YouTube.com/RogerChika Journey
Menurut data terbaru dari National Institutes of Health, lebih dari 70 juta orang Amerika diketahui mengidap gangguan pencernaan seperti sembelit dan sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS).
Masalahnya, perempuan diketahui lebih cenderung mengalami gangguan gastrointestinal ketimbang laki-laki.
Hal ini terlihat dari fakta bahwa dua pertiga penderita IBS adalah perempuan dan perempuan dua kali lebih mungkin terkena sembelit daripada laki-laki.
"Perempuan cenderung lebih sensitif terhadap perubahan atau pergerakan di dalam perut," terang Dr. Roshini Rajapaksa, dokter spesialis gastroenterologi dari NYU Langone Medical Center.
Dilansir dari Fox News, berikut 4 gangguan pencernaan yang paling sering menyerang perempuan:
Gejala klasik dari sindrom iritasi usus adalah nyeri perut yang baru akan hilang setelah buang air besar atau ada kaitannya dengan diare atau sembelit. Kondisi ini paling rentan dialami perempuan.
"Bisa dikatakan perempuan memiliki hipersensitivitas usus yang lebih besar dari laki-laki jadi saraf-sarafnya memberikan respons yang berlebihan terhadap rangsangan seperti makanan atau stres sehingga menyebabkan peningkatan aktivitas usus," ujar Dr. Douglas Drossman, profesor psikiatri dari University of North Carolina-Chapel Hill.
Saat mengalami sindrom iritasi usus, perut akan terasa tak nyaman dan hal ini berlangsung hingga sedikitnya selama tiga bulan, disertai kembung, sering kebelet pipis, kebiasaan buang air besar yang tidak konsisten serta adanya lendir di tinja.
Separuh dari kasus-kasus semacam ini membaik dengan perubahan pola makan. Oleh karena itu, mulailah dengan mengurangi konsumsi roti dan sereal gandum utuh, kopi, cokelat dan makanan lain yang dapat memicu gejala-gejala tersebut.
Probiotik juga dapat membantu mengatasinya. Jika tidak, dokter akan meresepkan obat antispasmodik untuk mengendalikan kejang-kejang di usus besar atau antidepresan untuk mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkannya.
Heartburn terjadi akibat asam perut kembali masuk ke dalam kerongkongan (atau refluks asam).
Kontributor terbesar adalah makanan dan minuman seperti saus tomat dan kopi karena keduanya dapat mengendurkan sfingter esofagus sehingga asam di perut mengalir kembali ke kerongkongan.
Begitu pula dengan makanan berlemak karena sejumlah lemak akan ada yang tertinggal di perut. Merokok, stres serta penggunaan obat pereda nyeri seperti ibuprofen juga dapat menyebabkan heartburn.
"Kelebihan berat badan juga merupakan salah satu faktor risikonya. Itulah mengapa kita akan melihat lebih banyak refluks seiring dengan pertambahan berat badan," ujar Dr. Gina Sam, direktur Mount Sinai GI Motility Center di New York City.
Gejala pirosis adalah sensasi terbakar di dalam dada setelah makan atau ketika berbaring. Apalagi jika kamu mengidap gastroesophageal reflux disease (GERD), artinya kamu akan mengalami heartburn tiga kali dalam seminggu atau lebih, disamping batuk kering.
Untuk mengatasinya, hindari setiap makanan dan minuman yang dapat memicu heartburn. Tinggikan posisi kepala saat berbaring dan gunakan proton pump inhibitor OTC untuk menghambat produksi asam, kalau perlu turunkan berat badan.
Beruntung sebagian besar kasus heartburn dapat teratasi hanya dengan mengonsumsi obat-obatan resep dari dokter.
Menurut Rajapaksa, jika seseorang tiba-tiba hanya buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu, bisa jadi ia terkena sembelit.
"Ini biasanya terjadi pada perempuan yang berusia 30-an akhir atau 40-an karena mereka cenderung kurang aktif bergerak atau mengalami perimenopause. Kamu juga dapat mengalami sembelit ketika berada dalam perjalanan; bisa jadi itu karena dehidrasi, kurang olahraga dan jet lag," ungkap Rajapaksa.
Gejalanya, kamu akan mengejan agar bisa buang air besar dan tinja bersifat keras dan kering.
Untuk mengatasinya, Rajapaksa menyarankan agar kamu meminum 4 gelas air putih setiap kali makan. Kedua, tingkatkan asupan serat karena kamu membutuhkan sedikitnya 25 gram perhari.
Tambah juga dengan olahraga rutin meski hanya dengan berjalan kaki untuk merangsang usus.
Tapi jika kamu terus-terusan terkena sembelit selama 4 hari, temui dokter untuk mengecek apa yang terjadi, karena bisa jadi itu adalah hipertiroidisme. Hipertiroidisme juga dapat menyebabkan sembelit.
Gastroenteritis adalah berbagai iritasi yang terjadi pada perut dan usus yang disebabkan oleh bakteri atau virus.
Gejalanya adalah mual, nyeri di perut, demam, diare dan muntah-muntah. Untuk menghindari dehidrasi saat mengalami gastroenteritis, minumlah air putih, wedang jahe atau cukup dengan menghisap es batu.
Setelah 24 jam barulah kamu dapat memulai diet BRAT (bananas, rice, applesauce, toast atau pisang, nasi, saus apel dan roti bakar).
Nah, itulah ketiga informasi penting seputar sakit perut berkepanjangan yang dialami Cut Meyriska.
Semoga cepat sembuh, ya!