Siap Hadapi Resesi Ekonomi, 5 Aset Ini Bisa Jadi Pilihan Investasi

Sudahkan kamu siap dengan badai ekonomi yang akan menerjang Indonesia?

27 September 2020

Siap Hadapi Resesi Ekonomi, 5 Aset Ini Bisa Jadi Pilihan Investasi
Pixabay/nattanan23

Akhir-akhir ini, risiko resesi semakin meningkat tajam. Hal ini disebabkan oleh berbagai aspek, mulai dari pelemahan mata uang China (yuan) yang menyentuh rekor terendah 11 tahun, ketidakjelasan sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam perang dagang, hingga langkah bank-bank sentral dunia yang ramai-ramai menurunkan suku bunga.

Semua hal tersebut telah membuat pasar saham bergejolak liar hingga membuat para investor kelabakan untuk mencari aset investasi yang lebih stabil.

Mengutip dari laman Business Insider, berikut Popmama.com merangkum lima aset yang secara historis banyak diburu investor saat resesi ekonomi yang membuat pasar saham kacau.

Simak baik-baik, ya!

1. Investasi emas

1. Investasi emas
Pexels/Michael Steinberg

Meskipun harganya berubah setiap hari, daya tarik emas dan kelangkaan emas menjadikannya salah satu dari banyak 'safe haven' atau aset paling aman yang populer di kalangan investor yang ingin keluar dari gejolak pasar saham.

Emas sekarang ini dijual dengan harga lebih dari US$ 1.500 per ons, level tertinggi dalam enam tahun. China telah menimbun emas selama delapan bulan berturut-turut, di mana cadangannya mencapai sekitar US$ 93 miliar logam mulia pada akhir Juli.

Langkah ini dipandang sebagai sikap jaga-jaga di tengah perang dagang dan ekonomi nasional yang melambat.

Langkah China ini sendiri telah membantu mendorong harga emas menjadi lebih mahal. Meskipun nilai emas berfluktuasi dalam jangka pendek, namun pergerakannya tahan terhadap inflasi dan deflasi.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga telah menaikkan permintaan emas hingga membuat harganya lebih tinggi karena investor banyak yang berpindah berinvestasi ke logam. 

Editors' Picks

2. Investasi dolar

2. Investasi dolar
Freepik/Jcomp

Sudah banyak yang tahu bahwa dolar AS masih menjadi salah satu aset paling stabil di seluruh dunia. Berinvestasi di uang tunai menjauhkan para investor dari gejolak liar harga saham. Bahkan, nilainya bisa naik saat masa deflasi, ketika daya beli dolar naik.

Cadangan uang tunai juga memberi para investor peluang untuk membeli aset-aset lain ketika harganya turun selama krisis ekonomi. Membeli aset pada saat harganya rendah membuat biaya rata-rata kepemilikan menjadi rendah.

Investor juga bisa mendapatkan pengembalian yang menguntungkan ketika pasar rebound.

3. Obligasi negara

3. Obligasi negara
Freepik/cookie_studio

Berinvestasi di obligasi Treasury (T-bonds) terkenal lebih aman dibandingkan saham. Itu karena T-bonds dijamin oleh pemerintah federal, yang dapat meningkatkan pajak atau memotong pengeluaran untuk memastikan pembayaran dilakukan kepada pemegang obligasi.

Ini berarti, Treasury AS memiliki risiko gagal bayar yang sangat kecil. Meskipun obligasi pemerintah tidak sepenuhnya tangguh selama resesi ekonomi, namun sifat beli-tahan (buy-and-hold) dan pembayaran kupon yang stabil, jelas menarik bagi investor yang tidak begitu menyukai volatilitas di pasar saham.

4. Saham defensif

4. Saham defensif
Freepik/free picture

Kategori 'saham defensif' terdiri dari perusahaan di segmen makanan, perlengkapan rumah, perawatan kesehatan, utilitas, dan real estat. Saham semacam itu juga cenderung membayar dividen kepada pemegang sahamnya, menjamin bentuk pendapatan yang kecil namun stabil.

Saham defensif cenderung mengungguli sektor-sektor lain selama resesi karena kuatnya kebutuhan terhadap hal-hal tersebut.

Bahkan selama periode resesi ekonomi, konsumen akan membutuhkan produk yang dijual oleh perusahaan-perusahaan tersebut, dan permintaan yang tetap membuat perusahaan-perusahaan ini bertahan bahkan selama masa ekonomi yang paling sulit.

Beberapa saham defensif besar termasuk Coca-Cola, Johnson & Johnson, dan Philip Morris. Perusahaan-perusahaan ini masih berdagang setiap hari dan mengikuti tren pasar yang luas.

Tetapi bagi mereka yang lebih suka menyimpan uang mereka di saham, bisnis ini memiliki pengembalian yang lebih baik daripada sektor yang lain di pasar yang sedang lesu (bearish).

5. Investasi properti

5. Investasi properti
Freepik/Jcomp

Seperti halnya saham-saham defensif, real estat merupakan kebutuhan bagi individu, dan ketika populasi dunia bertambah, berinvestasi di sektor ini jelas menguntungkan.

Harga rumah umumnya turun selama resesi. Jika ekonomi mengikuti siklus historisnya dan pulih dari posisi terendahnya, harga rumah akan naik kembali.

Real estat juga hadir dalam berbagai bentuk, sehingga investor dapat memilih jenis rumah seperti apa untuk berinvestasi, mulai dari apartemen studio tunggal hingga rumah mewah.

Menyewakan rumah atau apartemen yang dibeli juga dapat berfungsi sebagai aliran pendapatan tetap saat pemilik menunggu untuk menjualnya.

Nah, itulah kelima aset yang bisa kamu jadikan pilihan untuk berinvestasi di tengah terjangan badai resesi ekonomi yang melanda Indonesia. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi berinvestasi keluarga!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.