Mengenal Delirium, Gejala Baru Pasien Covid-19 yang Perlu Diwaspadai 

Benarkah delirium menjadi gejala baru dari Covid-19?

12 Desember 2020

Mengenal Delirium, Gejala Baru Pasien Covid-19 Perlu Diwaspadai 
Pixabay/fotoblend

Jumlah angka positif Covid-19 dari hari ke hari terus meningkat, bahkan dilaporkan ada gejala baru yang perlu diwaspadai oleh semua orang selama pandemi.

Delirium disebut sebagai salah satu menjadi gejala baru Covid-19 yang berpotensi menyerang seseorang berusia lanjut. Dilansir dari Healthline, delirium secara umum memang lebih berisiko pada kelompok usia lansia. 

Delirium adalah gangguan pada saraf pusat di mana seseorang mengalami kebingungan parah dan kesadarannya pelan-pelan akan berubah.

Gangguan kesehatan ini menyebabkan perubahan fungsi otak. Kondisi tersebut bisa memengaruhi sistem kekebalan tubuh ketika merespons virus atau bakteri. 

Kategori lansia sendiri di berbagai negara pun memiliki rentang usia yang berbeda-beda.

Seseorang disebut sebagai lansia jika telah berusia 60 tahun ke atas (di negara berkembang), semetara ada juga yang dikategorikan ke dalam usia lansia ketika menginjak 65 tahun ke atas (di negara maju). 

Jika Mama ingin mengetahui lebih banyak informasi terkait delirium, kali ini Popmama.com telah merangkumnya secara detail. 

Diharapkan ini bisa menjadi pengetahuan baru ya, Ma. 

Editors' Picks

1. Kelompok lansia perlu waspada mengalami delirium

1. Kelompok lansia perlu waspada mengalami delirium
Pixabay/mogcity

Berdasarkan penelitian dan studi baru, delirium ditetapkan sebagai salah satu gejala seseorang terinfeksi Covid-19.

Ini perlu diwaspadai khususnya untuk kelompok lansia yang sudah berumur dan rentan terinfeksi penularan virus. 

Dilansir dari Eurekalert, sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Universitat Oberta de Catalunya (UOC) mengatakan bahwa beberapa pasien Covid-19 bisa mengalami delirium. 

Gangguan kesehatan tersebut bisa terjadi bersamaan dengan hilangnya indra penciuman dan perasa. 

"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah mereka sedang bermimpi. Kita perlu waspada terutama saat situasi pandemi seperti ini, apalagi jika seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan mungkin saja merupakan indikasi infeksi," jelas Javier Correa, peneliti UOC. 

2. Seseorang yang mengalami delirium akan memengaruhi sistem saraf pusat

2. Seseorang mengalami delirium akan memengaruhi sistem saraf pusat
Pixabay/pyou93

Dilansir dari Eurekalert, peneliti UOC mengatakan bahwa memang ada indikasi bahwa seseorang yang terinfeksi Covid-19 juga akan memengaruhi sistem saraf pusat.

Kondisi inilah yang bisa memicu gangguan neurokognitif, seperti sakit kepala, delirium serta gejala psikotik.

Apabia studi penelitian ini benar, maka akan menyebabkan kurangnya pasokan oksigen pada otak.

Tak hanya itu, bahkan akan terjadi peradangan jaringan otak akibat badai sitokin yang dipicu oleh virus.

Para peneliti dari UOC juga telah menerbitkan penjelasan terkait delirium ini ke dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy.

3. Apa saja faktor yang menyebabkan risiko seseorang terkena delirium? 

3. Apa saja faktor menyebabkan risiko seseorang terkena delirium 
Freepik

Dilansir dari Healthline, risiko seseorang terkena delirium bisa meningkatkan karena dipicu oleh beberapa faktor. 

Faktor pemicu tersebut bisa menyebabkan pasien positif Covid-19 pada kelompok lansia rentan terkena delirium, antara lain: 

  • Tidak memiliki kualitas tidur yang cukup.
  • Mengonsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu.
  • Memiliki riwayat mengalami stoke atau demensia.
  • Mengalami infeksi seperti infeksi saluran kemih. 
  • Memiliki nutrisi yang buruk dan memicu kesehatannya menurun.
  • Sedang berada di bawah tekanan emosional yang ekstrem, sehingga kesehatan mentalnya terganggu. 

Apabila delirium dialami oleh kelompok lansia disertai dengan bantuk yang terus berlanjut, suhu badan suhu badan di atas 37,8 derajat celsius, bahkan hilangnya indera penciuman dan perasa, maka ini perlu diwaspadai.

Gejala-gejala umum tersebut bisa saja menjadi tanda terinfeksi Covid-19. 

Nah, itulah beberapa rangkuman informasi terkait delirium. Walau terus masih dilakukan penelitian dan studi terbaru, namun masalah kesehatan ini memang tidak bisa dianggap sepele.

Usahakan untuk tetap menjaga imunitas tubuh dan sehat secara fisik serta mental ya, Ma. 

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.