7 Langkah Memperbaiki Hubungan Setelah Bertengkar Hebat

Yang pasti, bicarakan masalah setelah emosi mereda

21 Januari 2021

7 Langkah Memperbaiki Hubungan Setelah Bertengkar Hebat
Freepik/Noxos

Dalam sebuah hubungan, sudah pasti ada pasang surut. Kadang, pertengkaran pun tak bisa dihindari.

Bertengkar bukanlah hal yang buruk dan tak semestinya dihindari. Jika dilakukan dengan cara yang tidak berlebihan, maka pertengkaran ini malah bisa menguatkan dan memperbaiki hubungan Mama dan Papa. 

Meski sayangnya, banyak emosi yang lepas begitu saja saat bertengkar. 

Agar tidak canggung dan atau malah menyimpan dendam, inilah 7 langkah yang bisa dilakukan setelah bertengkar hebat dengan pasangan. 

Popmama.com akan menjabarkan 7 cara berbaikan setelah bertengkar besar. 

1. Ambil waktu untuk jeda

1. Ambil waktu jeda
Freepik/diana.grytsku

Menghabiskan waktu dengan adu argumen bukanlah ide yang baik. Apalagi jika emosi sudah sama-sama tersulut, maka bisa saja kalimat yang keluar dari mulut bisa menyakiti pasangan. 

Daripada saling memaksa ingin merasa benar, lebih baik tentukan waktu untuk "timeout". 

Jika keduanya sudah sama-sama panas, menjauhlah barang sebentar. Mama bisa ke ruangan lain, sementara Papa bisa ke dapur untuk minum segelas air ptih. 

Di sesi ini, perbanyak tarik nafas dan pikirkan kembali segalanya dengan kepala yang lebih dingin. 

Setiap pasangan punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Ada yang bisa hanya memberikan jeda beberapa menit atau jam saja, namun ada juga yang bisa berhari-hari baru mau kembali membicarakan masalah tersebut. 

Tak mengapa, asal keduanya telah berkepala dingin dan setuju untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan hati serta logika. 

2. Ungkapkan maaf dan rasa menyesal pada pasangan

2. Ungkapkan maaf rasa menyesal pasangan
Freepik/Tzido

Penting untuk diingat bahwa apa yang keluar dari mulut saat marah mungkin tidak sepenuhnya benar. Bisa jadi ia atau kamu hanya asal bicara karena begitu emosi. 

Oleh karena itu, tak perlu menahan emosi karena merasa tersakiti oleh kata-kata yang keluar saat bertengkar. 

Akan lebih baik lagi jika keduanya saling meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Dengan begitu, kalian sama-sama bertanggung jawab dengan apa yang telah dikatakan, dan permintaan maaf inibisa menyembuhkan segala sakit hati yang terjadi sebelumnya. 

Permintaan maaf bisa berupa kalimat langsung bahwa kamu menyesal telah mengucapkan hal menyakitkan. Lalu, bisa juga sentuhan fisik seperti pelukan. Juga, ajakan untuk berbaikan seperti memberikan camilan atau minuman favoritnya. 

Ingat, tidak penting siapa yang meminta maaf pertama. Namun yang paling penting adalah bagaimana kamu atau pasangan bisa benar-benar tulus meminta maaf. 

Editors' Picks

3. Mendengarkan penjelasan pasangan dengan tulus

3. Mendengarkan penjelasan pasangan tulus
Freepik/pressfoto

Setelah tenang, saatnya mengungkapkan apa yang ada di pikiran masing-masing. Penting sekali untuk sama-sama mendengarkan dengan tulus. 

Di sesi ini, kamu tidak sedang adu kebenaran, namun lebih ke arah mendengarkan dengan tulus. Apa saja hal yang kira-kira mengganggunya, terlebih jika ada perkataan atau tindakan Mama yang ternyata menyakitinya. 

Tak hanya mendengarkan, namun validasi perasaannya seperti mengungkapkan, "Sepertinya kamu merasa tersakiti dengan cara bicaraku tadi". 

