Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Bukan Cuma Desain, Komunikasi Jadi Kunci Brand Lokal Bertahan
Popmama.com/Erica Santoso
  • JF3 TALK 2026 menyoroti bahwa komunikasi yang kuat, bukan hanya desain menarik, menjadi fondasi utama agar brand fashion lokal bisa bertahan dan dikenal luas oleh masyarakat.
  • Konsumen masa kini lebih menghargai nilai emosional dan sosial di balik produk, seperti keberlanjutan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat, dibanding sekadar tampilan atau kenyamanan fisik.
  • Para ahli menekankan pentingnya kejujuran narasi dan riset pasar yang tepat agar brand tidak terjebak dalam greenwashing maupun bubble internal, serta mampu menjangkau audiens secara autentik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri fashion lokal saat ini memang lagi tumbuh pesat banget, ya! Berbagai brand mode tanah air bermunculan dengan desain yang unik, kreatif, dan kualitas yang nggak kalah saing dengan produk luar negeri. Namun, apakah modal desain yang bagus dan estetis saja sudah cukup untuk membuat sebuah brand bertahan lama di pasaran?

Pertanyaan besar ini dijawab tuntas dalam sesi diskusi santai penuh insight bertajuk JF3 TALK 2026 yang digelar pada Selasa (19/05/2026) di La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading. Mengusung tema besar "Recrafted: Shaping the Future", acara ini mempertemukan para pelaku industri, desainer, pengamat budaya, hingga jurnalis fashion senior untuk mengobrolkan arah baru masa depan mode Indonesia.

Dalam forum yang berlangsung hangat tersebut, para ahli sepakat bahwa fondasi terbesar yang sering dilewatkan oleh para pelaku usaha mode saat ini adalah cara berkomunikasi. Banyak brand yang punya produk juara, tapi sayangnya gagal menyampaikan pesan atau cerita di balik koleksi tersebut kepada masyarakat luas.

Menanggapi fenomena penting ini, kali ini Popmama.com rangkum beberapa alasan dan tips mengapa bukan cuma desain bagus, melainkan komunikasi yang tepat menjadi kunci utama agar brand fashion lokal bisa bertahan lama di industri mode. Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

1. Produk juara tetap butuh narasi yang kuat

Popmama.com/Erica Santoso

Punya produk dengan jahitan rapi dan bahan yang premium tentu adalah sebuah keharusan sebelum menjualnya ke pasar. Namun, JF3 TALK mengingatkan bahwa produk yang superior akan terasa hambar jika tidak dibarengi dengan cerita yang tepat. Konsumen tidak hanya membeli pakaian, tetapi juga membeli nilai yang ditawarkan oleh brand tersebut.

Ketika sebuah pakaian memiliki narasi yang jelas, produk tersebut akan memiliki jiwa tersendiri yang membedakannya dari kompetitor. Cerita inilah yang nantinya akan memicu rasa penasaran orang untuk mencari tahu lebih dalam tentang koleksi yang dikeluarkan.

Jadi, jangan hanya fokus pada keindahan visualnya saja. Mulailah memikirkan pesan apa yang ingin disampaikan kepada dunia lewat selembar pakaian yang diproduksi tersebut agar nilainya bisa tersampaikan dengan baik ke konsumen.

2. Konsumen saat ini mencari yang "nyaman di hati"

Popmama.com/Erica Santoso

Ada sebuah kutipan menarik dari Hilmi Faiq, pengamat kreatif dari harian Kompas dalam diskusi ini. Beliau menyebutkan bahwa kenyamanan di tubuh terkadang menjadi nomor sekian, karena hal yang paling krusial dan dicari oleh pembeli masa kini adalah kenyamanan di hati.

Pergeseran perilaku konsumen dewasa ini memang cenderung lebih emosional, cerdas, dan kritis saat memilih produk mode. Mereka tidak lagi sekadar silau oleh keindahan visual, melainkan lebih tertarik pada produk yang membawa isu bermakna, seperti kelestarian lingkungan, kampanye kemanusiaan, hingga gerakan pemberdayaan masyarakat lokal.

Sebagai contoh, saat seseorang membeli pakaian dan tahu bahwa proses pembuatannya ikut membantu menyekolahkan anak-anak kurang mampu atau memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di daerah, ada perasaan bangga yang muncul. Rasa "menjadi orang baik" dan ikut berkontribusi inilah yang menciptakan ikatan emosional kuat, sehingga membuat mereka menjadi pelanggan yang loyal pada satu brand tersebut.

