Penyakit Moluskum Kontagiosum (MK) merupakan penyakit kulit yang selama ini belum diketahui masyarakat. Mengenali gejala penyakit ini memang tidak mudah, sehingga sulit dideteksi sejak dini.
Namun penyakit yang sering disebut dengan "jerawat kelamin" ini dapat mengganggu kenyamanan penderita dan menurunkan kualitas hidup penderita dalam jangka panjang.
Jika ditemukan jerawat yang meningkat pesat, yaitu di sekitar alat kelamin orang dewasa dan di sekitar punggung, kaki, tangan dan dada anak, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter mengenai penyakit kulit dan kelamin.
Moluskum Kontagiosum (MK) adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh virus pox. MK menimbulkan benjolan yang biasanya berdiameter kurang dari 0,25 inci dan memiliki titik kecil di tengah tonjolan.
Penyakit ini adalah infeksi virus yang sangat menular yang dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak kulit, berbagi pakaian, atau hanya melalui kontak dengan benda yang disentuh oleh orang yang terinfeksi.
Saat ditemui secara virtual pada Rabu (04/11/2020) dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, CEO Klinik Pramudia dalam Virtual Media Briefing yang betemakan "Moluskum Kontagiosum: Jerawat genital yang mengganggu mengatakan hingga saat ini belum terdapat data epidemiologi yang akurat untuk penyakit Moluskum Kontagiosum. Ada penelitian yang menyatakan insiden MK sebesar 1200-1400 kasus per 100,000 penduduk per tahun di seluruh dunia. Berdasarkan kasus MK yang ditemukan di Klinik Pramudia selama 2019 -2020, ditemukan rata-rata sebanyak 2-4 kasus per bulan, baik pada anak maupun dewasa.
"Ditemukan juga beberapa kasus MK pada penderita HIV selama kurun waktu tersebut. Tidak ditemukan jumlah perbedaan kasus MK pada ras dan jenis kelamin yang berbeda. Penderita MK anak di Klinik Pramudia berusia 2-10 tahun dan usia 20-60 tahun pada kasus dewasa."
Ia juga menjelaskan bahwa penyakit ini dapat diobati, sehingga diperlukan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan penyakit ini sedini mungkin sebelum menyebar. Jika ditangani dengan benar dan tidak ada kontak ulang dengan sumber infeksi, MK jarang terjadi.
Lalu, apa saja penyebab MK timbul dan apa gejalanya serta bagaimana cara mengobatinya? Kali ini Popmama.com akan memberikan rangkuman informasi terkait diskusi pada siang ini, Rabu (04/11/2020).
