Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Review Film Suka Duka Tawa, Komedi Keluarga yang Menyentuh Luka Lama
Instagram.com/flixcinema.id

Intinya sih...

  • FIlm ini tentang kisah papa dan anak yang penuh penyesalan.

  • Suka Duka Tawa memperlihatkan kalau trauma keluarga yang tidak pernah benar-benar hilang.

  • Ada sosok mama yang sering terlupakan, tetapi paling kuat di dalam keluarga.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Film Suka Duka Tawa hadir sebagai tontonan keluarga yang dibalut komedi, tetapi menyimpan emosi yang dalam. Film ini tidak sekadar mengundang tawa lewat humor khas kehidupan sehari-hari, melainkan juga mengajak penonton menyelami dinamika keluarga yang retak, luka masa lalu, dan proses berdamai yang tidak instan.

Lewat kisah Keset, Tawa, dan Mama Cantik, film Suka Duka Tawa menampilkan realita yang dekat dengan banyak keluarga Indonesia. Tentang orangtua yang terjebak antara mimpi dan tanggung jawab, anak yang tumbuh dengan kekosongan emosional, serta mama yang memikul beban kehidupan sendirian. Semua disajikan dengan jujur, tanpa menghakimi.

Sesuatu yang membuat Suka Duka Tawa terasa istimewa karena film ini memadukan komedi dengan konflik emosional. Tawa tidak digunakan untuk menutupi luka, melainkan menjadi cara bertahan di tengah keadaan yang tidak sempurna. Penonton diajak tertawa, lalu diam-diam merenung.

Lantas, seperti apa film ini jika dilihat lebih dalam? Berikut Popmama.com sudah review film Suka Duka Tawa yang mengulas emosi, pesan, dan dinamika hubungan di dalamnya.

Sinopsis Film Suka Duka Tawa (2026)

Film Suka Duka Tawa berkisah tentang Keset, seorang pelawak sketsa televisi yang berjuang mengejar cita-citanya di tengah keterbatasan ekonomi. Demi impian tersebut, ia meninggalkan istri dan anaknya, Mama Cantik dan Tawa, pada masa-masa sulit.

Bertahun-tahun kemudian, Keset kembali hadir dalam kehidupan Tawa yang telah beranjak dewasa. Namun, kepulangan ini tidak serta-merta membawa kebahagiaan. Luka lama, trauma masa kecil, dan komunikasi yang terputus menjadi tantangan besar yang harus mereka hadapi sebagai keluarga.

Di sisi lain, kehadiran teman-teman Tawa menjadi penopang emosional yang memperkaya cerita. Film ini bergerak di antara konflik keluarga, perjuangan ekonomi, dan proses saling memahami yang tidak selalu mulus, tetapi terasa nyata.

Suka Duka Tawa
8 Januari
3/5
Directed by Aco Tenriyagelli
ProducerTersi Eva Ranti, Ajish Dibyo
WriterIndriana Agustina, Aco Tenriyagelli
Age Rating13+
GenreDrama, Komedi, Keluarga
Duration127 Minutes
Release Date2026
ThemeRekonsiliasi keluarga, isu fatherless (kehilangan sosok papa), dan proses menertawakan luka melalui dunia stand-up comedy.
Production HouseBION Studios (BION Sinema), Spasi Moving Image, dan Visinema Pictures.
Where to WatchBioskop
CastRachel Amanda, Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, Enzy Storia, Bintang Emon, Arif Brata, Gilang Bhaskara, Abdel Achrian, Mangsaswi, Nazira C. Noer, Marcella Zalianty, Reza Hilman.

Trailer Suka Duka Tawa (2025)

1. Kisah papa dan anak yang penuh penyesalan

Youtube.com/CINEMA XXI

Hubungan antara Keset dan Tawa menjadi inti emosional film Suka Duka Tawa. Keset digambarkan sebagai papa yang terlambat menyadari bahwa mimpi dan ambisi pribadi tidak bisa berdiri sendiri tanpa tanggung jawab terhadap keluarga.

Keputusan Keset meninggalkan rumah demi mengejar karier komedi menyisakan luka mendalam bagi Tawa. Ia tumbuh dengan rasa kehilangan figur papa, sekaligus kebingungan atas alasan kepergian tersebut. Film ini dengan jujur memperlihatkan bagaimana absennya sosok papa bisa memengaruhi pembentukan emosi anak.

