Ma, Hentikan 8 Kebiasaan Buruk Ini Demi Masa Depan si Kecil

Banyak yang tidak sadar sering melakukannya di depan anak

20 Oktober 2020

Ma, Hentikan 8 Kebiasaan Buruk Ini Demi Masa Depan si Kecil
Freepik/prostooleh

Menjadi orangtua berarti harus siap menjadi contoh yang baik bagi anak. Sayangnya, banyak orangtua yang tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya. 

Sebesar apapun Mama ingin si Kecil menjadi pribadi yang lebih baik, jika tetap memberikan contoh yang tak baik, maka segalanya hanyalah mimpi belaka. 

Anak-anak akan mencontoh apa yang dilihat dan dirasakannya. Cara terbaik membentuk pribadi yang baik pada anak adalah dengan mencontohkannya. 

Agar bisa segera diperbaiki, Popmama.com merangkum 8 kebiasaan buruk yang bisa berpengaruh pada anak. 

1. Sulit menerima diri apa adanya

1. Sulit menerima diri apa adanya
Freepik/cookie_studio

Hal ini sering sekali tidak disadari orangtua. Mungkin Mama tidak suka dengan penampilan setelah memasak dan membersihkan rumah. Dengan mudahnya berkaca dan berkata bahwa Mama sangat kusam dan tidak enak dipandang. 

Jika terus-terusan melakukan hal ini, anak akan mencontoh. Ia akan selalu mencari kekurangan dari dirinya. Efek jangka panjangnya, anak-anak akan selalu insecure dengan dirinya sendiri.

Sayangilah diri Mama dan anak akan menjadi pribadi yang menyayangi diri sendiri. 

2. Emosional saat menyetir

2. Emosional saat menyetir
Freepik/senivpetro

Mama mungkin bisa menahan emosi saat mengasuh anak, namun sering lupa menjaganya saat sedang menyetir. Kebanyakan orang dewasa mudah kehilangan kesabaran saat menyetir. 

Hal ini dilihat langsung oleh anak saat sedang berpergian bersama. Semakin sering pergi bersama, semakin kuat ingatannya tentang cara menyetir yang emosional. 

Meski tidak terlihat sekarang, namun ini bisa menjadi kebiasaannya saat sudah bisa menyetir nantinya. Karena satu-satunya contoh yang diingatnya adalah orangtuanya yang suka marah-marah saat menyetir. 

3. Terlalu mementingkan penampilan 

3. Terlalu mementingkan penampilan 
Freepik/drobotdean

Ada kalanya anak-anak ingin memilih pakaian sendiri yang ternyata tidak sesuai dengan keinginan. Saat sedang diajak untuk pergi ke acara resmi, si Kecil memaksa ingin pakai piyama. 

Seringnya, kalimat yang keluar adalah menyatakan bahwa baju tersebut membuatnya terlihat jelek. Hal ini bisa berpengaruh pada cara pikirnya bahwa yang terpenting adalah penampilan luar. 

Mama bisa mengubah cara pendekatan pada si Kecil. Alih-alih mengatakan itu jelek, jelaskan di mana dan kapan baju itu baiknya dipakai. Jika piyama, gunakan saat ingin tidur, dan lainnya. 

Editors' Picks

4. Senang membicarakan orang lain

4. Senang membicarakan orang lain
Freepik

Mengobrol dengan pasangan atau teman dekat memang menyenangkan. Segalanya bisa saja dibicarakan, termasuk orang lain. Jika Mama adalah orang yang senang membicarakan orang lain, maka siap-siap si Kecil akan mencontoh. 

Semakin sering ia mendengar dan menyaksikan bagaimana Mama membicarakan orang lain, ia akan menyangka bahwa hal itu adalah normal. 

Ia bisa tumbuh menjadi orang yang senang membicarakan dan mengkritik orang lain di belakangnya. Tak mau buah hati tumbuh menjadi anak yang seperti itu, kan?

5. Berlebihan dalam bereaksi

5. Berlebihan dalam bereaksi
Freepik/Luis_molinero

Apakah Mama adalah orang yang senang melebih-lebihkan keadaan? Saat ada air tumpah, Mama bisa heboh teriak dan membersihkan dengan terburu-buru. Begitu juga dengan banyak hal lainnya. 

Memiliki reaksi yang berlebihan bisa menjadi contoh buruk bagi anak. Mereka perlahan akan belajar bagaimana untuk bereaksi terhadap setiap keadaan. 

Apakah si kakak senang teriak pada adiknya? Mungkin Mama bisa mengingat-ingat kembali apa yang suka dilakukan pada Papa atau anak.

6. Tidak jujur dengan diri sendiri

6. Tidak jujur diri sendiri
Freepik/ asier_relampagoestudio

Mama selalu mengajarkan anak untuk buang sampah pada tempatnya. Namun seringkali Mama terpepet harus buang sampah bukan pada tempatnya. 

Seperti contoh, Mama bisa dengan mudah membuang kulit pisang ke luar mobil. Saat ditanya, Mama akan berkelit bahwa itu adalah sampah organik yang tidak akan merusak lingkungan. 

Padahal dalam hati kecil, Mama tahu itu perbuatan yang tidak tepat. 

Segera hentikan kebiasaan seperti ini atau si Kecil akan segera mencontohnya. 

7. Sering adu argumen dengan pasangan

7. Sering adu argumen pasangan
Freepik

Menjadi suami istri tidak selamanya harus memiliki satu suara. Ada kalanya Mama dan Papa harus adu argumen atau bahkan sampai bertengkar. 

Mungkin hal ini terasa biasa, namun tidak dengan anak-anak.

Jika tak ingin anak memiliki pribadi yang tidak percaya diri dan mudah marah di kemudian hari, hindari kebiasaan adu argumen. Jika memang ada masalah yang harus diselesaikan, maka cari waktu dan tempat di mana anak tidak bisa melihat dan mendengar. 

Karena hubungan orangtua yang sehat dan harmonis membuat anak menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan menyayangi diri sendiri. 

8. Terlalu sering nongkrong bersama teman

8. Terlalu sering nongkrong bersama teman
Freepik/tirachardz

Ada beberapa hal yang tak bisa kembali seperti sebelum memiliki anak. Jika dahulu Mama senang menghabiskan waktu dengan teman, kini tidak bisa. 

Beberapa orangtua tetap ingin sama seperti masa lalu. Akhirnya, ada banyak momen di mana mereka tak masalah meninggalkan anak untuk nongkrong dan menghabiskan waktu bersama teman-teman. 

Bahkan ada yang tak masalah jika pulang larut dan membiarkan anaknya tidur tanpa kehadiran orangtuanya. 

Hal ini bisa menjadi contoh buruk bagi anak. Mereka akan mencontoh bahwa teman sangatlah penting baginya. Saat mereka remaja dan dewasa, ia bisa mementingkan temannya dibanding Mama. 

Itulah 8 kebiasaan yang bisa segera Mama hentikan agar si Kecil tidak mencontohnya. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.