Produktif atau Toxic Produktivity, Kamu Tipe yang Mana Nih?

Benarkah kamu produktif atau hanya toxic productivity?

13 Oktober 2021

Produktif atau Toxic Produktivity, Kamu Tipe Mana Nih
Freepik/DCStudio

Mungkin kamu berpikiran saat pandemi seperti ini, mumpung lagi di rumah, kenapa nggak melakukan sesuatu yang produktif sih? 

Pikiran itulah yang terbesit di kepalamu, meskilun kamu audah menjalaninya selama setahun kehidupan di masa pandemi. 

Rasanya, ketika ada waktu kosong, kamu akan merasa banyak waktu terbuang sia-sia begitu saja, ya?

Sebagian akan memilih untuk melakukan hal-hal produktif dalam satu hari sekaligus, seperti mengambil kursus bahasa asing, mengerjakan berbagai macam pekerjaan dibarengi dengan meeting kantor yang tiada henti. 

Kalau kamu sudah kelelahan barulah kamu tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu bukan masuk ke kategori produktif. 

Dilasir dari Riliv Indonesia,Popmama.com akan mengajakmu mengetahui batas yang jelas antara menjadi produktif dan toxic productivity dan barangkali, kamu mengalami jenis yang kedua.

1. Tanda-tanda kamu mengalami toxic productivity

1. Tanda-tanda kamu mengalami toxic productivity
Freepik/Gpointstudio

Toxic productivity adalah istilah lain dari “overworking”, “workaholic”, dan kata-kata yang menggambarkanmu sebagai pribadi yang terlalu banyak yang dikerjakan sehingga mengesampingkan istirahat dan kesehatan. 

“Toxic productivity itu memunculkan rasa bersalah kalau tidak mengerjakan sesuatu. Ujung-ujungnya, mengalami burnout yang membahayakan kesehatan, dan itu harus dihindari," jelas Graheta Rara Purwasono, M.Psi, psikolog Riliv Indonesia. 

Dalam tahap ini, pada akhirnya kamu tidak ada quality time bersama teman maupun keluarga, sampai waktu untuk me time diri sendiri pun kamu tidak punya. Ini terjadi ketika kamu terlalu sibuk untuk bekerja setiap saat.

Editors' Picks

2. Solusi pertama ketika kamu mengalaminya, buatlah batasan yang jelas

2. Solusi pertama ketika kamu mengalaminya, buatlah batasan jelas
Pexels/Gustavo Fring

Ketika pekerjaan adalah satu-satunya hal yang berputar di dalam pikiranmu, maka sulit untuk memikirkan hal lain yang sama pentingnya.

Maka solusinya agar kamu mendapat istirahat yang berkualitas, atau dapat menghabiskan waktu bersama keluarga terkasih adalah dengan menentukan batas. 

Ma, kamu harus bisa menentukan batasan yang mengubah mindset-mu dari yang hanya memikirkan pekerjaan ke hal-hal lain yang berarti dalam hidupmu seperti:

  1. Tidak boleh bekerja selama tiga jam tanpa diselingi break.
  2. Harus quality time dengan keluarga di minggu ini.
  3. Harus tidur cukup selama 8 jam setiap hari

3. Solusi kedua, terapkan “professional detachment”

3. Solusi kedua, terapkan “professional detachment”
Pexels/Sasha Kim

Ini khusus buat kamu yang bisa saja melakukan meeting lima kali dalam sehari, atau lebih. Perlu diingat, kamu memiliki hal yang lebih penting daripada pekerjaan, dan itu adalah kesehatan baik fisik maupun mentalmu sendiri.

Pahami bahwa menjadi pekerja bukanlah identitasmu satu-satunya di dunia ini. Kamu tidak hanya semata-mata seorang pekerja, tetapi juga orang tua, pacar, teman, dan lain sebagainya.

Saat kamu menerapkan “professional detachment”, kamu memperlakukan pekerjaan sebagai sesuatu yang akan kamu tangani setelah menjalankan tanggung jawab lain di luar itu.

4. Praktikkan mindfulness

4. Praktikkan mindfulness
Freepik/karlyukav

Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau mindfulness atau melakukan apaun secara sadar, dapat membantumu berhubungan dengan dunia dengan cara yang lebih sehat.

Dengan mindfulness, kamu akan lebih mudah untuk menyadari apa yang dibutuhkan oleh tubuh dan pikiranmu bukanlah sebuah toxic productivity, tapi produktivitas yang sehat. 

Kamu dapat menerapkan mindfulness dengan melakukan meditasi. Hal ini mudah dan praktis. Hanya perlu duduk diam, pejamkan mata, dan pikiranmu akan jernih setelahnya.

Mulai sekarang, yuk Ma, tinjau kembali produktivitasmu dan tinggalkan toxic productivity. 

Karema produktivitas yang baik adalah produktivitas yang memberimu waktu untuk beristirahat, dan pada saat yang bersamaan, mendorongmu untuk mencapai tujuan dengan cara yang jelas lebih sehat. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.