Instagram.com/abimana_arya
Lulus SMA dengan susah payah, sampai tinggal kelas di kelas 2 SMA, Anggoro memilih tidak kuliah dan bekerja sebagai kurir pengantaran barang. Ia dikenal punya jiwa leadership yang kuat dan tidak segan memimpin rekan-rekannya memprotes ketidakadilan di tempat kerja.
Selama 8 tahun ia menabung keras dengan satu mimpi, yaitu membelikan mamanya rumah yang layak. Di usia 28 tahun, mimpi itu terwujud.
Namun di usia 33 tahun, rumah yang ia beli dengan keringat itu digusur paksa karena seorang pedagang emas mengklaim tanah tersebut secara ilegal, dan menang di pengadilan berkat jaringan mafia tanah. Anggoro yang murka mengumpulkan empat orang untuk merampok toko emas pedagang itu.
Mereka tertangkap dan dihukum 7 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan Labuhan Angsana. Di dalam penjara pun, Anggoro tidak berhenti menjadi pelindung.
Anggoro menginisiasi program menulis surat bagi napi yang tidak bisa mengungkapkan perasaan kepada keluarga mereka.
"Kalau kalian nggak bisa ngomong ke anak kalian, coba tulis. Biar mereka tahu bapaknya masih ada," kata Anggoro.
Itulah tadi kisah hidup Anggoro Ramadhani, karakter yang diperankan Abimana Aryasatya dalam film Ghost in the Cell, yang dari awal hingga akhir tidak pernah benar-benar jahat. Setiap langkahnya yang salah selalu bisa ditelusuri ke satu akar yang sama, yaitu cinta pada mamanya yang terlalu besar untuk ditampung oleh sistem yang terlalu kecil.
Siapa Abimana Aryasatya dan mengapa ia dipilih untuk peran Anggoro? | Abimana Aryasatya adalah aktor senior Indonesia yang dikenal mampu menghidupkan karakter kompleks dengan sangat natural. Pilihan Joko Anwar untuk menempatkannya sebagai Anggoro sangat tepat karena karakter ini membutuhkan kedalaman emosi yang tidak bisa dimainkan setengah-setengah. |
Apakah Anggoro termasuk tokoh protagonis atau antagonis di film Ghost in the Cell? | Anggoro berada di zona abu-abu. Ia bukan pahlawan tanpa cacat, tetapi juga bukan penjahat tanpa nurani. Karakternya justru menjadi cermin dari realita sosial tentang bagaimana sistem yang tidak adil bisa mengubah orang baik menjadi seseorang yang terpaksa melanggar hukum. |
Apa yang membuat karakter Anggoro berbeda dari karakter narapidana pada umumnya di film Indonesia? | Anggoro punya kedalaman moral yang jarang ditemukan pada karakter narapidana di film lokal. Ia menolak menjadi debt collector karena tidak mau menakut-nakuti orang miskin, membela sesama napi yang tertindas, dan bahkan menginisiasi program menulis surat agar para napi tetap terhubung dengan anak-anak mereka. |