5 Dampak Buruk Menggunakan Kipas Angin Saat Tidur

Apakah kamu selalu mengandalkan kipas angin?

31 Maret 2019

5 Dampak Buruk Menggunakan Kipas Angin Saat Tidur
Butterflies and Wheels

Cuaca sekarang memang udaranya semakin memanas saja. Hal inilah yang membuat banyak orang sering menggunakan kipas angin untuk menyejukkan ruangan.

Kipas angin yang harganya lebih ekonomis selalu diandalkan orang untuk kesejukan di dalam ruangan.

Keberadaan kipas angin pun kini menjadi perlengkapan rumah tangga yang wajib dimiliki. Bahkan saat tidur pun sebagian orang selalu memakainya semalaman di kamar.

Padahal sebenarnya berbahaya untuk kesehatan. Mau tahu apa saja dampak buruk menggunakan kipas angin saat tidur? Berikut Popmama.com sajikan rangkumannya!

1. Alergi debu

1. Alergi debu
Freepik/vacharapongw

Sebenarnya kesejukan kipas angin itu hanya sirkulasi udara yang hanya diputar di dalam ruangan saja.

Tapi tanpa kamu sadari bahwa keberadaan kipas angin tidak ada pergantian udara, sehingga membuatmu menghirup kembali hasil sisa pernapasan sendiri.

Saat kamarmu tidak dapat menyaring udara dengan baik, maka kipas angin berpotensi menyebarkan bakteri, kuman atau bahkan virus lewat udara.

Nah, teruntuk kamu yang selalu mengandalkan kipas angin di saat tidur maka sangat tidak dianjurkan menggunakannya setiap hari. 

Sebab kipas angin yang terus-terusan menyala, walhasil dapat menyedot debu di ruangan dan mengakibatkan debu-debu tersebut ke arahmu. Hal ini menyebabkan tenggorokan terasa sakit, batuk-batuk hingga terserang asma karena alergi debu.

Editors' Picks

2. Bell palsy

2. Bell palsy
Freepik/Benzoix

Saat kamu kegerahan dan menyalakan kipas angin sampai membuatmu tertidur, maka akan mengakibatkan dampak buruk seperti sindrom bell palsy.

Di mana penyakit ini sebuah kelumpuhan yang menyerang wajah pada seseorang. Kondisi ini terjadi karena wajah selalu terkibas suhu dingin dari angin, sehingga wajah jadi lebih menegang.

Ketika kamu terkena penyakit ini, wajah kamu akan terasa tegang terus dan sulit senyum atau berekspresi.

Apakah kamu pernah mengalami hal ini?

3. Hipertermia

3. Hipertermia
Freepik/Topntp26

Berlama-lama menggunakan kipas angin di malam hari juga akan mengakibatkan hipertermia.

Kondisi hipertermia adalah ketika suhu tubuh seseorang berada di atas normal (36°C) dan terus berada di tingkatan yang lebih saat tubuh tidak mampu menahan suhu panas.

Maka dati itu ketika cuaca sedang sangat panas sebaiknya tidak menyalakan kipas angin di dalam ruangan yang tanpa adanya ventilasi udara. Bukalah semua jendela saat menyalakan kipas angin.

Nah, ketika jendela terbuka tubuh pun akan merespons dengan mengeluarkan keringat. Tetapi jika suhu ruangan lebih panas dibandingkan suhu tubuh, maka dapat meningkatkan tekanan panas pada tubuh atau terjadi hipertermia.

4. Kekurangan oksigen

4. Kekurangan oksigen
Freepik

Tidur menggunakan kipas angin memang terasa sejuk, ya. Tapi tahukah kamu akan dampak buruk selanjutnya?

Ternyata bilah kipas yang terus berputar kencang akan membuat paru-parumu tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, lho.

Keluarnya udara dingin dari kipas angin, maka angin tersebut akan mengenai hidung maupun mulut. Hal ini bisa memperparah kondisi, sehingga kamu kekurangan oksigen dan jadi sulit bernapas.

5. Kekurangan cairan dalam tubuh

5. Kekurangan cairan dalam tubuh
Freepik/eddows-animator

Ketika semalaman suntuk kamu selalu menggunakan kipas angin, maka bisa menurunkan kualitas tidur.

Tahukah kamu? Saat tertidur lelap dengan kesejukan dari kipas angin, ternyata udara dingin di ruangan dapat menyerap air dalam tubuhmu. 

Hal itu membuat tubuh jadi terasa lemah. Padahal tubuh kita sangat membutuhkan air.

Saat tubuh kekurangan cairan, organ tubuh maupun kulit jadi tidak dapat berfungsi dengan baik.

Apabila tubuh mengalami kekeringan akibat kekurangan cairan, maka kelembaban tubuh akan menurun dan kamu pun juga merasa kehausan di tengah malam.

Hmm, ternyata tidur dengan kipas angin yang menyala semalaman bisa mendatangkan bahaya ya!

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.