Faktor Penyebab Pusar Gatal dan Cara Mengatasinya

Jangan anggap enteng munculnya rasa gatal di pusar

13 Juni 2019

Faktor Penyebab Pusar Gatal Cara Mengatasinya
Freepik/Freepic.diller

Pusar menjadi salah satu area tubuh yang perlu dijaga kebersihannya. Sayangnya, area bodong seringkali luput dari pembersihan sehingga menjadi kotor dan bisa menjadi sarang kuman.

Membersihkan pusar sebaiknya dilakukan secara rutin, setidaknya seminggu sekali. Jika tidak dibersihkan, pusar bisa menjadi kotor dan bahkan mengeluarkan bau tidak sedap.

Bukan tidak mungkin, kondisi ini juga bisa berlanjut menjadi muncul rasa gatal di pusar. Bila hal ini sudah terjadi, masalah yang lebih parah bisa terjadi, misalnya seperti infeksi.

Pengobatan khusus oleh dokter pun diperlukan. Nah, apa saja yang perlu Mama ketahui tentang penyebab pusar gatal dan cara mengatasinya? Berikut Popmama.com rangkum informasinya dari Healthline:

1. Eksim

1. Eksim
Pixabay/Tumisu

Eksim dikenal juga sebagai dermatitis atopik. Apabila sampai terkena eksim, area perut dan pusar bisa terasa gatal. Penampakannya juga akan terlihat kemerahan.

Apabila Mama mengalami eksim atau dermatitis atopik pada pusar, bersihkan secara rutin dengan menggunakan sabun berbahan lembut. Kemudian bilas sampai bersih dan keringkan dengan handuk lembut.

Lakukan secara rutin sampai kemerahan dan gatal menghilang. Jika perlu, Mama juga bisa menggunakan sedikit pelembap dua kali sehari. Ini supaya area pusar tidak kering dan tetap lembap.

Namun jika kemerahan tidak kunjung reda dan justru menjadi semakin parah, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.

2. Dermatitis kontak

2. Dermatitis kontak
Pixabay/Skeeze

Ketika kulit Mama bersentuhan dengan zat yang menyebabkan reaksi alergi (alergen) atau iritan, reaksi tersebut disebut dermatitis kontak.

Dermatitis kontak biasanya terasa gatal dan terlihat juga adanya ruam kemerahan. Jika sudah parah, kondisi ini juga bisa sampai terlihat melepuh, lho.

Selain alergen, bahan lain yang juga bisa memicu dermatitis kontak pada pusar misalnya bahan kimia yang keras pada produk sabun. Produk ini bisa mengiritasi kulit di dalam dan sekitar pusar.

Jika mengalaminya, Mama bisa mengganti sabun dengan produk pembersih kulit lainnya yang lebih lembut dan tidak mengandung alkohol. Sebab bisa jadi, alkohol ini yang memicu kulit pusar kering dan gatal.

Untuk mengatasinya, Mama bisa menghindari alergen atau pemicu iritasi. Gunakan krim topikal anti-gatal dengan minimal 1 persen hidrokortison atau gunakan antihistamin sesuai resep dokter.

3. Infeksi jamur

3. Infeksi jamur
Freepik/Katemangostar

Jamur candida tumbuh subur di tempat yang gelap dan lembap, termasuk seperti di area pusar. Kondisi infeksi akibat jamur ini bisa menyebabkan ruam merah, kulit kering, gatal, dan bengkak.

Infeksi jamur lebih mungkin dialami seseorang saat sedang hamil, kegemukan atau sedang minum antibiotik. Untuk mencegahnya terjadi, cobalah untuk mengenakan pakaian yang longgar dan jaga pusar tetap bersih, terutama di cuaca yang panas dan lembap. Demikian dilansir Web MD.

Candida adalah sejenis jamur yang biasanya tumbuh di area lembap. Jamur ini menyebabkan infeksi yang dikenal sebagai kandidiasis. Apabila sudah parah, infeksi ini juga bisa sampai menyebabkan keluarnya cairan putih.

