Dari Film “Dua Garis Biru,” Ketahui Fakta tentang Pengangkatan Rahim

Ketika pengangkatan rahim menjadi mimpi buruk

12 Agustus 2019

Dari Film “Dua Garis Biru,” Ketahui Fakta tentang Pengangkatan Rahim
Pixabay/silviarita

Sudah nonton film “Dua Garis Biru,” Ma? Kalau sudah, tentu Mama tahu bagaimana kehamilan Dara berujung pada pengangkatan rahim.

Bagi perempuan, pengangkatan rahim bisa jadi episode buruk dalam hidupnya.

Begitu rahim itu diangkat, maka ia tidak lagi aktif bereproduksi. Tidak ada kemungkinan untuk seorang perempuan yang telah menjalani operasi pengangkatan rahim hamil dan punya anak lagi.

Umumnya, tindakan ini dilakukan dengan latar belakang medis tertentu. Lebih lanjut, Popmama.com telah merangkum beberapa fakta seputar pengangkatan rahim yang perlu Mama tahu.

1. Disebut juga histerektomi

1.	Disebut juga histerektomi
Pexels/Vidal Balielo Jr.

Operasi pengangkatan rahim disebut juga histerektomi, kondisi ketika rahim  perempuan “dibuang” dari tubuhnya sendiri.

Usai rahim diangkat, seorang perempuan tidak lagi mengalami menstruasi dan karenanya tidak bisa hamil lagi.

Dalam dunia kedokteran, dikenal beberapa jenis histerektomi. Ini bergantung pada mengapa tindakan itu dilakukan dan bagian sistem reproduksi mana saja yang diangkat.

  • Histerektomi radikal, pengangkatan rahim dan jaringan di sekitarnya, termasuk vagina bagian atas, ovarium, jaringan lemak, tuba falopi dan kelenjar getah bening. Biasa dilakukan jika pasien mengidap kanker.
  • Histerektomi total dengan salpingo-oophorectomy bilateral, pengangkatan rahim, leher rahim, tuba falopi, dan ovarium.
  • Histerektomi sebagian, pengangkatan tubuh utama rahim, leher rahim tidak ikut disertakan.
  • Histerektomi total, rahim dan leher rahim diangkat, termasuk operasi yang paling umum.

Editors' Picks

2. Kondisi medis penyebab histerektomi

2.	Kondisi medis penyebab histerektomi
Cbdtesters.co

Beberapa kondisi medis berikut menjadi penyebab mengapa pengangkatan rahim perlu dilakukan.

  • Perdarahan berat, terutama jika berdampak pada kualitas hidup, periode menstruasi yang berat dan berkepanjangan, serta pengobatan apapun tidak lagi efektif.
  • Adenomiosis, kondisi ketika jaringan yang melapisi rahim tumbuh hingga 2-3 kali ukuran normal. Akibatnya, muncul rasa nyeri panggul dan sakit berlebihan saat menstruasi.
  • Fibroid, tumor yang tumbuh di sekitar rahim. Gejalanya mulai dari menstruasi berat dan nyeri panggul, sembelit, dan tidak nyaman saat berhubungan seksual. Ukuran fibroid yang sangat besar bisa menyebabkan perdarahan berat. Fibroid sering menjadi alasan utama mengapa histerektomi dilakukan.
  • Endometriosis, kondisi ketika sel-sel yang melapisi rahim tumbuh pada daerah lain tubuh dan sistem reproduksi. Akibatnya, jaringan di sekitarnya akan meradang dan rusak, sehingga menimbulkan efek berupa nyeri dan periode menstruasi tidak teratur, ketidaksuburan, dan sakit saat berhubungan seksual.
  • Kanker, seperti kanker leher rahim, kanker ovarium, dan kanker rahim, mempunyai risiko tinggi untuk tindakan pengangkatan rahim. Tindakan ini menjadi pilihan paling logis jika kanker sudah masuk stadium lanjut dan telah menyebar ke bagian tubuh lain.
  • Penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease, kondisi saat infeksi bakteri menyerang sistem reproduksi wanita. Sebetulnya, infeksi ini bisa diobati dengan antibiotik, tetapi jika sudah menyebar bisa merusak tuba falopi dan rahim.
  • Prolaps uteri atau turun peranakan, biasanya akibat jaringan dan ligamen yang menopang rahim melemah. Posisi rahim pun turun ke dalam saluran vagina. Kondisi ini mungkin terjadi akibat melahirkan.

Kondisi medis di atas umumnya bisa diatasi dengan tindakan pengangkatan rahim. Namun, langkah ini ditempuh jika penyakit tersebut benar-benar sudah parah dan perempuan tidak lagi ingin punya anak.

3. Apa yang dialami perempuan setelah histerektomi?

3.	Apa dialami perempuan setelah histerektomi
Freepik/Bugphai

Sejatinya, histerektomi adalah operasi besar. Maka, waktu pemulihannya pun relatif lama, bisa sekitar 6-8 minggu.

Namun, bagi perempuan yang mengidap penyakit tertentu, tindakan ini bisa meningkatkan kualitas hidup karena telah “bebas” dari kondisi kesehatan yang kurang baik atau periode menstruasi yang berat.

Beberapa perubahan yang mungkin dialami perempuan setelah operasi pengangkatan rahim adalah:

  • Menopause karena setelah ovarium diangkat, otomatis petempuan tidak lagi menstruasi tiap bulan. Maka, kemungkinan ia mengalami gejala menopause juga semakin tinggi.
  • Perubahan nafsu seksual. Pengangkatan ovarium, khususnya, bisa menurunkan nafsu seks. Beberapa perempuan juga mengalami kondisi vagina kering dan ini bisa berdampak pada kehidupan seksual dengan pasangan.
  • Peningkatan risiko masalah kesehatan lain. “Kehilangan” bagian tubuh bisa meningkatkan risiko terjadinya masalah pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Beberapa  gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah masalah pada tulang, inkontinensia urin, dan penyakit jantung.
  • Masalah psikologis. Sebagian besar perempuan yang melalui pengangkatan rahim bisa merasa sangat sedih hingga depresi karena kehilangan bagian terpenting dari tubuh perempuan. Belum lagi soal perubahan-perubahan dalam tubuh. Konsultasi pada dokter atau psikolog tentang masalah ini bisa membantu seorang perempuan melewati masa pemulihan.

Itulah fakta seputar pengangkatan rahim atau histerektomi yang perlu Mama tahu.

Meski keputusan ini berat, tetapi jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan dan pengobatan medis apapun tidak membuahkan hasil, bisa jadi ini langkah terbaik.

Selalu berdiskusi dengan dokter terkait risiko, persiapan, biaya, dan kesiapan mental Mama jika memang harus menjalani histerektomi.

Baca juga: 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;