Terlalu Banyak Makan Daging Merah Berisiko Endometriosis?

Jangan berlebihan ya, Ma!

22 November 2020

Terlalu Banyak Makan Daging Merah Berisiko Endometriosis
Freepik/jannoon028

Daging merah adalah salah satu sumber makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh, termasuk tinggi protein.

Biasanya bersumber dari daging sapi, kerbau, domba, atau kambing. Daging merah juga memiliki kadar mineral yang tinggi, seperti zat besi dan zinc yang penting bagi produksi hemoglobin.

Namun yang perlu diingat, daging berwarna merah telah terbukti mempunyai tingkat kolesterol serta lemak jenuh lebih tinggi dibanding dengan daging ayam atau ikan.

Sehingga Mama perlu memperhatikan porsi dan frekuensi dalam mengonsumsinya.

Berikut ini Popmama.com bagikan beberapa informasi terkait yang perlu Mama ketahui:

1. Dampak lain dari konsumsi daging merah yang berlebihan

1. Dampak lain dari konsumsi daging merah berlebihan
Freepik/mrsiraphol

Selain penyakit jantung karena kolesterol yang tinggi, banyak penyakit lain yang bisa ditimbulkan dari konsumsi daging merah yang berlebihan.

Sebelumnya, beberapa masyarakat awam percaya bahwa daging merah dapat berdampak bagi kesuburan. Tetapi, sebuah penelitian baru mengungkap bahwa mengonsumsi 2 atau lebih porsi daging merah dalam seminggu meningkatkan risiko terjadinya endometriosis pada perempuan sebesar 56 persen.

Dalam penelitian, daging merah disebut dapat meningkatkan kadar estrogen pada perempuan, yang menyebabkan endometriosis.

Endometriosis terjadi ketika jaringan yang melapisi rahim tumbuh di bagian lain dari tubuh, seperti indung telur. Hal ini dapat menyebabkan nyeri yang menyiksa dan membuat perempuan sulit hamil. Kasus ini sudah mempengaruhi 1 dari 10 perempuan usia produktif.

Editors' Picks

Temuan Konsumsi Daging Merah Sebabkan Endometriosis

Temuan Konsumsi Daging Merah Sebabkan Endometriosis
freepik

Temuan ini bersumber dari sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Obstetrics & Gynecology.

Para peneliti dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Washington, menganalisis 81.908 perempuan pra-menopause di Amerika Serikat antara tahun 1991 dan 2013. Setiap empat tahun, para perempuan menyelesaikan kuesioner diet.

Para peneliti juga memantau setiap kasus endometriosis yang dikonfirmasi melalui pembedahan di antara para responden tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging merah yang tinggi lebih cenderung berdampak pada endometriosis yang menyebabkan rasa sakit, daripada mempengaruhi kesuburan.

Sementara itu, daging unggas, ikan dan makanan laut lainnya dinilai tidak berpengaruh pada risiko endometriosis seorang perempuan.

Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan apakah mengurangi daging merah juga bisa mengurangi gejala endometriosis pada perempuan yang sudah memiliki kondisi tersebut.

Menyusui Mengurangi Risiko Endometriosis Hingga 40 Persen

Menyusui Mengurangi Risiko Endometriosis Hingga 40 Persen
Freepik/yanalya

Temuan yang dirilis September lalu ini menyatakan bahwa menyusui mengurangi risiko endometriosis pada perempuan hingga 40 persen.  Penelitian juga menemukan, menyusui secara alami selama kurang lebih 2 tahun juga  bisa mengurangi risiko gangguan endometriosis yang menyakitkan.

Dalam temuan juga dikatakan, risiko endometriosis bisa diturunkan sebesar 8  persen untuk setiap fase tiga bulan menyusui per kehamilan, sementara secara menyusui secara eksklusif 6 bulan bisa mengurangi risiko sebesar 14 persen.

Hal tersebut dinilai karena perubahan hormonal pada perempuan yang terjadi selama menyusui. Pemberian ASI juga mengubah pelepasan hormon tertentu, seperti oksitosin dan estrogen, yang dapat menentukan risiko perempuan mengalami gangguan endometriosis.

Baca Juga: Sangat Mulia, Seorang Mama Mendonasikan ASI Lebih dari 900 Galon

Baca Juga: 5 Tips Memperlancar ASI untuk Ibu Menyusui ala Tantri Namirah

Baca Juga: Sebelum Membeli Pompa ASI, Perhatikan 8 Hal Berikut!

Apa Itu Endometriosis?

Apa Itu Endometriosis
Freepik/nikitabuida

Endometriosis terjadi ketika sel-sel di lapisan rahim tumbuh di tempat lain di dalam tubuh. Pada kasus ini, darah yang luruh pada masa menstruasi mengendap dan tidak bisa keluar karena terletak di luar rahim.

Beberapa gejala yang dialami ketika endometriosis termasuk, rasa nyeri, periode menstruasi berat, kelelahan, risiko infertil, masalah usus dan kandung kemih.

Penyebab endometriosis seringkali tidak diketahui, tetapi mungkin penyebabnya adalah faktor genetik  dengan masalah sistem kekebalan atau paparan bahan kimia.

Penanganan endometriosis biasanya dengan meningkatkan kualitas hidup pasien, termasuk tindakan operasi dan perawatan hormon.

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.