Setahun Pandemi di Indonesia, WHO: Status Pandemi Bisa Jadi Endemik

Prediksi ahli sebut kelangsungan Covid-19 di Indonesia hingga kemungkinan jadi infeksi endemik

1 Maret 2021

Setahun Pandemi Indonesia, WHO Status Pandemi Bisa Jadi Endemik
Unsplash/isaacquesada

Per 2 Maret 2021 mendatang, tepat setahun setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan darurat kesehatan terhadap Covid-19.

Ketakutan masyarakat terhadap viru corona di awal pandemi sangat tinggi. Panic buying terhadap beberapa kebutuhan seperti masker, hand sanitizer hingga alkohol menjamur di mana-mana. 

Kini, hampir 12 bulan kita hidup di tengah pandemi Covid-19. Banyak sekali penyesuaian yang dilakukan selama hidup.

Menggunakan masker kini jadi lifestyle yang tidak ketinggalan. Begitupun dengan peraturan lain seperti menjaga jarak hingga mencuci tangan.

Namun, rupanya Indonesia masih berjuang menghadapi Covid-19. Data dari pemerintah menyebut angka kasus Covid-19 baru mulai melandai sejak akhir Januari 2021.

Kedepannya, tentu kita berharap pertambahan kasusnya tidak sebanyak sebelumnya. 

Bagaimana hidup kita ke depannya? Akankah Covid-19 bisa hilang dari Indonesia? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Jakarta tetap jadi wilayah yang mendominasi kasus Covid-19 di Indonesia

1. Jakarta tetap jadi wilayah mendominasi kasus Covid-19 Indonesia
Pexels/Tom Fisk

Laporan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat, selama Februari 2021 ada 1.211 kasus pasien Covid-19 meninggal. Lebih dari seribuan nyawa itu melayang karena virus corona dari 1-28 Februari 2021.

Penambahan kasus Covid-19 selama Februari 2021 mencapai 70.017 kasus di Jakarta. Angka tersebut menjadi penyumbang yang besar sekitar 20,6 persen dari kasus kumulatif Covid-19 di Indonesia sebanyak 339.736 per akhir Februari 2021.

Untungnya di Jakarta sendiri, peningkatan kasus kesembuhan akibat virus ini juga sejalan.

Jakarta jadi daerah tertinggi yang mencatat 81.823 pasien atau 25 persen dari angka kumulatif pasien sembuh di Indonesia.

Editors' Picks

2. Indonesia ada di urutan ke-18 dunia untuk jumlah kasus Covid-19

2. Indonesia ada urutan ke-18 dunia jumlah kasus Covid-19
Freepik/user7350813

Melihat perspektif lebih luas yakni dari seluruh dunia, Indonesia tidak bisa dikatakan lebih baik. Kasus Covid-19 sejak pertama kali terkonfirmasi di Wuhan China pada akhir 2019 hingga kini tembus 114,36 juta kasus.

Dari data Center For System Science and Engineering (CSSE) John Hopkins University, sampai dengan Minggu (28/2/2021) dari total 114,36 juta kasus, jumlah kasus aktif saat ini hampir mencapai 22 juta kasus. Amerika Serikat menjadi episentrum Covid-19 di dunia dengan 30 juta kasus atau 29,2 juta orang.

Negara kedua diduduki oleh India yakni dengan 11,09 juta kasus, disusul dengan Brazil 10.51 juta kasus, Rusia dengan 4,23 juta kasus dan Inggris dengan 4,17 juta kasus. 

Lantas, bagaimana nasib Indonesia?
Untuk total keseluruhan kasus Covid-19 hingga saat ini mencapai 1,3 juta kasus lebih. Penambahan kasus Covid-19 di Tanah Air mulai melandai pada Sabtu (27/1/2021) dan membuat Indonesia berada di urutan ke-18. Dengan jumlah orang yang telah sembuh 85,5 persen dari kasus yang tekonfirmasi positif. 

