Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apa Itu Nyctophobia? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Pexels/Raghav Modi
  • Nyctophobia adalah fobia terhadap kegelapan yang menyebabkan rasa takut berlebihan hingga memengaruhi pikiran, emosi, dan kondisi fisik seseorang.
  • Kondisi ini bisa dipicu oleh trauma masa lalu, pengaruh lingkungan, serta faktor evolusi yang membuat otak lebih waspada saat gelap.
  • Penanganannya meliputi terapi paparan, terapi perilaku kognitif (CBT), dan teknik relaksasi untuk membantu mengurangi ketakutan secara bertahap.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi sebagian orang, suasana gelap mungkin hanya menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman, misalnya jadi lebih waspada atau merasa sepi. 

Tapi bagi sebagian lainnya, gelap justru bisa memicu rasa takut yang jauh lebih besar. Bahkan, ada yang sampai kesulitan tidur tanpa lampu atau merasa panik saat berada di ruangan minim cahaya.

Kondisi ini ternyata dikenal sebagai nyctophobia. Rasa takutnya bukan sekadar tidak suka akan gelap, tapi bisa sampai memengaruhi pikiran, emosi, bahkan kondisi fisik. 

Untuk mengetahuinya lebih lanjut, Popmama.com telah menyiapkan penjelasan lengkap mengenai apa itu nyctophobia berikut ini.

Definisi dan Asal Istilah

Pexels/Beto Santanna

Secara sederhana, nyctophobia adalah rasa takut yang sangat kuat terhadap kegelapan atau malam hari. Dilansir dari Healthline, istilah ini berasal dari bahasa Yunani (nyx), yaitu yang berarti malam dan phobos yang berarti takut.

Menariknya, yang ditakuti bukan hanya kondisi gelap itu sendiri. Banyak pengidap nyctophobia justru merasa cemas terhadap kemungkinan bahaya yang tidak terlihat. 

Pikiran tentang sesuatu yang mengintai di balik kegelapan sering kali terasa lebih menakutkan, meskipun sebenarnya tidak ada ancaman nyata.

Batas antara Takut Normal dan Fobia Klinis

Pexels/Naomi D

Takut gelap sebenarnya wajar, apalagi pada anak-anak. Namun pada orang dewasa, kondisi ini bisa menjadi tanda fobia jika sudah mengganggu aktivitas harian. 

Nyctophobia bisa dikenali ketika seseorang mulai sulit tidur tanpa lampu, merasa sangat cemas saat lampu dimatikan, atau bahkan mengalami serangan panik.

Jika rasa takut ini berlangsung lama, biasanya lebih dari enam bulan, dan tidak kunjung membaik, maka kondisinya tidak lagi dianggap normal. Di titik ini, bantuan dari tenaga profesional biasanya mulai dibutuhkan agar tidak semakin mengganggu kualitas hidup.

Perspektif Medis dan Biologis

Pexels/Kampus Production

Dari sisi medis, nyctophobia termasuk dalam gangguan kecemasan spesifik. Berdasarkan penjelasan dari National Center for Biotechnology Information, kondisi ini sebenarnya berkaitan dengan naluri bertahan hidup manusia sejak zaman dulu.

Di masa lalu, kegelapan memang identik dengan bahaya, seperti ancaman dari hewan liar. Karena itu, otak manusia secara alami menjadi lebih waspada saat gelap. 

Namun pada pengidap nyctophobia, respons ini tetap aktif secara berlebihan, bahkan ketika mereka berada di tempat yang aman seperti kamar sendiri.

Gejala Fisik dan Psikologis yang Muncul

Pexels/cottonbro studio

Nyctophobia tidak hanya memengaruhi pikiran, tapi juga memicu reaksi fisik yang nyata. Dilaporkan oleh USA Today, beberapa gejala yang sering muncul antara lain.

  • Detak jantung meningkat (palpitasi): Jantung berdetak lebih cepat, seolah tubuh sedang menghadapi ancaman langsung.

  • Keringat dingin dan gemetar: Tubuh bereaksi secara otomatis meskipun tidak ada bahaya nyata.

  • Sesak napas atau dada terasa tertekan: Pernapasan menjadi tidak stabil dan bisa memicu rasa panik.

  • Mual atau gangguan pencernaan: Sistem pencernaan ikut terpengaruh karena tubuh berada dalam kondisi stres.

Secara psikologis, penderitanya juga sering merasa ingin segera keluar dari tempat gelap. Bahkan, ada yang sudah merasa cemas sejak siang hari karena membayangkan malam yang akan datang.

Faktor Penyebab dan Pemicu

Pexels/Engin Akyurt

Nyctophobia biasanya dipicu oleh beberapa faktor, bukan muncul begitu saja. Melansir dari Medical News Today, faktor pemicunya ialah sebagai berikut.

  • Trauma masa lalu: Pengalaman buruk di masa kecil yang terjadi dalam kondisi gelap bisa meninggalkan rasa takut yang menetap.

  • Pengaruh lingkungan: Anak yang tumbuh di lingkungan dengan ketakutan berlebihan terhadap gelap bisa ikut mengembangkan rasa takut yang sama.

  • Faktor evolusi: Otak manusia memang cenderung lebih waspada saat penglihatan terbatas, termasuk di kondisi gelap.

Langkah Penangan dan Terapi

Pexels/SHVETS production

Kabar baiknya, penderitanya tidak perlu berlarut-larut dalam ketakutan terus-menerus karena nyctophobia bisa diatasi dengan pendekatan yang tepat. Menurut Healthline, beberapa metode yang sering digunakan antara lain. 

Terapi paparan (exposure therapy): Penderita secara bertahap dibiasakan berada di tempat gelap dalam kondisi yang aman, sehingga rasa takut perlahan berkurang.

Terapi perilaku kognitif (CBT): Terapi ini membantu mengubah pola pikir negatif tentang kegelapan menjadi lebih rasional dan terkendali.

Teknik relaksasi: Teknik ini berupa latihan pernapasan atau meditasi untuk membantu menenangkan tubuh saat rasa panik muncul.

Itu tadi penjelasan lengkap mengenai apa itu nyctophobia. Ketakutan akan gelap memang bisa dialami siapa saja, tapi jika sudah sampai mengganggu pikiran, kualitas tidur, hingga kondisi fisik, sebaiknya jangan diabaikan dan segera berkonsultasi dengan ahlinya.

FAQ Tentang Nyctophobia

1. Bagaimana cara tidur dalam gelap tanpa merasa takut?

Rasa takut tidur dalam keadaan gelap dapat diatasi dengan menciptakan lingkungan tidur yang menenangkan seperti menggunakan suara-suara yang menenangkan sebelum tidur untuk mengelola rasa takut secara perlahan.

2. Apa manfaat tidur dalam gelap?

Tidur dengan lampu mati dapat meningkatkan kualitas tidur secara signifikan karena memicu produksi hormon melatonin, mengatur ulang ritme sirkadian (jam biologis), dan mengurangi risiko depresi.

3. Apakah achluophobia dan nyctophobia sama?

Ya, keduanya sama-sama merujuk pada rasa takut terhadap kegelapan.

Editorial Team