Permainan chaturanga diperkirakan muncul pada masa pemerintahan kerajaan Gupta di India antara abad ke-4 hingga ke-6 Masehi. Sebuah legenda menyebut Raja Balhait dari India sebagai pencipta permainan ini.
Hal ini bertujuan untuk melatih strategi militer dan menghibur pasukannya. Ini dilakukan dengan cara menggambarkan taktik perang melalui bidak di atas papan.
Pada awalnya, chaturanga dimainkan oleh empat pemain yang masing-masing mewakili divisi militer berbeda: infanteri, pasukan berkuda, gajah, dan kereta perang. Seiring waktu, permainan ini berkembang menjadi versi dua pemain, mirip dengan catur yang kita kenal saat ini.
Seiring penyebarannya ke Persia melalui hubungan perdagangan, chaturanga diadaptasi menjadi "shatranj." Dalam catatan sejarah Persia, permainan ini populer di kalangan bangsawan dan tercatat dalam karya sastra dan sejarah, yang menunjukkan tingginya minat di masyarakat.
Salah satu kisah populer mencatat, bahwa seorang duta besar dari India menghadiahkan permainan ini kepada Raja Persia Khosrow I pada masa kekuasaannya sekitar tahun 531-579 M, memperkenalkan shatranj sebagai bentuk hiburan dan latihan taktik.
Pada masa kejayaan Islam, shatranj mulai menyebar ke wilayah Arab, dikenal sebagai "al-Shatranj." Permainan ini menjadi favorit di kalangan cendekiawan dan bangsawan Arab, dan banyak buku strategi dan taktik catur mulai ditulis.
Termasuk karya-karya dari tokoh terkenal seperti Al-Adli dan As-Suli, yang diakui sebagai ahli dalam permainan ini. Melalui karya mereka, permainan ini berkembang dalam hal aturan dan strategi, menjadikannya bagian dari tradisi dan budaya Arab.
Pada abad ke-10, permainan ini mulai menyebar ke Afrika Utara dan Eropa. Di Spanyol, permainan ini diperkenalkan oleh para penguasa Islam dan kemudian menyebar ke berbagai negara Eropa seperti Italia, Belanda, dan Inggris.
Di Indonesia, permainan ini diperkenalkan pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda dan menyebar ke berbagai wilayah dengan nama "catur."
Permainan catur akhirnya mulai mendapatkan popularitas dan terus mengalami adaptasi dalam bentuk dan aturan, hingga akhirnya menjadi catur modern yang kita kenal saat ini.