Cara Mengatasi Burn Out, Kelelahan Mental Parah Menuju Depresi

Burn out ini bisa disebabkan karena pekerjaan hingga hubungan dengan anak atau pasangan di rumah

9 Mei 2021

Cara Mengatasi Burn Out, Kelelahan Mental Parah Menuju Depresi
Pixabay.com/robinhiggins

Keadaan pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak secara fisik, tapi juga mental. Salah satu ancaman yang bisa mengenai semua orang adalah burn out. Mungkin istilah ini cukup akrab di telingan, ternyata burn out bisa mengakibatkan banyak hambatan terutama bagi mama atau papa yang aktivitasnya full di rumah.

Menurut Psychology Today, burnout adalah keadaan emosional, mental, dan juga kerap disertai kelelahan fisik yang disebabkan oleh stres yang berkepanjangan atau berulang. Penyebab utama dari burn out biasanya karena masalah kerja. Tapi juga dapat muncul di bidang kehidupan lain, seperti parenting atau hubungan personal.

Berikut Popmama.com rangkum cara mengatasi burn out agar tidak semakin parah!

1. Mengenal tiga komponen dalam burn out

1. Mengenal tiga komponen dalam burn out
freepik/cookie_studio

Putu Andani, seorang Psikolog dari TigaGenerasi mengatakan selama pandemi dan di rumah saja, banyak orang tua mengalami burn out. Jangan anggap remeh, ada beberapa faktor pembeda antara stres biasa dan burn out.  

“Stres itu ada di level 1, burn out itu level 2, lalu depresi dan axiety disorder dan sebagainya itu level 3. Jadi burn out itu di tengah-tengah antara stres dan depresi. Kalau kita bisa regulate dengan baik, ini bisa turun ke stres dan akhirnya adaptasi,” jelas Putu dalam acara BaBe Virtual Media Briefing - Peran Ibu di Masa Pandemi dan Tantangan Ibu di tahun 2021.

Putu menyebut setidaknya ada tiga komponen dalam burn out, yakni:

  • Kelelahan secara mental
  • Tidak ada kedekatan emosional dari hal yang dikerjakan
  • Kehilangan perasaan ingin mencapai (achievement)

“Tidak ada kedekatan emosional misalnya dengan anak ya sudah (menemani belajar dan sebagainya di rumah) dianggap itu hanya tugas mengasuh dan tidak ada kedekatan yang terjadi layaknya orangtua dan anak (bonding),” jelasnya.

Editors' Picks

2. Tanda seseorang mengalami burn out

2. Tanda seseorang mengalami burn out
Freepik/cookie_studio

Ketika mama merasakan kelelahan secara mental terus-menerus dan kehilangan passion dalam mengerjakan sesuatu bisa jadi itu adalah burn out. Menurut Putu ada beberapa yang bisa dijadikan patokan ketika mengalami burn out.

“Kalau yang kita rasakan sendiri lebih kepada kelelahan itu dan lost emosional bonding. Jadi apa pun kegiatan di rumah baik itu parenting-nya sampai hubungan dengan suami atau pekerjaan, pikiran kita lebih kayak survival mode aja, bagaimana caranya beres, jadi tidak ada passion seperti sebelumnya,” tutu Putu.

Selain itu, dari perilaku juga bisa dirasakan. Biasanya orang satu rumah bisa mengenali perbedaan kita dari sebelumnya ketika sudah mengalami burn out.

“Keluar juga lewat perilaku seperti konsentrasi menurun dan selalu marah. Terus kalau kita saking survival mode-nya sampai nggak sadar (burn out) bisa dilihat dari sikap orang-orang di sekitar kita. Misalnya perubahan perilaku anak-anak ke kita atau suami,” jelasnya.

3. Cara mengatasi burn out agak tidak makin parah

3. Cara mengatasi burn out agak tidak makin parah
Freepik/wayhomestudio

Menurut Putu, untuk mengatasi burn out, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, wajib mengambil jeda alias break.

“Karena badan sama pikiran kita sudah nggak sinkron. Badan sudah lelah tapi pikiran kita masih harus kerja. Nah, waktu break itu ngapain? Cerita sama temen, cerita sama siapa pun yang menurut kita bisa memberi dampak positif ke kita,” tuturnya.  

Kedua, yakni regulate atau meregulasi dengan menerapkan rutinitas yang therapeutic activity. Untuk kegiatannya sendiri bebas yang penting menenangkan dan membahagiakan bagi kita. Lalu, afirmasi positif diri kita.

“Kita melakukan sesuatu lalu gagal, stres terus burn out. Bilang ke diri kita kalau nggak apa-apa gagal, ini kan baru pertama,” pungkas Putu.

Keempat, evaluasi ketika burn out sudah mulai teratasi. Kalau sudah rehat, sudah cerita maka evaluasinya harus melakukan sesuatu agar diri tidak terus-terusan ada di survival mode.

“Apakah harus minta bantuan? Apakah ada standar yang harus kita turunkan?,” jelasnya.

Namun, ketika semua hal itu sudah dilakukan semaksimal mungkin tapi masih terjadi maka segera kontak ahli. Putu berharap dengan adanya pandemi ini sebagai orangtua juga tidak hanya menambah hard skill tapi juga soft skill baru untuk mengenali kondisi mentalnya.

“Misalnya skill letting go, lebih memasrahkan dan mengikhlaskan yang mana lebih susah untuk dipelajari,” jelas Putu.

4. Mengatasi rasa bersalah kepada anak karena burn out

4. Mengatasi rasa bersalah kepada anak karena burn out
Freepik/racool_studio

Kadang sebagai orangtua kita juga sering ‘kelepasan’ ke anak atau suami dan suka marah-marah. Untuk mengatasi ini, kunci yang diberikan Putu Andani adalah meminta maaf. Tapi tidak hanya meminta maaf ke anak tapi juga ke diri kita sendiri.

Disebut Putu jika kita meminta maaf ke anak dan diri kita sendiri sangat ampuh menurunkan rasa bersalah itu.

“Minta maaf ke anak dan jelaskan, ‘maaf ya nak mama lagi capek’, apalagi kalau anaknya sudah cukup besar dia pasti akan cukup mengerti tentang ini. Lalu, kita bisa memaafkan diri sendiri, karena yang bikin berat itu ya suara-suara kritik dari diri kita sendiri. Sebenarnya anak sudah memaafkan, tapi kita yang masih guilty. Jadi jangan lupa ngobrol sama diri sendiri,” tutur Putu.

5. Menghadapi 2021 dengan kondisi mental yang lebih baik

5. Menghadapi 2021 kondisi mental lebih baik
Freepik/diana.grytsku

Tahun 2020 memang banyak hal terjadi di luar rencana dan banyak sekali masalah serta tantangan yang datang. Untuk bisa menghadapi 2021 nanti, ada beberapa hal yang disampaikan Putu Andani selaku Psikolog agar mama dan papa bisa siap secara mental.

“Berterima kasih dengan diri sendiri, mungkin pekerjaan ibu itu 24 jam dan nggak ada yang apresiasi. Tahun 2020 ini bisa let go. Karena let go itu bukan suatu kegagalan melainkan pencapaian. Ini jadi kill baru nih. Lalu, untuk ibu-ibu yang masih strugle dengan burn out, take a break dan jangan lupa lakukan hal-hal tadi,” tuturnya.

Itulah tadi penjelasan mengenai burn out dan cara mengatasinya. Tahun 2020 ini memang jadi masa sulit ya, ma. Semoga kita sama-sama dikuatkan untuk bisa menyongsong tahun 2021 lebih baik lagi.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.