Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kisah Hidup Anggoro Karakter Abimana di Ghost in the Cell, Penuh Luka
Instagram.com/abimana_arya
  • Anggoro Ramadhani adalah karakter berlatar belakang keluarga struggling yang tumbuh dengan rasa cinta mendalam pada sang mama.

  • Satu per satu keputusan hidupnya lahir dari keinginan melindungi orang-orang yang ia sayangi, bukan dari niat jahat.

  • Di balik statusnya sebagai narapidana, Anggoro justru menjadi sosok paling manusiawi di dalam penjara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di antara deretan karakter dalam film Ghost in the Cell besutan Joko Anwar, nama Anggoro Ramadhani mungkin tidak langsung mengingatkan kita pada sosok antagonis yang dingin dan tanpa hati.

Diperankan oleh Abimana Aryasatya, Anggoro adalah laki-laki berusia 38 tahun asal Jakarta yang tumbuh di gang sempit, dibesarkan oleh mama penjual kue dan papa pemangkas rambut pasar.

Namun di balik latar hidup yang sederhana itu, tersimpan perjalanan panjang yang penuh pilihan pahit, cinta yang terluka, dan keadilan yang tak pernah berpihak padanya. Anggoro bukan orang jahat. Anggoro adalah anak sulung yang terlalu lelah menjadi kuat seorang diri.

Nah, berikut ini Popmama.com telah merangkum kisah hidup Anggoro, karakter Abimana di Film Ghost in the Cell.

Yuk Ma, disimak!

1. Anak sulung yang belajar dari jalanan, bukan dari bangku sekolah

Instagram.com/abimana_arya

Anggoro Ramadhani lahir di Jakarta, 3 Juli 1987, sebagai anak pertama dari empat bersaudara dalam keluarga yang struggling secara ekonomi. Sejak SD, Anggoro sudah tidak betah di kelas karena guru-gurunya tidak suka ia banyak bertanya.

Alih-alih nakal tanpa tujuan, Anggoro dan teman-temannya memilih bolos untuk bekerja serabutan, lalu menonton film di bioskop murah. Dari situlah ia belajar tentang dunia.

Tinggal kelas di kelas 5 SD membuatnya menyaksikan mamanya menangis untuk pertama kali, dan itu menjadi luka yang tidak pernah ia lupakan. Anggoro sangat menyayangi mamanya.

Itu bukan sekadar kalimat, melainkan kekuatan yang menggerakkan hampir setiap keputusan besar dalam hidupnya.

2. Saat cinta pada mama berubah menjadi amarah yang membekas

Instagram.com/abimana_arya

Kelas 2 SMP, Anggoro mendapati mamanya menangis diam-diam karena sang papa berselingkuh dengan pemilik toko roti. Tanpa pikir panjang, ia mendatangi perempuan itu dan memintanya menjauh dari papanya.

Balasannya brutal, tiga laki-laki suruhan perempuan itu memukuli Anggoro dan mengancamnya untuk tidak ikut campur lagi.

Malam itu Anggoro balik dan merusak toko roti tersebut. Ia ditangkap, mendekam seminggu di kantor polisi sambil disiksa.

Saat dijenguk, Anggoro menatap papanya dan dengan tegas berkata betapa ia membenci lelaki itu. Kalimat itu justru menghancurkan sang papa.

Papanya memohon pada selingkuhannya agar Anggoro dibebaskan, dan sejak saat itu sang papa berhenti berselingkuh. Anggoro baru mau berdamai setelah sang papa mencium kaki mamanya dan berjanji tidak akan menyakitinya lagi.

3. Dari kurir hingga narapidana, semua berawal dari satu rumah

Instagram.com/abimana_arya

Lulus SMA dengan susah payah, sampai tinggal kelas di kelas 2 SMA, Anggoro memilih tidak kuliah dan bekerja sebagai kurir pengantaran barang. Ia dikenal punya jiwa leadership yang kuat dan tidak segan memimpin rekan-rekannya memprotes ketidakadilan di tempat kerja.

Selama 8 tahun ia menabung keras dengan satu mimpi, yaitu membelikan mamanya rumah yang layak. Di usia 28 tahun, mimpi itu terwujud.

Namun di usia 33 tahun, rumah yang ia beli dengan keringat itu digusur paksa karena seorang pedagang emas mengklaim tanah tersebut secara ilegal, dan menang di pengadilan berkat jaringan mafia tanah. Anggoro yang murka mengumpulkan empat orang untuk merampok toko emas pedagang itu.

Mereka tertangkap dan dihukum 7 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan Labuhan Angsana. Di dalam penjara pun, Anggoro tidak berhenti menjadi pelindung.

Anggoro menginisiasi program menulis surat bagi napi yang tidak bisa mengungkapkan perasaan kepada keluarga mereka.

"Kalau kalian nggak bisa ngomong ke anak kalian, coba tulis. Biar mereka tahu bapaknya masih ada," kata Anggoro.

Itulah tadi kisah hidup Anggoro Ramadhani, karakter yang diperankan Abimana Aryasatya dalam film Ghost in the Cell, yang dari awal hingga akhir tidak pernah benar-benar jahat. Setiap langkahnya yang salah selalu bisa ditelusuri ke satu akar yang sama, yaitu cinta pada mamanya yang terlalu besar untuk ditampung oleh sistem yang terlalu kecil.

FAQ Anggoro di Film Ghost in the Cell

Siapa Abimana Aryasatya dan mengapa ia dipilih untuk peran Anggoro?

Abimana Aryasatya adalah aktor senior Indonesia yang dikenal mampu menghidupkan karakter kompleks dengan sangat natural. Pilihan Joko Anwar untuk menempatkannya sebagai Anggoro sangat tepat karena karakter ini membutuhkan kedalaman emosi yang tidak bisa dimainkan setengah-setengah.

Apakah Anggoro termasuk tokoh protagonis atau antagonis di film Ghost in the Cell?

Anggoro berada di zona abu-abu. Ia bukan pahlawan tanpa cacat, tetapi juga bukan penjahat tanpa nurani. Karakternya justru menjadi cermin dari realita sosial tentang bagaimana sistem yang tidak adil bisa mengubah orang baik menjadi seseorang yang terpaksa melanggar hukum.

Apa yang membuat karakter Anggoro berbeda dari karakter narapidana pada umumnya di film Indonesia?

Anggoro punya kedalaman moral yang jarang ditemukan pada karakter narapidana di film lokal. Ia menolak menjadi debt collector karena tidak mau menakut-nakuti orang miskin, membela sesama napi yang tertindas, dan bahkan menginisiasi program menulis surat agar para napi tetap terhubung dengan anak-anak mereka.

Editorial Team