Alasan Orang Indonesia Takut Covid-19, Pernah Positif Jadi Taat Prokes

35% orang dalam penelitian yang belum divaksin justru cenderung tidak taat prokes!

24 November 2021

Alasan Orang Indonesia Takut Covid-19, Pernah Positif Jadi Taat Prokes
Pexels/cottonbro

Ada beberapa alasan orang Indonesia takut Covid-19 dan lebih menjaga protokol kesehatan (prokes). Penelitian ini hasil dari Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK yang merupakan Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC) bersama tim peneliti dr. Levina Chandra Khoe, MPH dan Qisty. 

Penelitian tersebut dilakukan pada 1880 orang dewasa dari 24 provinsi melalui metode cross-sectional study secara online sepanjang Agustus hingga Oktober 2021. 

Prinsip penelitian ini mengidentifikasi Skor Covid-19 Prevention Behaviour Index (CPBI Scoring) orang Indonesia terkait perilaku kesehatan dan pencegahan Covid-19 selama masa pandemi.

Sehingga patokan dari skor CPBI ini adalah semakin tinggi skor CPBI menunjukkan bahwa mereka lebih banyak dan lebih baik melakukan tindakan pencegahan terhadap Covid-19.

Demografi responden diketahui bahwa 65% responden sudah di vaksin, 21% responden sudah pernah terinfeksi Covid-19, 30% responden diketahui memiliki anggota keluarga yang sudah pernah Covid-19 dan 45% responden diketahui pernah kontak erat dengan penderita Covid-19.

Berikut Popmama.com rangkum informasi alasan orang Indonesia orang Indonesia takut Covid-19.

Editors' Picks

1. Beberapa kalangan yang belum divaksin justru cenderung tidak taat prokes

1. Beberapa kalangan belum divaksin justru cenderung tidak taat prokes
Pexels.com/Thirdman

Dalam webinar Hari Kesehatan Nasional 2021, Senin (15/11/2021) Ray Basrowi mengungkapkan penentuan skor CPBI ini sudah dipakai di banyak negara di selama masa pandemi. Pendekatan yang sama seperti di beberapa negara juga diterapkan pada penelitian ini.

Instrumen penelitian yang dipakai juga sama dan sebelum pengambilan data divalidasi pada responden orang Indonesia terlebih dahulu, serta yang terpenting sudah mendapatkan ijin etik penelitian kesehatan dari Lembaga Kaji Etik Penelitian. 

Menurut Peneliti ini juga Ray Basrowi mengemukakan kalau salah satu hasil utama penelitian adalah responden yang belum divaksin yang jumlahnya 35%, secara signifikan skor CPBI nya lebih rendah dibanding orang yang sudah di vaksin. 

"Artinya, responden yang belum divaksin adalah mereka yang perilaku pencegahan nya jelek. Interpretasi analisis kami menunjukkan bahwa mereka yang belum vaksin justru berpotensi untuk tidak taat prosedur kesehatan (prokes), cenderung mengabaikan pembatasan berjarak, lebih malas untuk tidak menggunakan masker dan cuci tangan, serta cenderung  tidak khawatir dengan penyakit Covid-19," tuturnya.

2. Orang yang pernah Covid-19 atau keluarganya sempat positif lebih takut Covid-19 serta taat prokes

2. Orang pernah Covid-19 atau keluarga sempat positif lebih takut Covid-19 serta taat prokes
Dok. Health Collaborative Center (HCC)

Penelitian ini juga menilai skor perilaku pencegahan responden dari parameter yang lain. Diketahui responden yang pernah terinfeksi Covid-19, skor CPBI nya signifikan tinggi. 

Begitupun dengan responden yang anggota keluarganya pernah terinfeksi Covid-19 atau pernah kontak erat dengan penderita terkonfirmasi Covid-19, skor CPBI nya juga signifikan tinggi, yaitu skor 52 dari range 10-60. 

“Artinya adalah, pengalaman sebagai penyintas Covid-19, atau pernah kontak erat atau pengalaman menyaksikan anggota keluarga pernah menderita Covid-19 menjadikan responden lebih baik dan ketat dalam melakukan perilaku pencegahan Covid-19. Dari interpretasi analisis ini, kami menyimpulkan bahwa para penyintas atau orang yang pernah pengalaman kontak erat dan keluarganya pernah Covid-19, mereka kemudian akan lebih taat prokes," ujar Ray Basrowi.

3. Rekomendasi hasil penelitian, dari vaksin lengkap hingga edukasi

3. Rekomendasi hasil penelitian, dari vaksin lengkap hingga edukasi
Pexels/Andrea Piacquadio

Dari penelitian ini, ada beberapa rekomendasi intervensi yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah pencapaian vaksin dosis lengkap yang merata ke seluruh ke Indonesia.

"Pencapaian target cakupan vaksinasi itu wajib harus tinggi, karena kalau masih ada kelompok masyarakat yang tidak mendapat akses vaksin atau tidak percaya vaksin dan menolak divaksin, akan ada potensi individu tidak divaksin yang perilaku kesehatannya memburuk serta tidak taat proses untuk menjadi agen transmisi," tutur Ray Basrowi.

Tak hanya vaksinisai, edukasi terhadap vaksin dan pengetahuan risiko Covid-19 juga perlu terus dipromosikan. Sebab, ini mempengaruhi mindset orang untuk mau di vaksin. 

"Kami mengapresiasi kepada pemerintah dengan adanya kebijakan wajib vaksin untuk akses ke ruang publik serta perjalanan dan perlu dioptimalkan dengan lebih intensif," pungkasnya.

Itulah tadi informasi mengenai alasan orang Indonesia takut Covid-19. Semoga ini bisa jadi informasi tambahan, prokes nyatanya penting diterapkan untuk mencegah kita tertular dari virus ini.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.