Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Alasan Yola Ureh Pilih 3D Printer untuk Produktivitas Anak
Popmama.com/Ilham Syakur Fidina
  • Yola Ureh menggunakan 3D printer untuk mengurangi screen time anaknya sekaligus menumbuhkan kebiasaan produktif dan edukatif melalui kegiatan mencetak karya sendiri di rumah.

  • Ia menilai 3D printer ramah bagi pemula yang bukan pengguna non-profesional.

  • 3D printer juga efektif melatih anak Yola Ureh dalam proses berpikir kreatif, kesabaran, dan ketekunan saat mewujudkan ide menjadi bentuk nyata.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ekosistem digital manufaktur tanah air semakin berkembang seiring hadirnya PT Tek Lab Indonesia sebagai distributor baru bagi Bambu Lab. Langkah ini diambil untuk memastikan teknologi printer 3D lebih luas. Alhasil, teknologi canggih ini kini semakin terjangkau bagi para pengembang di sektor pendidikan, pelaku UMKM, para kreator, dan pengguna skala rumah tangga.

Seperti yang dirasakan Yola Ureh, seorang kreator konten sekaligus orangtua, di mana dirinya merasakan manfaat usai memakai 3D printer dari Bambu Lab. Penggunaan 3D printer itu bukan sekadar memproduksi barang untuknya, tetapi juga untuk produktivitas anaknya.

Bahkan, dirinya juga mengajak seluruh orangtua untuk menggunakan 3D printer untuk meningkatkan tumbuh kembang anak dalam berkreasi. Seperti apa lengkapnya, ya? Berikut Popmama.com akan membagikan informasi seputar alasan Yola Ureh pilih 3D printer untuk produktivitas anak.

1. 3D printer menjadi solusi alternatif kurangi screen time anak

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Sebagai seorang Mama, Yola Ureh mengaku memanfaatkan 3D printer di rumah sebagai cara untuk mengalihkan perhatian anak semata wayangnya dari penggunaan gadget yang berlebihan. Ia menyadari bahwa screen time anak-anak saat ini cenderung tinggi, sementara dirinya sendiri membatasi penggunaan layar hanya satu jam per hari.

“Saya sebenarnya orang awam dan sebagai ibu sebenarnya saya gunain 3D printer di rumah itu lebih untuk anak. Sekarang kan harus nonton, screen time itu banyak banget. Sedangkan saya screen time itu cuma 1 jam saja sehari,” ungkap Yola Ureh.

Namun, dengan hadirnya 3D printer, ia melihat adanya peluang untuk mengarahkan anaknya pada aktivitas yang lebih produktif. Teknologi cetak ini bukan sekadar hiburan untuk anaknya, tetapi juga menjadi sarana edukatif yang mampu memberikan pengalaman baru di rumah.

“Makanya, menurut saya 3D printer ini membantu banget, kayak memaksimalkan teknologi itu hal positif untuk anak di rumah. Jadi kayak screen time itu dibangun. Sekarang lebih banyak dia (anak Yola Ureh) tuh mikirnya kayak ide-ide sederhana. 'Mau bikin apa ya hari ini?'. Terus nanti dia akan bisa bikin mungkin mobil-mobilan,” sambungnya.

Hal ini membantu membangun kebiasaan yang lebih bermanfaat dibandingkan sekadar menonton layar.

2. Ramah untuk pengguna non-profesional

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Yola Ureh mengaku sempat merasa kaget saat pertama kali mencoba 3D printer. Ia awalnya mengira perangkat tersebut akan sulit digunakan, apalagi bagi orang yang awam di bidang teknologi. Namun, ekspektasi itu ternyata tidak terbukti setelah ia mencobanya secara langsung. 

Ia menilai perangkat ini dirancang cukup “ramah”, sehingga siapa saja bisa mengoperasikannya tanpa harus memiliki keahlian khusus. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri, terutama bagi pemula seperti dirinya yang ingin mencoba teknologi 3D printing di rumah.

“Ternyata dia (3D printer) kayak ramah banget untuk kita yang orang biasa, yang nggak profesional. Kita bisa pakai dan juga ukurannya kebetulan kita pakai yang A1 mini. Jadi, itu compact banget, gak yang menuhin tempat di rumah gitu. Jadi, friendly untuk orang biasa,” kata Yola Ureh.

3. Kehadiran 3D printer melatih proses, kesabaran, dan kreativitas anak

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Yola Ureh mengajak siapa pun, terutama para orangtua, untuk tidak ragu memulai penggunaan 3D printing. Ia menekankan bahwa teknologi ini bukan sesuatu yang sulit untuk dipelajari, melainkan peluang besar untuk mengembangkan keterampilan baru, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Menurutnya, 3D printer bisa menjadi sarana positif untuk mengajak anak lebih produktif. Penggunaan 3D printer tidak hanya soal hasil akhir, tetapi juga proses yang dilalui. Anak-anak akan belajar bagaimana sebuah ide diwujudkan menjadi bentuk nyata, mulai dari perancangan hingga pencetakan.

Selain itu, mereka juga dilatih untuk bersabar karena proses 3D printing membutuhkan waktu dan ketelitian. Hal ini secara tidak langsung membentuk karakter yang lebih tekun, kreatif, dan aktif dalam mengeksplorasi hal-hal baru.

“Mari kita ajak anak kita itu untuk lebih produktif menciptakan sesuatu. Nggak cuma konsumtif atau hanya pakai saja, karena dengan 3D printer ini mereka (anak) belajar proses, mereka belajar caranya sabar juga, dan kreatif tentunya, dan makin aktif juga ya pastinya,” jelas Yola Ureh.

Itulah informasi seputar alasan Yola Ureh pilih 3D printer untuk produktivitas anak. Mama sendiri kepikiran untuk menggunakan 3D printer untuk membangun kreativitas anak nggak, nih?

Editorial Team