Seorang Remaja Gantung Balita Hingga Tewas Akibat Tayangan Youtube

Ini alasan kenapa orangtua harus memberi edukasi konten internet kepada anak-anak

21 Juli 2020

Seorang Remaja Gantung Balita Hingga Tewas Akibat Tayangan Youtube
Freepik/pressfoto

Perkembangan teknologi dan internet sudah semakin liar sehingga anak-anak menjadi lebih mudah berselancar di dunia maya. Mereka bisa melihat konten apa saja dan bahkan yang belum siap ditonton untuk sesusianya.

Anak-anak belum saatnya terpapar konten, sepeti kekerasan, romansa dewasa, serta pornografi karena cara memproses informasinya berbeda dengan orang dewasa.

Salah satu kasus yang baru saja terjadi karena konten internet adalah pembunuhan balita yang dilakukan oleh seorang remaja.

Simak berita selengkapnya serta alasan kenapa orangtua harus memberikan edukasi konten internet kepada anak yang telah Popmama.com rangkum sebagai berikut.

Editors' Picks

1. Seorang remaja menggantung balita hingga tewas karena tayangan Youtube

1. Seorang remaja menggantung balita hingga tewas karena tayangan Youtube
Pexels/Tinyography

Di Kairo, seorang remaja perempuan berusia 13 tahun dikabarkan menggantung balita hingga tewas karena tayangan Youtube.

Awalnya, tersangka melihat anak yang diketahui berusia 4 tahun, berjalan sendirian di jalanan setempat, lalu meminta untuk diantar ke ibunya.

Remaja itu, membawa si Balita ke tempat poros udara pada sebuah bangunan tempat tinggal di distrik terpadat Useem, Giza dekat Kairo. Menurut laporan, dia memasang kabel ke sangkar besi yang digunakan untuk menggantung balita itu hingga tewas.

Di dalam poros udara tersebut, remaja itu diduga meletakkan tangannya di mulut balita yang sedang menangis setelah membentuk kabelnya menjadi seperti tali penggantung. Setelah itu, dia meletakkan kepala korban di dalam lingkaran kabel baru menggantungnya.

Si Remaja mengakui perbuatannya itu terinspirasi dari tayangan Youtube yang dilihatnya.

"Saya berpikir untuk melakukan apa yang saya lihat di Youtube," ucapnya.

2. Remaja itu mengakui perbuatannya dan kemudian dipenjara

2. Remaja itu mengakui perbuatan kemudian dipenjara
Freepik/Jakkapan21

Setelah balita yang digantung meninggal, remaja itu melarikan diri ke kediaman bibinya, tempat dia tinggal setelah orangtuanya bercerai.

Sementara itu, polisi mendapat laporan adanya pembunuhan setelah mayat si Balita ditemukan. Hasil investigasi polisi menunjuk pada remaja yang mengaku telah membunuh balita itu.

Dari laporan tersebut, pelaku meniru perbuatan kejinya dari klip video Youtube yang telah berulang kali ditontonnya.

Menurut hukum Mesir, pelanggar hukum di bawah 18 tahun diadili di pengadilan anak-anak dan dipenjara maksimal 15 tahun. Pelaku juga akan dirawat di sebuah lembaga rehabilitasi ketika dinyatakan bersalah atas pembunuhan.

3. Alasan kenapa orangtua harus memberikan edukasi konten internet pada anak

3. Alasan kenapa orangtua harus memberikan edukasi konten internet anak
Freepik/bristekjegor

Terkait berita pembunuhan yang dilakukan seorang remaja terhadap balita maka orangtua diharuskan memberi edukasi konten internet kepada anak-anak.

Anak-anak dapat mengakses area internet yang tidak pantas, seperti informasi yang menebar kebencian, kekerasan, dan pornografi. Di mana semua hal itu, dapat ditiru oleh mereka jika kurang pemahaman tentang hal-hal tersebut.

Dari hasil penelitian para ilmuwan di UCL (University College London) dan Birkbeck, University of London, yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan penerimaan anak-anak terhadap visual sangat berbeda dengan orang dewasa.

Anak-anak tampaknya menggunakan isyarat visual pertama yang diproses otak untuk membuat penilaian. Itu membuat mereka kurang akurat daripada orang dewasa, namun meningkatkan kecepatan berpikir.

Jadi, perlu penjelasan dari orangtua agar mereka tidak salah tangkap mengenai informasi yang diterima.

Selain itu, ada pula kemungkinan cyberbullying atau cyberharassment dari orang lain secara online. Biasanya, diawali dengan hubungan melalui media sosial atau bahkan game online.

Bahkan bisa saja anak-anak mengikuti undangan untuk bergabung dengan perkumpulan yang tidak jelas atau mendaftar undian hadiah di mana biasanya berakhir pada peretasan. Mama tentu tidak ingin anak-anak terjerumus hal-hal di atas, bukan?

Oleh sebab itu, sebelum terjadi hal yang buruk, sebaiknya Mama memberikan edukasi konten internet pada anak. Jelaskan secara gamblang sekalipun dianggap tabu agar mereka benar-benar paham.

Minta pula agar mereka bertanya jika ada hal yang aneh di internet. Di samping itu, tegaskan agar mereka merahasiakan informasi pribadi ketika berselancar di internet.

Bacajuga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.