reject atau stok menumpuk di gudang hingga nol persen.

Dilansir dari Financial Express, Styched mengadoptsi model yang bahkan lebih ramping lagi, di mana produksi baru dimulai hanya setelah pelanggan menempatkan pesanan secara resmi. Proses manufakturnya kemudian dialirkan ke penjahit perorangan melalui jaringan berbasis aplikasi pintar.

Kelebihan perputaran modal yang cepat ini pun akhirnya sukses menarik perhatian besar dari para investor global. Terbukti, startup sejenis seperti NEWME berhasil mengamankan pendanaan hingga $35,6 juta, sementara Virgio juga sukses mengantongi kucuran dana sebesar $37,8 juta dari Prosus dan Alpha Wave Global demi memperkuat sistem logistik tanpa stok mereka.

2. Memanfaatkan AI untuk membaca tren di instagram dan google

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana sebuah brand fashion bisa mengeluarkan ratusan model baju baru setiap minggunya? Rahasianya ternyata ada pada pemanfaatan teknologi AI yang bertugas sebagai pencari tren otomatis. Kecerdasan buatan ini bekerja non-stop menganalisis keyword apa saja yang sedang banyak dicari di Google serta gaya busana apa yang tengah viral dipakai oleh para selebgram di Instagram.

Strategi dropship kilat tiap akhir pekan bahkan menjadi motor utama perputaran produk di platform NEWME, yang rutin merilis ratusan model pakaian baru tanpa menyisakan stok di gudang. Berdasarkan ungkapan dari sang co-founder, Sumit Jasoria, pihak perusahaan baru bisa mengetahui secara pasti apa saja yang harus diproduksi beserta jumlah kuantitasnya pada sore hari setelah koleksi tersebut resmi dirilis ke publik.

Dilansir dari Financial Express, perusahaan NEWME yang didukung oleh Fireside Ventures dan Accel meluncurkan hingga 500 gaya baru setiap hari Jumat.

"Ketika kami merilis sebuah koleksi, tidak ada stok barang di belakangnya. Pada sore hari, kami sudah tahu apa yang harus diproduksi dan dalam jumlah berapa," ungkap sang co-founder, Sumit Jasoria.

Melalui bantuan algoritma pintar ini, tim desainer yang kecil tidak perlu lagi menggambar sketsa manual berhari-hari. AI akan otomatis merekomendasikan gaya pakaian siap jual, bahkan visualisasi katalognya pun dibuat secara digital lewat teknologi ini, sehingga memangkas pengeluaran untuk sesi photoshoot fisik secara signifikan.

3. Memangkas waktu distribusi dari Ide hingga ke tangan konsumen

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Kecepatan adalah kunci utama mengapa platform belanja modern masa kini begitu digandrungi. Jika merek pakaian tradisional membutuhkan waktu bulanan dari proses perancangan ide hingga baju tersebut akhirnya bisa dipajang di rak toko, maka startup berbasis teknologi mampu menyelesaikannya dalam hitungan minggu saja. Hal ini membuat siklus fashion menjadi sangat dinamis dan selalu segar dari waktu ke waktu.

Hebatnya, proses pemotretan jalur birokrasi produksi ini mampu memotong waktu rilis produk secara ekstrem dari hitungan bulan menjadi hanya hitungan minggu singkat. Berdasarkan penilaian dari pengamat industri, Dipanjan Basu, keunggulan brand masa kini adalah kemampuan mereka dalam memajang produk siap jual dalam waktu dua sampai tiga minggu saja, memangkas waktu industri biasa yang umumnya memakan waktu bulanan.

Dilansir dari Financial Express, seorang ahli industri bernama Dipanjan Basu memaparkan mereka hanya butuh waktu dua sampai tiga minggu untuk meluncurkan produk.

"Mereka mampu meluncurkan produk dari ide hingga siap di rak penjualan hanya dalam waktu dua hingga tiga minggu saja. Padahal di industri biasa, proses ini membutuhkan waktu 45 hari hingga terkadang dua setengah bulan," ungkapnya

Sistem kilat ini sendiri sebenarnya terinstrisikan dari kesuksesan retail global raksasa, Shein, yang memelopori rantai pasok berbasis data permintaan sebelum akhirnya sempat dilarang di India pada tahun 2020 lalu. Absennya Shein di masa itu justru membuka jalan lebar bagi brand lokal untuk bangkit menawarkan alternatif pakaian modis berharga miring.

4. Pemain raksasa dunia dipaksa ikut berubah

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Melihat kesuksesan para startup digital ini, perusahaan ritel pakaian raksasa yang sudah lama mapan di industri konveksi pun akhirnya ikut panik. Mereka menyadari kalau tidak ikut berubah mengikuti perkembangan zaman, pasar konsumen muda yang potensial akan hilang direbut kompetitor. Alhasil, korporasi besar pun berbondong-bondong merombak strategi operasional mereka agar bisa memproduksi baju secara kilat.

Menyadari ancaman kehilangan pasar, produsen-produsen besar yang sudah puluhan tahun eksis akhirnya mulai meluncurkan lini busana tandingan yang bergerak tak kalah cepat. Laporan dari media ekonomi mencatat pergerakan ritel besar seperti Trent yang meluncurkan merek 'Burnt Toast' mereka, disusul oleh Aditya Birla Fashion and Retail yang memperkenalkan lini pakaian 'OWND!' demi mengincar segmen konsumen muda lewat siklus fashion berbasis teknologi.

Dilansir dari Financial Express, pemain-pemain besar yang sudah mapan juga mulai merespons. Trent meluncurkan brand 'Burnt Toast' pada tahun 2025, sementara Aditya Birla Fashion and Retail memperkenalkan 'OWND!' seiring upaya perusahaan-perusahaan tersebut untuk memikat konsumen muda melalui siklus fashion yang lebih cepat dan dipandu oleh teknologi.

Langkah taktis ini diambil karena persaingan industri pakaian ke depan bukan lagi soal siapa yang bermodal paling kuat. Kemenangan bisnis akan mutlak ditentukan oleh siapa yang paling gesit membaca algoritma kebutuhan pasar dengan timbunan stok barang paling sedikit di dalam gudang mereka.

Melihat perkembangan teknologi yang semakin canggih ini, tidak bisa dipungkiri bahwa gaya hidup dan cara berbelanja kita akan terus berubah ke arah yang serba digital dan instan. Memahami tren model bisnis konveksi berbasis AI ini bisa membantu kamu menjadi konsumen yang lebih bijak dalam menyaring tren fashion mana yang benar-benar worth it untuk dibeli.

Kalau kamu sendiri, apakah kamu termasuk orang yang sering tergiur membeli baju-baju kekinian lewat platform online yang serba cepat ini?

Editorial Team