Untuk pengobatan, gunakan krim antijamur atau losion yang digosokkan langsung ke area tersebut. Misalnya dengan krim miconazole nitrate atau clotrimazole sesuai resep dokter.

Editors' Picks

4. Infeksi bakteri

4. Infeksi bakteri
Freepik

Penumpukan keringat dan sel kulit mati di pusar dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri dan infeksi. Terkadang infeksi pada pusar juga sampai memicu pengeluaran cairan berwarna kecokelatan atau kekuningan.

Seringkali cairan ini juga sampai berbau dan membuat tidak nyaman bagi pengidapnya.

Bakteri juga dapat menginfeksi luka atau kista di area pusar. Jika mengalami hal ini, Mama bisa merasa nyeri, bengkak, dan bernanah.

Supaya cepat sembuh dan tidak semakin parah, dokter mungkin akan memberikan resep obat antibiotik guna mengeringkan cairan yang menumpuk. Jaga kebersihan area pusar untuk mencegah infeksi lanjutan, terutama jika Mama memiliki luka atau goresan.

5. Infeksi akibat tindikan pada pusar

5. Infeksi akibat tindikan pusar
Pixabay/SharonMcCutcheon

Sama seperti tindikan pada area lain, tindikan yang dilakukan di pusar juga bisa memicu infeksi.

Minimalkan risiko infeksi akibat tindikan dengan memilih tempat tindik yang terjamin kesterilan dan kebersihannya. Pastikan orang yang melakukannya mengutamakan konsep steril dan menggunakan peralatan yang bersih juga.

Bersihkan secara rutin area tindikan dengan sabun dan air, serta jaga agar tetap bersih dan kering. Segera hubungi dokter apabila bekas tindikan masih bengkak, merah, atau sakit setelah beberapa hari.

Dokter mungkin akan meresepkan antibiotik topikal atau oral untuk mengobati risiko infeksi yang terjadi di area pusar.

6. Gigitan serangga

6. Gigitan serangga
Freepik

Serangga seperti nyamuk, laba-laba atau kutu juga bisa menimbulkan rasa gatal di area pusar. Gatal ini juga bisa berlanjut hingga memicu ruam, terutama jika kulit Mama sensitif.

Hindari menggaruk area yang gatal, sebab tangan dan kuku yang kotor bisa jadi justru akan membuat area yang tergigit menjadi semakin infeksi.

Untuk perawatan dan pengobatan, gunakan krim anti-gatal topikal yang mengandung setidaknya 1 persen hidrokortison atau minum antihistamin oral dari resep dokter.

Cara membersihkan pusar untuk mencegah gatal dan bau

Dikutip dari Medical News Today, supaya pusar tidak menjadi sarang kuman dan bakteri maka Mama perlu membersihkannya secara rutin.

Selain itu, membersihkan pusar secara rutin juga membantu mencegah datangnya gatal dan bau.

Ini karena membersihkan membantu menghilangkan penumpukan sel kulit mati, keringat dan minyak yang diproduksi tubuh secara alami.

Bersihkan pusar dengan menggunakan air hangat dan sabun lembut, jika perlu gunakan waslap supaya pembersihan lebih detail dan tepat di dalam pusar. Setelah digosok, bilas dengan air hangat kemudian keringkan dengan handuk.

Mengeringkan dengan tepat guna memastikan bahwa semua air telah dikeluarkan dari pusar. Dengan begitu, pusar akan terhindari dari kondisi lembap.

Lakukan pembersihan pusar secara teratur, setidaknya seminggu sekali. Mama juga bisa melakukannya lebih sering, terutama jika aktivitas sehari-hari Mama padat dan banyak rutinitas seperti berolahraga.

Yuk bersihkan pusar secara rutin mulai saat ini juga, Ma!

Bacajuga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;