Mematikan, Ketahui Fakta Mengenai Kanker Paru

Perokok lebih berisiko terkena kanker paru!

15 Februari 2020

Mematikan, Ketahui Fakta Mengenai Kanker Paru
Unsplash/Sara Bakhshi

Situasi kanker paru di Indonesia telah memasuki zona yang cukup serius dimana angka kunjungan pasien kanker paru telah meningkat hampir 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu. Hal ini merupakan tanda yang mengkhawatirkan sehingga diperlukan edukasi pada masyarakat untuk waspada terhap kanker paru.

Terlebih lagi, kanker paru menjadi risiko penyakit yang nyata pada masyarakat perokok. Baik perokok aktif maupun perokok pasif. Kanker paru juga cukup sulit dideteksi dini sehingga lebih dari 80% pasien kanker paru datang berobat setelah stadium lanjut atau stadium IV.

Maka, perlu adanya upaya dari pemerintah dan tenaga medis untuk memupuk kesadaran akan bahaya kanker paru.

Secara lebih lanjut, berikut Popmama.com berikan fakta-fakta mengenai kanker paru yang telah dikutip dari para pakar kesehatan. Saat ditemui pada acara “Pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru”, Selasa (11/2/2020) di Hongkong Café, Menteng, Jakarta.

1. Sulit dideteksi tetapi mematikan

1. Sulit dideteksi tetapi mematikan
Unsplash/Helena Lopes

Menurut dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P(K), selaku Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, kanker paru merupakan penyakit yang paling sulit dideteksi dini, tetapi paling mematikan. Hal ini didukung oleh survey yang menyatakan bahwa kanker paru menjadi salah satu penyakit paling mematikan. Setelah kanker payudara dan kanker serviks. Kanker paru telah membunuh hampir 1,7 juta orang setiap tahunnya.

Sulitnya deteksi dini kanker paru karena paru-paru manusia bentuknya sangat luas dan kanker paru tidak bisa discreening. Deteksi kanker paru biasanya baru dapat dilakukan pada orang yang memiliki faktor risiko tinggi, seperti perokok aktif dan perokok pasif. Namun,  bila orang yang berisiko kanker paru tersebut disertai beberapa keluhan batuk dan nyeri di bagian dada, perlu diperiksa lebih lanjut.

Editors' Picks

2. Faktor risiko kanker paru

2. Faktor risiko kanker paru
Unsplash/Patrick Brinksma

Data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebutkan bahwa insiden tertinggi kanker paru adalah laki-laki dan 11,2% diantaranya diderita perempuan. Maka, dapat disimpulkan bahwa laki-laki lebih rentan mengalami kanker paru karena mereka cenderung perokok aktif.

Menurut Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FAPSR, FISR selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Indonesia, “Tak hanya perokok aktif saja, orang yang terpapar asap rokok atau perokok pasif juga berisiko terkena kanker paru. Baik asap rokok konvensional maupun rokok elektrik. Selain itu, faktor lain yang dapat memicu kanker paru, yaitu polusi dan faktor genetik,”

Secara genetik, kanker paru tidak diturunkan secara langsung. Namun, jika salah satu anggota keluarga memiliki riwayat kanker paru, anggota keluarga lain lebih berisiko mengidap kanker paru yang sama. Meskipun jumlah kasus kanker paru akibat genetik jumlahnya tidak banyak.

Asbes yang digunakan untuk atap rumah juga berisiko menjadi penyebab kanker paru. Hal ini karena asbes mengandung residu yang bisa menyebar melalui udara dan terhirup oleh manusia.

3. Pilihan pengobatan kanker paru

3. Pilihan pengobatan kanker paru
Unsplash/Hao Shaw

Meskipun sangat berbahaya, kanker paru yang sudah diderita pasien tetap dapat diobati dengan menjalani perawatan medis. “Modalitas pengobatan atau terapi kanker paru ditentukan oleh jenis sel kanker, staging penyakit saat ditemukan, dan kondisi pasien,” jelas dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P(K).

Ada beberapa pilihan pengobatan yang dapat dijalani oleh penderita kanker paru, yaitu operasi, terapi radiasi, kemoterapi, terapi bertarget, dan imunoterapi.

Namun, terapi bertarget dan imunoterapi ini perlu dilakukan pemeriksaan khusus terlebih dahulu, yaitu biomolekuler marker.

Seluruh jenis perawatan untuk kanker paru ini sudah bisa dilakukan di rumah sakit Indonesia karena teknologinya sudah setara dengan pedoman pengobatan internasional.

Sebaiknya, jaga kesehatan paru-paru agar terhindar dari kanker paru. Dengan menghindari penggunaan rokok dan paparan asapnya, konsumsi makanan bergizi seimbang, rajin berolahraga, istirahat cukup, dan kelola stres.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.