3. Hindari greenwashing, narasi harus sesuai realita

Popmama.com/Erica Santoso

Membuat cerita yang menyentuh hati memang terbukti ampuh untuk menarik minat pembeli, tetapi jangan sampai pelaku usaha justru terjebak dalam praktik greenwashing. Greenwashing sendiri merupakan istilah ketika sebuah brand hanya sekadar menggunakan isu ramah lingkungan sebagai trik jualan semata, padahal proses produksi riil di balik layar justru merusak alam.

Daniel Ngatung, editor dari Wolipop, menekankan pentingnya konsistensi dan integritas dalam membangun narasi sebuah produk. Pembaca dan konsumen saat ini sudah sangat cerdas serta kritis untuk membedakan mana cerita yang tulus dari hati dan mana yang hanya sekadar gimmick marketing demi meraih viralitas sesaat.

Jika dari awal sebuah brand berkomitmen mengusung konsep keberlanjutan (sustainability), maka nilai tersebut harus benar-benar tercermin di setiap detail produknya. Mulai dari pemilihan kancing, bahan baku, hingga sistem kerja para karyawannya harus sejalan, karena kejujuran adalah kunci utama dari komunikasi yang sehat.

4. Menembus bubble sendiri untuk menjangkau pasar nyata

Popmama.com/Erica Santoso

Salah satu tantangan terbesar yang disoroti oleh Advisor JF3 sekaligus Founder Lakon Indonesia, Thresia Mareta, adalah kecenderungan para pelaku mode yang kerap terjebak di dalam dunianya sendiri (bubble). Banyak dari mereka yang sering merasa produknya sudah sangat luar biasa hanya karena mendapatkan pujian dari lingkaran terdekatnya saja.

Padahal, parameter kesuksesan yang valid dan nyata adalah ketika produk tersebut mampu diterima oleh masyarakat luas dengan standar yang diakui bersama. Pelaku usaha jangan sampai hanya sibuk mengklaim kehebatan produk sendiri secara sepihak, sementara pasar yang sesungguhnya di luar sana justru tidak mengerti nilai apa yang sedang ditawarkan.

Oleh karena itu, membangun komunikasi yang terbuka dengan pihak luar, termasuk media massa, menjadi hal yang sangat krusial. Melalui sinergi yang sehat dan baik, media dapat membantu menerjemahkan bahasa desain para kreator yang idealis menjadi bahasa komunikasi yang mudah dipahami oleh konsumen awam.

5. Kenali karakter pasar yang beragam, jangan ikut-ikutan

Popmama.com/Erica Santoso

Apakah kamu sering melihat banyak brand baru yang berbondong-bondong membuka toko di area Jakarta Selatan hanya karena wilayah itu sedang tren? JF3 TALK mengingatkan agar para pemilik usaha tidak hanya sekadar ikut-ikutan tren pasar tanpa riset yang matang.

Setiap wilayah memiliki karakteristik konsumen yang sangat berbeda, misalnya pasar di Jakarta Utara tentu tidak akan sama dengan pasar di wilayah satelit seperti Serpong. Sebuah brand fashion tidak akan bisa berkembang dengan maksimal jika hanya mampu bertahan di satu jenis market saja.

Gunakan strategi komunikasi dan pemasaran yang fleksibel dan adaptif. Pelajari apa yang dibutuhkan oleh konsumen di wilayah masing-masing, dan sesuaikan cara pendekatan agar pesan produk bisa tersampaikan dengan efektif sesuai kebutuhan lokal mereka.

Membangun sebuah brand fashion lokal yang sukses memang bukan perjalanan semalam yang instan. Diperlukan kedisiplinan, kualitas produk yang konsisten, dan yang tak kalah penting: ketepatan dalam berkomunikasi agar makna kebaikan dari produk kita bisa sampai ke lubuk hati konsumen.

Yuk, kita sama-sama dukung terus karya-karya desainer tanah air agar industri mode Indonesia tidak hanya sekadar menjadi penonton di rumah sendiri, melainkan mampu melangkah mantap menuju panggung internasional dengan standar dunia yang membanggakan!

Editorial Team