Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
H&M Tutup 160 Gerai di 2026, Efisiensi dan Fokus ke Digital
Pexels/Luis Quintero
  • H&M menutup 160 gerai pada 2026 sebagai langkah efisiensi dan optimalisasi portofolio toko, melanjutkan kebijakan penutupan sebelumnya untuk menekan biaya operasional.
  • Penjualan digital kini menyumbang sekitar 30% pendapatan H&M, dengan strategi omnichannel yang menggabungkan pengalaman belanja di toko fisik dan platform online.
  • Perubahan perilaku konsumen ke arah belanja online mendorong H&M beradaptasi, tetap membuka 80 gerai baru di lokasi strategis sebagai bagian dari ekosistem ritel modern.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Brand fashion global H&M kembali melakukan langkah strategis dengan menutup ratusan tokonya secara global. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari transformasi bisnis di tengah perubahan perilaku konsumen yang kini semakin beralih ke platform digital.

Penutupan ini melanjutkan langkah perusahaan sebelumnya yang sudah lebih dulu menutup 163 gerai di berbagai negara. Dalam laporan keuangannya, H&M menyebut kebijakan penutupan toko sempat berdampak pada kinerja penjualan di awal tahun karena menyesuaikan operasional dengan jumlah toko yang lebih sedikit.

Berikut Popmama.com rangkum fakta di balik penutupan ratusan gerai H&M di 2026.

1. Tutup 160 toko demi efisiensi dan strategi baru

Pexels/Ron Lach

Dikutip dari berbagai sumber, H&M berencana menutup sekitar 160 gerai pada 2026 ini. Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan portofolio toko dan meningkatkan efisiensi operasional. Langkah ini melanjutkan keputusan sebelumnya, di mana merek ini juga sudah ratusan toko dalam beberapa tahun terakhir.

Penutupan ini memang berdampak pada penjualan jangka pendek, terutama di awal 2026. Namun, perusahaan menilai strategi ini akan memberikan efek positif dalam jangka panjang, terutama dari sisi produktivitas toko dan pengurangan biaya operasional.

“Optimalisasi portofolio toko memberikan dampak agak negatif terhadap penjualan pada kuartal pertama 2026 karena penutupan dan renovasi toko," tulis H&M dalam laporan keuangannya, dilansir dari The Sun, Kamis (9/4/2026).

Langkah pengurangan gerai offline ini bertujuan meningkatkan keuntungan dari setiap toko-toko unggulan, ini juga berguna untuk menekan biaya operasional. Selain itu, perubahan kebiasaan belanja juga menjadi alasan utama H&M mengambil langkah ini.

2. Penjualan online jadi kunci utama pertumbuhan

Pexels/Nataliya Vaitkevich

Perubahan strategi H&M tak lepas dari meningkatnya peran e-commerce. Saat ini, penjualan digital menyumbang sekitar 30 persen dari total pendapatan perusahaan. H&M pun mengadopsi pendekatan omnichannel, di mana pengalaman belanja pelanggan terintegrasi antara toko fisik dan platform online. 

Konsumen kini bisa berbelanja kapan saja dan di mana saja, sesuai preferensi mereka, termasuk melalui website, marketplace, hingga media sosial.

"Pelanggan ingin bisa berbelanja di mana saja dan kapan saja, baik di toko, website, marketplace, maupun media sosial," tulis H&M.

3. Industri retail berubah, H&M ikut beradaptasi

Pexels/Vitaly Gariev

Langkah H&M ini mencerminkan perubahan besar di industri ritel global. Konsumen kini lebih mengutamakan kemudahan, harga kompetitif, dan fleksibilitas belanja secara online. 

"Konsumen sekarang lebih memilih belanja online dan tidak terlalu setia pada toko fisik. Kondisi ini membuat banyak perusahaan ritel menghadapi tantangan," ujar Miserandino.

Meski menutup banyak toko, H&M tetap akan membuka sekitar 80 gerai baru di lokasi strategis. Ini menunjukkan bahwa toko fisik masih relevan, namun perannya kini lebih sebagai bagian dari ekosistem yang mendukung pengalaman belanja secara menyeluruh.

Itulah tadi fakta di balik penutupan ratusan gerai H&M di 2026. Keputusan ini menunjukkan bagaimana H&M terus beradaptasi dengan perubahan tren belanja dan kebutuhan konsumen global.

Editorial Team