Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Penyebab Kanker Tulang, Kenali Bahaya Sejak Dini
unsplash.com/Alex Shuper

Intinya sih...

  • Faktor Genetik dan riwayat keturunan dapat memicu kanker tulang, seperti Sindrom Li-Fraumeni dan Rothmund-Thomson.

  • Mutasi sel tulang yang terjadi secara alami juga bisa menyebabkan kanker tulang, seperti osteosarcoma pada anak-anak dan chondrosarcoma pada orang dewasa.

  • Penyakit tertentu, paparan radiasi berlebihan, gaya hidup, usia, jenis kelamin, serta kondisi sistem imun dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker tulang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kanker tulang memang tergolong langka, tetapi dampaknya bisa sangat serius jika luput dikenali sejak awal. Penyakit ini terjadi saat sel-sel di dalam tulang berkembang abnormal dan membentuk tumor yang mengganggu fungsi tubuh.

Gejalanya sering muncul dalam bentuk nyeri berkepanjangan, pembengkakan, hingga patah tulang tanpa sebab yang jelas. Tanda-tandanya kerap dianggap sepele, banyak orang baru menyadarinya ketika kondisi sudah cukup parah.

Meski penyebab pastinya belum bisa dipastikan, para ahli menemukan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker tulang. Mulai dari kondisi genetik, riwayat medis, hingga paparan tertentu bisa berperan dalam proses ini.

Untuk memahami lebih jauh, berikut Popmama.com sajikan informasi 7 penyebab kanker tulang. Simak di bawah!

1. Faktor Genetik dan riwayat keturunan

pexels.com/Kampus Production

Menurut EMC Health Care, dalam beberapa kasus, kanker tulang bisa dipicu oleh faktor genetik yang diturunkan dalam keluarga. Artinya, seseorang memiliki risiko lebih tinggi jika membawa mutasi gen tertentu sejak lahir. 

Mutasi ini membuat sel-sel tulang lebih rentan tumbuh tidak terkendali, sehingga peluang terbentuknya tumor menjadi lebih besar, baik di usia muda maupun dewasa.

Beberapa kondisi genetik yang diketahui berkaitan dengan kanker tulang antara lain Sindrom Li-Fraumeni, yang meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker tulang. 

Ada juga Sindrom Rothmund-Thomson yang sering dikaitkan dengan osteosarkoma, serta Sindrom Gorlin yang dapat memicu munculnya kanker tulang dan kanker lainnya. Meski jarang, faktor keturunan ini penting dikenali agar pemantauan kesehatan bisa dilakukan lebih dini.

2. Mutasi sel tulang yang terjadi secara alami

pexels.com/Antoni Shkraba

Tidak semua kasus kanker tulang berasal dari faktor keturunan. Pada banyak orang, penyakit ini muncul akibat perubahan gen pada sel-sel tulang yang terjadi sepanjang hidup. 

Mutasi tersebut membuat sel kehilangan kendali atas proses pertumbuhannya, sehingga terus membelah dan membentuk tumor di dalam tulang. Perubahan ini bisa terjadi secara spontan atau dipicu oleh pengaruh lingkungan tertentu.

Beberapa jenis kanker tulang yang berkaitan dengan mutasi sel antara lain osteosarcoma, yang sering menyerang anak-anak dan remaja karena berasal dari sel pembentuk tulang. Kondisi ini biasanya berkembang cepat dan membutuhkan penanganan medis yang tepat sejak dini.

Selain itu, ada chondrosarcoma, yaitu kanker tulang yang tumbuh di jaringan tulang rawan dan lebih banyak ditemukan pada orang dewasa. Memahami perbedaan jenis kanker ini bantu dokter menentukan diagnosis yang akurat serta menyusun rencana perawatan yang sesuai.

3. Penyakit tertentu yang memengaruhi kesehatan tulang

freepik.com/pressfoto

Beberapa kondisi medis dapat membuat tulang lebih rentan mengalami perubahan sel yang berbahaya. Terutama jika penyakit tersebut menimbulkan peradangan dalam waktu lama atau merusak struktur tulang, sel-sel di area tersebut bisa kehilangan kendali dalam proses pertumbuhannya.

Jika dibiarkan, perubahan ini dapat memicu munculnya sel abnormal yang terus berkembang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi kanker tulang.