Lalu, jika ternyata kamu masih tidak setuju dengan cara pandangnya, tak perlu melawannya namun cobalah berada di sisinya. Mama bisa mengungkapkan, "Maaf ya jika kamu merasa seperti ini". 

Hal yang mungkin Mama anggap sepele bisa jadi hal yang besar menurut pasangan. 

4. Ungkapkan perasaanmu tanpa terbawa emosi

4. Ungkapkan perasaanmu tanpa terbawa emosi
Freepik/yanalya

Setelah mendengarkan pasangan mengungkapkan perasaannya, kini saatnya giliran Mama. 

Mungkin banyak sekali unek-unek yang ingin dikeluarkan, namun gunakan pilihan kata yang tepat. Hindari kalimat negatif seperti membawa kata "selalu". Seperti contoh, "Kamu selalu tidak peduli". 

Kalimat tersebut kembali memicu emosi baik dari Mama maupun pasangan. Sehingga, pembicaraan baik-baik tak bisa berlangsung lama. 

Satu lagi yang harus diperhatikan adalah, hindari kata "kamu" karena bisa dianggap ofensif. Perbanyak sisi pandang dari Mama, dan gunakan kata "aku", seperti contoh, "aku merasakan yang berbeda dari dirimu". 

Dengan begitu, ia bisa lebih banyak mengerti tentang masalah dari sisi Mama. 

5. Setelah tenang, kembali bahas inti utama dari masalahnya

5. Setelah tenang, kembali bahas inti utama dari masalahnya
Freepik/Senivpetro

Setelah mengendapkan masalah selama beberapa waktu, emosi akan menurun, keadaan pun jadi lebih kondusif. 

Di saat inilah kamu dan pasangan bisa kembali mengurut akar masalah kenapa bisa bertengkar hebat. Usahakan untuk tetap membicarakannya dengan kepala dingin, agar masalah utama bisa terselesaikan dengan baik. 

Mungkin masalah dipicu dengan hal sepele seperti mengembalikan barang ke tempatnya. Namun urutkan lagi, apakah semata karena hal itu, atau ada masalah lain yang lebih besar. 

Pentingnya menenangkan diri adalah untuk melihat apa masalah yang sebenarnya sehingga bisa diselesaikan sampai akarnya. 

6. Bersama mencari solusi yang tepat

6. Bersama mencari solusi tepat
Freepik/nensuria

Setelah mengetahui akar masalah, kini saatnya mencari solusi yang tepat. Utarakan apa yang kamu dan pasangan inginkan, kemudian carilah jalan tengah. 

Jangan ragu untuk mengatakan keberatan jika memang solusinya kurang mengena di hati. Dengan begitu, pasangan bisa mengerti kondisi kamu dan mencari solusi dengan lebih baik, begitu juga sebaliknya. 

Kadang, komunikasi yang baik dan kerja sama dengan pasangan untuk membentuk hubungan yang lebih kuat bisa mengurangi rasa tidak percaya pada pasangan. Di mana rasa ini sering jadi pemicu pertengkaran. 

7. Jika masalah terus berulang, cobalah mencari bantuan profesional

7. Jika masalah terus berulang, cobalah mencari bantuan profesional
Freepik

Bertengkar akan menjadi salah satu bagian dari sebuah hubungan. Namun yang tidak sehat adalah jika kerap bertengkar mengenai hal yang sama.

Jika hal ini terjadi berulang, berarti masalah belum benar-benar selesai dan mungkin Mama bisa mempertimbangkan meminta bantuan profesional. 

Dengan mendatangi konselor pernikahan, bukan berarti hubungan Mama dan Papa ada di ambang batas. Malah, hal ini bisa menjadi langkah dewasa untuk menjaga hubungan agar bisa lebih kuat dan awet. 

Meminta bantuan orang lain untuk melihat dengan sisi yang lebih objektif bisa memberikan solusi yang selama ini tidak ditemukan jika hanya berdua saja. 

Bertengkar adalah hal yang wajar. Namun menjadi tidak wajar jika sudah melibatkan fisik dan menggunakan kata-kata yang sangat menyakiti. Jadi, pikir dua kali sebelum melontarkan kemarahan, ya!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.