Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Pengaruh Media Sosial dalam Dunia Kuliner, Review Hingga Resep Viral
Dok. HOLYCOW!
  • Media sosial kini jadi acuan utama sebelum makan, membantu orang menilai tempat dan rasa lewat review agar terhindar dari pengalaman kuliner yang mengecewakan.
  • Kemudahan akses informasi menu, harga, dan suasana lewat media sosial membuat keputusan makan lebih transparan serta meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap tempat kuliner.
  • Media sosial mengubah perilaku kuliner: siapa pun bisa jadi food reviewer, pelaku bisnis wajib adaptif pada tren, dan banyak orang terinspirasi menciptakan resep viral sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di era serba digital seperti sekarang, media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi momen, tapi juga ikut membentuk cara orang mengambil keputusan sehari-hari, termasuk soal makan. 

Dari sekadar mencari rekomendasi menu makan, membaca ulasan, sampai ikut mencoba resep viral, semuanya kini bisa dilakukan hanya lewat satu genggaman. Tidak heran kalau kebiasaan masyarakat, khususnya generasi milenial dan gen z ikut berubah. 

Mereka cenderung lebih selektif, penuh pertimbangan, dan bahkan lebih kreatif dalam urusan kuliner. Melihat besarnya peran media sosial dalam membentuk kebiasaan ini, kira-kira apa saja ya pengaruhnya di bidang kuliner?

Nah, kali ini Popmama.com akan membahas 5 pengaruh media sosial dalam dunia kuliner yang tanpa sadar terasa di kehidupan sehari-hari.

1. Menjadi filter sebelum makan untuk menghindari rasa kecewa

Dok. HOLYCOW!

Media sosial sekarang berperan seperti penyaring awal sebelum seseorang memutuskan makan di suatu tempat.

Banyak orang yang merasa perlu melakukan riset kecil-kecilan agar pengalaman makan mereka tidak berakhir mengecewakan.Kebiasaan ini kini bahkan sudah menjadi hal yang lumrah.

"Zaman sekarang memang mau makan tuh ngeliat social media dulu biasanya. At least liat Google Reviewnya dulu. Karena mereka nggak mau sudah jauh-jauh datang, ternyata makanannya mahal tapi tidak enak, atau sudah macet dan antre panjang tapi hasilnya mengecewakan. Jadi, sekarang orang untuk mau makan keluarga tuh berisiko”. Ujar Wynda Mardio selaku Founder Steak Hotel by HOLYCOW!, pada Kamis (30/4/2026).

Pengalaman buruk saat makan juga bisa meninggalkan kesan yang cukup kuat. Karena itu, banyak orang akhirnya mengandalkan validasi dari media sosial sebelum benar-benar datang ke sebuah tempat.

2. Informasi menu dan harga jadi lebih transparan

Popmama.com/Helga Malya Razita

Kalau dulu orang harus datang langsung untuk tahu seperti apa makanan dan harganya, sekarang semuanya bisa dicek lebih dulu lewat media sosial. Mulai dari tampilan makanan, suasana tempat, sampai kisaran harga, semuanya tersedia dengan mudah.

Kemudahan inilah yang membuat konsumen merasa lebih aman saat memutuskan.

Tidak hanya itu, media sosial yang kerap kali memuat informasi tambahan, seperti kontak yang bisa dihubungi juga membuat calon pelanggan semakin yakin sebelum berkunjung. Mereka bisa menanyakan beberapa hal lainnya sebelum memutuskan untuk makan di tempat tersebut atau tidak.

3. Menjadi pintu masuk utama pelanggan

Popmama.com/Helga Malya Razita

Bagi pelaku bisnis kuliner, media sosial kini bukan lagi sekadar pelengkap, tapi sudah menjadi salah satu channel utama untuk menarik pengunjung. Lewat konten yang menarik, brand bisa lebih mudah dikenal dan diingat.

Walaupun terkesan positif, penggunaan media sosial pada bisnis kuliner juga menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis tersebut. Pelaku bisnis bukan hanya harus berlomba-lomba soal rasa, tapi juga harus selalu mengikuti tren terkini agar tetap relevan dan tidak tertinggal.  

4. Semua orang bisa jadi food reviewer

Pexels.com/Anna Shvets

Media sosial juga membuka ruang bagi siapa saja untuk berbagi pengalaman kuliner mereka. Kalau dulu review makanan identik dengan kritikus profesional, sekarang siapa pun bisa jadi foodies.

Bukan hanya sekedar ingin dikenal di platform media sosial, keinginan untuk berbagi pengalaman dengan orang lain yang belum bisa atau mencoba makanan yang sama menjadi alasan utama 'kenapa banyak orang aktif membuat konten kuliner'.

5. Dari penikmat jadi kreator resep

Dok. HOLYCOW!

Menariknya, pengaruh media sosial tidak berhenti di tahap memilih makanan saja. Kini, banyak orang yang justru terinspirasi untuk ikut berkreasi di dapur setelah melihat konten yang beredar. Sebagai pelaku bisnis kuliner, Wynda juga melihat adanya perubahan besar dalam perilaku ini.

"Eranya tuh menurut aku sekarang orang tuh udah bukan cuma memilih menu tapi mau mengkreasikan menu gitu. Dan menshare-nya ke social media" Ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa semangat untuk menunjukkan hasil masakan kepada orang lain mendorong banyak orang mencoba resep baru, bahkan menciptakan variasi sendiri yang kemudian bisa menjadi tren viral.

Itu dia 5 pengaruh media sosial dalam dunia kuliner. Melihat perubahan ini, ternyata media sosial memang punya peran besar dalam membentuk gaya hidup kuliner masa kini, ya.

FAQ Tentang Pengaruh Media Sosial dalam Dunia Kuliner

1. Mengapa Generasi Z suka mencoba makanan yang tren di media sosial?

Bagi Generasi Z, mencoba makanan yang sedang tren adalah bentuk ekspresi diri, upaya untuk tetap terhubung dengan teman, sekaligus memastikan makanan yang dibeli memang sepadan dengan harganya.

2. Apa saja contoh tren makanan di media sosial?

Makanan yang sedang viral di media sosial biasanya mencakup kombinasi rasa manis dan pedas, camilan baru, makanan kaya protein, kombinasi kreatif, dan penemuan kembali makanan nostalgia .

3. Kenapa konten kreator mukbang bisa makan banyak?

Konten kreator mukbang bisa makan banyak karena kombinasi faktor fisik, seperti ukuran lambung yang lebih besar, dan strategi gaya hidup, termasuk diet ketat di luar waktu syuting, olahraga intensif, hingga teknik editing konten. Beberapa bahkan membatasi frekuensi makan besar agar tidak setiap hari dilakukan.

Editorial Team