Infeksi Serius, Inilah 5 Fakta Seputar Antitoksin Difteri

Kini penyakit difteri dapat dicegah dengan vaksin, lho!

2 Desember 2020

Infeksi Serius, Inilah 5 Fakta Seputar Antitoksin Difteri
Pexels/Gustavo Fring

Tahukah kamu?

Difteri adalah infeksi serius dan disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang membuat toksin (racun). 

Bakteri difteri sendiri menyebar dari orang ke orang, biasanya melalui tetesan pernafasan seperti dari batuk atau bersin.

Dilansir dari Mayoclinic, saat ini penyakit difteri tidak hanya dapat diobati dan dicegah dengan vaksin. Vaksin difteri biasanya digabungkan dengan vaksin untuk tetanus dan batuk rejan (pertusis). 

Gejala yang ditimbulkan seperi lemas, sakit tenggorokan, demam, pembengkakan leher dan muncul amandel yang bila diangkat akan berdarah, sulit bernapas sserta sulit menelan.

Nah, dalam kesempatan kali ini Popmama.com akan memberikan 5 fakta seputar antitoksin difteri. Yuk, langsung cek informasi selengkapnya!

1. Kapan antitoksin difteri harus diberikan?

1. Kapan antitoksin difteri harus diberikan
Freepik/wirestock

Hal yang perlu diketahui, bahwa terapi antitoksin (DAT) harus diberikan sesegera mungkin.

DAT harus dikasih segera untuk kasus yang mungkin terjadi dengan difteri pernapasan seperti sakit tenggorokan, demam ringan dan adanya selaput yang melekat pada amandel.

Selain itu, pemberian DAT secepat mungkin guna meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

Bahkan antitoksin sudah bisa diberikan pada pasien sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium dan terbukti diagnosis penyakitnya.

Editors' Picks

2. Antitoksin difteri diberikan dalam bentuk apa?

2. Antitoksin difteri diberikan dalam bentuk apa
Pexels/Gustavo Fring

Sebenarnya, antitoksin difteri (DAT) adalah obat yang terbuat dari antibodi dan digunakan dalam pengobatan difteri. 

Untuk kasus yang lebih ringan, DAT diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah atau otot.

Sedangkan pada kasus berat, antitoksin difteri biasanya diberikan dalam cairan infus.

Pada umumnya, dosis antitoksin difteri anak dan dewasa tidak berbeda dan disesuaikan dengan gejala klinis yang muncul.

Namun dosis antitoksin harus dicampur dalam 250-500 mL saline normal dan diberikan secara perlahan selama 2-4 jam, yakni guna memantau anafilaksis secara ketat. 

3. Bagaimana cara kerja antitoksin difteri?

3. Bagaimana cara kerja antitoksin difteri
Freepik

Mengingat racun difteri sangat berbahaya, maka pemberian antitoksin difteri memang harus segera dilakukan.

Namun disisi lain, tidak semua orang cocok menggunakannya. Ada beberapa orang yang sensitif atau alergi terhadapnya.

Apabila orang-orang ini diberikan, maka bisa menimbulkan reaksi yang membahayakan.

Oleh sebab itu, pasien harus menjalani uji hipersensitivitas (uji alergi) sebelum menggunakannya.

Hal tersebut agar menghindari kerusakan lebih lanjut dan mencegah komplikasi penyakit.

4. Apakah antitoksin difteri bisa sebagai tindakan pencegahan?

4. Apakah antitoksin difteri bisa sebagai tindakan pencegahan
Pexels/simon

Biasanya difteri yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae adalah infeksi saluran pernapasan dan menginfeksi selaput lendir, terutama tenggorokan. 

Meski jarang terjadi, difteri merupakan penyakit serius yang dapat mengancam jiwa.

Sedangkan antitoksin difteri digunakan untuk mencegah infeksi difteri pada orang yang terkena penyakit tersebut.

Namun antitoksin difteri harus diberikan hanya oleh atau di bawah pengawasan dokter.

Berikut adalah orang-orang yang mungkin membutuhkan antitoksin untuk pencegahan difteri :

  • Orang-orang yang terpapar toksin difteri
  • Orang dengan riwayat imunisasi difteri yang tidak jelas (lupa sudah pernah imunisasi Dt dan Td atau belum)
  • Tidak bisa dirawat di rumah sakit untuk dipantau perkembangan gejala klinisnya
  • Orang yang memilki riwayat atau dicurigai tersuntik toksin difteri (misalnya pekerja di laboratorium atau rumah sakit)

5. Apa saja efek samping dari antitoksin difteri?

5. Apa saja efek samping dari antitoksin difteri
Freepik/stockking

Sama seperti obat-obatan lainnya, antitoksin difteri juga berisiko menyebabkan efek samping. Oleh sebab itu, risiko pemberiannya harus ditimbang terlebih dahulu.

Drugs berkata, untuk antitoksin difteri, kamu harus mempertimbangkan. Katakan kepada dokter jika kamu pernah mengalami reaksi alergi atau tidak biasa terhadap antitoksin difteri.

Lalu apa saja efek samping setelah penyuntikkan antitoksin difteri, antara lain:

  • Alergi dan syok anafilaktik

Syok anafilaktik atau anafilaksis adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang tergolong berat. Bahkan kondisi ini bisa mengancam nyawa seseorang yang mengalaminya. Pasalnya syok anafilaktik berkembang hanya dalam beberapa menit setelah pengidap terkena alergen.

Reaksinya pun akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis, sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu, sulit bernapas hingga penurunan kesadaran.

  • Demam

Efek lainnya yakni mengalami demam yang bisa muncul 20 menit sampai satu jam setelah penyuntikan antitoksin difteri. Biasanya demam ditandai dengan peningkatan suhu tubuh yang cepat disertai rasa menggigil dan sesak.

  • Serum sickness

Biasanya kondisi serum sickness ditandai dengan gejala kemerahan kulit, biduran, demam, disertai nyeri sendi, pegal dan pembesaran kelenjar limfa.

Itulah kelima fakta mengenai antitoksin difteri. Segera hubungi dokter jika kamu atau anak pernah terpapar penderita difteri. 

Baca juga :

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.