Dalam hukum talak terdapat berbagai tingkatan atau jumlah perceraian dalam hukum Islam. Itu semua dibedakan dalam bentuk talak satu, talak dua, dan talak tiga. Berikut penjelasannya, antara lain:
Talak satu menjadi bentuk perceraian pertama dalam hukum Islam. Suami yang menceraikan istrinya dengan talak satu, maka mereka masuk ke masa idah. Ketika masa idah berlangsung biasanya tiga bulan, mereka tetap di dalam ikatan pernikahan dan masih bisa rujuk kembali (talak raj'i) dengan mencari rekonsiliasi atau memulihkan hubungan suami istri.
Apabila masa idah itu berakhir tanpa adanya rekonsiliasi, maka talak itu dianggap sah dan istri betul-betul bercerai dari suaminya, maka tidak ada alasan untuk talak lagi, jika ingin menikah lagi.
Talak dua menjadi bentuk perceraian kedua dalam hukum Islam. Suami yang menceraikan istrinya dengan talak dua, maka masa idahnya sama dengan talak satu.
Apabila masa idah berakhir tanpa adanya rekonsiliasi dan suami mau bercerai dengan istrinya lagi usai masa idah berakhir, maka suami bisa melakukannya dengan talak kedua. Setelah talak kedua, istri akan bercerai dengan suaminya secara sah dan tak bisa rujuk kembali talak tersebut.
Talak tiga menjadi bentuk perceraian ketiga dalam hukum Islam. Suami yang menceraikan istrinya dengan talak tiga, maka perceraian yang diajukan suami itu dianggap paling serius dan final.
Jika talak tiga sudah terjadi, suami tak bisa rujuk dan tak bisa menarik kembali talak tersebut, jika istri tidak menikah lagi dengan orang lain dan menceraikan suami barunya (halalah).
Suami yang sudah sampai talak tiga tak dapat menikah kembali dengan istrinya, kecuali istrinya menikah bersama orang baru, namun ia menceraikan suami barunya dan menunggu masa idah.
Perlu diketahui bahwa perceraian dalam Islam merupakan perbuatan yang serius, harus diperhatikan betul-betul, dan dipertimbangkan secara matang.