Berikut daftar 10 negara dengan kasus positif terbanyak menurut CSSE John Hopkins:

  • Amerika Serikat (positif 29.202.824 dengan kematian 524.669)
  • India (positif 11.096.440 dengan kematian 157.087)
  • Brasil (positif 10.517.232 dengan kematian 254.263)
  • Rusia (positif 4.234.729 dengan kematian 85.743)
  • Inggris (positif 4.170.519 dengan kematian 122.705 )
  • Prancis (positif 3.766.016 dengan kematian 86.332)
  • Spanyol (positif 3.188.553 dengan kematian 69.142)
  • Italia (positif 2.907.825 dengan kematian 97.507)
  • Turki (positif 2.693.164 dengan kematian 28.503)
  • Jerman (positif 2.444.177 dengan kematian 70.589)

3. Setahun hidup dalam pandemi, ahli prediksi berakhirnya Covid-19 di Indonesia

3. Setahun hidup dalam pandemi, ahli prediksi berakhir Covid-19 Indonesia
Freepik/user7350813

Saat ini salah satu solusi untuk menghentikan pandemi adalah dengan vaksinasi, Indonesia juga melakukannya. Untuk mencapaii herd imunnity setidaknya butuh 70-85 persen populasi yang divaksinasi. 

Melansir dari data Bloomberg, media ini menghitung rata-rata vaksinasi Covid-19 yang bisa diberikan di berbagai negara salah satunya Indonesia. Sayangnya, dari perkiraan itu Indonesia baru bisa lepas dari Covid-19 setelah 10 tahun. Alasannya karena vaksinasi Covid-19 di Indonesia hanya 64.187 dosis per hari sehingga butuh waktu hingga satu dasawarsa untuk mencapai herd immunity yang diinginkan.

Pemerintah Indonesia pernah menyebut jika vaksinasi Covid-19 akan ditekankan dan gencar selama 12 bulan, kurang lebih hingga 2022 mendatang. Dengan ini pemerintah menargetkan bisa memvaksinasi sebanyak 1 juta orang per hari. Perhitungan ini akan terus berubah tergantung upaya pemerintah untuk meningkatkan cakupan vaksinasi Covid-19 di masyarakat.

4. Covid-19 bisa berubah menjadi virus endemik di suatu negara

4. Covid-19 bisa berubah menjadi virus endemik suatu negara
IDN Times/Lia Hutasoit

Saat ini virus corona sudah menjajah seluruh negara di dunia, bahkan hingga ke Antartika. Dr. Michael Ryan selaku Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO menyatakan virus Covid-19 kemungkinan tidak akan pernah hilang tapi berubah menjadi virus endemik di sebuah negara. 

Endemik adalah kehadiran yang tetap dari suatu penyakit atau infeksi di wilayah geografis yang mana orang yang terinfeksi akan selalu ada. Salah satu virus endemik adalah malaria yang menjangkiti beberapa negara di dunia saja.

Namun, karena perkembangan langkah dan obatnya pun sudah ditemukan untuk intervensi penyakit malaria ini. 

Mengenai virus Covid-19 yang berubah menjadi endemik pun masih hipotesis. Sebab, virus corona adalah infeksi jenis baru yang perlu diteliti lebih dalam. 

Ada juga kemungkinan Covid-19 menjadi virus musiman seperti flu yang beredar selama beberapa bulan tertentu dalam setahun dan mereda selama beberapa bulan lainnya. Flu sendiri tidak diklasifikasikan sebagai virus endemik.

Lalu ada pula yang memprediksi jika virus corona nantinya seperti flu. Sehingga seiring waktu akan ada tindakan yang diberlakukan mengurangi penyebarannya seperti vaksin atau mempercepat waktu pemulihan pada orang yang terkena dampak (obat antivirus). Lagi-lagi ini masih prediksi karena virus corona sendiri masih bisa bermutasi.

Kita sebagai pribadi masing-masing bisa turut berkontribusi untuk menekan laju pandemi agar berakhir lebih cepat. Cara yang mungkin dilakukan adalah dengan menemukan hal yang dapat mencegah setiap orang menularkan satu orang lainnya. Tentunya bisa dicegah dengan langkah preventif (5M) dan jika sebagian besar orang menjadi kebal terhadap virus.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.