Beri Uang ke Pengemis, Warga Jakarta Bisa Kena Denda Jutaan

Manusia silver yang meminta uang serta pengamen dengan ondel-ondel juga tak boleh diberi uang ya

29 Maret 2021

Beri Uang ke Pengemis, Warga Jakarta Bisa Kena Denda Jutaan
Freepik/Momemoment

Sudah bukan hal baru bahwa warga Jakarta dilarang memberikan uang ke pengemis.

Untuk mewujudkan kota yang bersih dan rapi, Jakarta memberlakukan beberapa peraturan. Salah satunya adalah melarang pengemis, pengamen dan pedagang asongan berkeliling di jalan Jakarta. 

Tak hanya melarang pelaku, namun juga memberi sanksi bagi mereka yang memberikan uang ke para pengemis. 

Seperti apa larangannya, dan siapa saja yang tidak boleh diberikan uang? Popmama.com akan menjabarkan apa saja larangannya. 

1. Larangan memberikan uang untuk para pengemis

1. Larangan memberikan uang para pengemis
Pexels/EVG Culture

Pasal 40 Perda Nomor 8 Tahun 2007 mengatur, bahwa setiap orang atau badan dilarang untuk:

  1. menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  2. menyuruh orang lain untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  3. membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil. 

Dengan begitu, sudah tertulis jelas bahwa masyarakat tidak disarankan memberikan uang atau membeli barang dari mereka. 

Editors' Picks

2. Sanksi bagi yang memberikan

2. Sanksi bagi memberikan
(ilustrasi) IDN Times/Arief Rahmat

Untuk memberi efek jera dan pengemis tidak makin menjamur, maka diadakan juga sanksi bagi mereka yang melanggar peraturan. 

Bagi mereka yang melanggar peraturan tersebut adalah pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari. Ada juga denda paling sedikit Rp 100.000 dan paling banyak Rp 20 juta. 

Namun sejauh ini, Satpol PP masih mengutamakan penindakan persuasif. Yaitu edukasi pada masyarakat agar sadar bahwa tindakan memberi uang pada pengemis dan pengamen adalah hal yang dilarang. 

3. Siapa saja pengemis itu?

3. Siapa saja pengemis itu
Pexels/Ivan Nurdin

Jika bicara tentang pengemis, pasti langsung teringat dengan mereka yang duduk di tepi trotoar membawa wadah untuk uang. Nyatanya, lebih luas dari itu. 

Mereka yang menjadi patung seperti manusia silver, pengamen dengan ondel-ondel, dan orang yang berjualan di lampu merah pun termasuk. 

Sebenarnya, manusia silver yang mengadakan pertunjukan dengan menjadi patung di satu tempat bukanlah masalah. Namun jika berjalan-jalan di tepi jalan atau lampu merah barulah jadi masalah. 

Pengamen ondel-ondel dianggap tidak menghormati budaya karena ondel-ondel sendiri merupakan warisan budaya dari Jakarta. 

Sehingga, Mama bisa lebih hati-hati dalam memberikan uang atau membeli sesuatu di jalan. 

4. Larangan memberi sedekah pada pengemis menurut MUI

4. Larangan memberi sedekah pengemis menurut MUI
Freepik

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pangkalpinang, Abdul Karim Syamsuri melarang masyarakat untuk memberikan sedekah pada para pengemis. 

Karena menurutnya, memberikan pada pengemis bisa memperbanyak kehadiran pengemis di sebuah daerah. 

Lebih baik, warga bisa memberikan sedekah ke masjid, lembaga zakat, atau panti asuhan agar penyerapannya lebih bermanfaat. 

Lebih lanjut lagi Abdul Karim menyebutkan bahwa dalam ajaran Islam telah melarang perbuatan minta-minta dan mengharapkan belas kasihan pada orang lain. 

Jadi, pastikan Mama lebih berhati-hati lagi ya selama di jalan!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.