Contohnya, penyakit Paget tulang dapat menyebabkan pertumbuhan tulang yang tidak normal, sementara osteomielitis kronis merupakan infeksi jangka panjang yang merusak jaringan tulang. Kedua kondisi ini bisa memicu perubahan sel yang berisiko.

Selain itu, dilansir Cleveland Clinic, radioterapi juga berpotensi meningkatkan risiko kanker tulang karena paparan radiasi dapat merusak sel-sel sehat di area tertentu. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat dianjurkan bagi orang dengan riwayat kondisi tersebut.

4. Paparan radiasi berlebihan

freepik.com/wavebreakstudio

Paparan radiasi dalam jumlah tinggi dapat memengaruhi kesehatan sel tulang. Radiasi berpotensi merusak DNA sel, sehingga mengganggu proses pertumbuhan normal dan memicu munculnya sel abnormal. Jika kerusakan ini terus berlanjut, risiko terbentuknya kanker tulang pun bisa meningkat.

Radiasi biasanya berasal dari pengobatan medis seperti terapi kanker, prosedur pencitraan tertentu, atau paparan lingkungan dalam jangka panjang. Meski radiasi sering dibutuhkan untuk tujuan medis, penggunaannya tetap perlu dikontrol dengan baik agar dampaknya pada jaringan tulang bisa diminimalkan.

5. Pengaruh lingkungan dan gaya hidup

Freepik/jcomp

Meski kanker tulang tidak selalu berkaitan langsung dengan gaya hidup, beberapa faktor lingkungan tetap patut diperhatikan. Paparan zat berbahaya, kebiasaan tertentu, hingga pola makan yang kurang seimbang bisa memengaruhi kesehatan sel tulang. 

Misalnya, paparan bahan kimia industri atau zat karsinogen dapat merusak sel tulang. Selain itu, asupan kalsium dan vitamin D yang rendah juga dapat melemahkan struktur tulang, sehingga membuatnya lebih rentan terhadap gangguan kesehatan, termasuk risiko kanker tulang. 

6. Usia dan jenis kelamin

pexels.com/MART PRODUCTION

Kanker tulang dapat menyerang siapa saja, tetapi risikonya tidak selalu sama pada setiap kelompok usia. Beberapa jenis kanker tulang justru lebih sering muncul pada fase hidup tertentu, terutama saat tubuh mengalami perubahan besar, seperti masa pertumbuhan atau penuaan.

Contohnya, osteosarkoma banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda, khususnya usia 10–30 tahun, ketika tulang tumbuh dengan cepat. Sementara itu, chondrosarcoma lebih umum terjadi pada orang berusia 40 tahun ke atas. 

Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki cenderung lebih sering mengalami beberapa tipe kanker tulang, meski perempuan tetap memiliki risiko, terutama pada usia yang lebih tua.

7. Sistem kekebalan tubuh melemah

pexels.com/Andrea Piacquadio

Kondisi sistem imun juga berperan penting dalam melindungi tubuh dari pertumbuhan sel abnormal. Saat daya tahan tubuh melemah, kemampuan untuk melawan sel-sel yang berpotensi menjadi kanker pun ikut menurun, termasuk pada jaringan tulang.

Orang yang menjalani kemoterapi, pengobatan penyakit autoimun, atau memiliki gangguan imun tertentu cenderung memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker tulang. Karena itu, pemantauan kesehatan secara rutin dan gaya hidup yang mendukung sistem imun sangat dianjurkan untuk membantu menekan risikonya.

FAQ Tentang Kanker Tulang

1. Apakah semua benjolan pada tulang menandakan kanker?

Tidak selalu. Banyak benjolan pada tulang bersifat jinak, seperti kista atau tumor non-kanker. Namun, benjolan yang membesar dengan cepat atau disertai nyeri persisten sebaiknya diperiksa oleh dokter.

2. Apakah kanker tulang bisa terjadi pada orang dewasa?

Ya, meski paling sering menyerang anak-anak dan remaja, beberapa jenis seperti Chondrosarcoma lebih umum terjadi pada orang dewasa dan lansia.

3. Apakah olahraga berat berisiko memicu kanker tulang?

Olahraga berat tidak terbukti menyebabkan kanker tulang. Namun, cedera atau trauma tulang yang parah mungkin memicu gejala yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan kanker.

Editorial Team