Ketika Keset kembali, hubungan mereka tidak serta-merta hangat. Ada jarak, kecanggungan, dan rasa tidak percaya yang terasa nyata. Proses membangun kembali kedekatan ini ditampilkan perlahan, tanpa dramatisasi berlebihan.

Dari relasi ini, penonton diajak merenung bahwa menjadi orangtua bukan hanya tentang hadir kembali, tetapi tentang keberanian mengakui kesalahan dan konsisten menunjukkan perubahan.

2. Trauma keluarga yang tidak pernah benar-benar hilang

Youtube.com/CINEMA XXI

Karakter Tawa digambarkan sebagai sosok yang membawa trauma masa kecil hingga dewasa. Luka akibat konflik orangtua dan perpisahan keluarga membuatnya kesulitan memercayai orang lain, termasuk mereka yang berniat baik.

Dalam beberapa adegan, Tawa terlihat defensif saat mendapat bantuan dari teman-temannya. Ia kerap merasa dikasihani, padahal yang diterimanya adalah bentuk kepedulian. Film Suka Duka Tawa menunjukkan bagaimana trauma bisa memelintir cara seseorang memaknai perhatian.

Trauma tersebut tidak digambarkan secara hitam-putih. Tawa bukan hanya korban, tetapi juga individu yang sedang belajar memahami emosinya sendiri. Proses ini terasa manusiawi dan dekat dengan realita banyak anak yang tumbuh dari keluarga tidak utuh.

Seiring cerita berjalan, Tawa mulai menyadari bahwa membuka diri bukanlah tanda kelemahan. Film ini menekankan bahwa penyembuhan trauma adalah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu, penerimaan, dan lingkungan yang aman.

3. Sosok mama yang sering terlupakan, tetapi paling kuat

Youtube.com/CINEMA XXI

Mama Cantik adalah karakter yang diam-diam menjadi fondasi emosional film Suka Duka Tawa. Ia digambarkan sebagai ibu yang harus menahan luka pribadi demi memastikan anaknya tetap bertahan di tengah keterbatasan hidup.

Ditinggal suami di masa sulit membuat Mama Cantik memikul beban ganda, sebagai pencari nafkah sekaligus penopang emosional bagi Tawa. Film Suka Duka Tawa tidak mengidealkan sosok mama, melainkan menampilkannya sebagai manusia yang bisa lelah, marah, dan kecewa.

Konflik antara Mama Cantik dan Keset memperlihatkan luka yang belum sembuh akibat masa lalu. Namun, film Suka Duka Tawa juga menunjukkan kedewasaan Mama Cantik dalam menempatkan kepentingan anak di atas ego pribadi.

Lewat karakternya, film Suka Duka Tawa mengingatkan bahwa peran mama sering kali paling sunyi, tetapi paling kuat dalam menjaga keutuhan keluarga.

4. Pertemanan Tawa sebagai keluarga pilihannya

Youtube.com/CINEMA XXI

Selain keluarga inti, film Suka Duka Tawa memberi ruang besar pada peran pertemanan. Kehadiran Rais dan teman-teman Tawa menjadi elemen penting yang menyeimbangkan emosi film.

Mereka tidak hanya hadir sebagai pelengkap komedi, tetapi juga sebagai support system yang nyata. Saat Tawa dan mamanya harus berpindah tempat tinggal, teman-temannya hadir membantu tanpa pamrih.

Dukungan tersebut juga terlihat ketika Tawa mengalami kegagalan dalam dunia stand-up comedy. Teman-temannya tidak menghakimi, melainkan menemani dan menguatkan. Film Suka Duka Tawa menegaskan bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh darah. Dalam kondisi tertentu, pertemanan yang tulus bisa menjadi rumah yang paling aman.

5. Tawa sebagai cara bertahan, bukan menutupi luka

Youtube.com/CINEMA XXI

Judul Suka Duka Tawa terasa sangat relevan dengan pesan yang dibawakan film ini. Tawa tidak digunakan untuk menutupi luka, tetapi sebagai cara bertahan di tengah realita yang berat.

Keset menggunakan humor sebagai mekanisme bertahan hidup, Mama Cantik sebagai bentuk ketegaran, dan Tawa sebagai cara menjaga kewarasan. Masing-masing memiliki alasan tersendiri untuk tetap tertawa.

Film Suka Duka Tawa dengan halus menunjukkan bahwa tertawa tidak selalu berarti bahagia. Kadang, tawa adalah cara paling manusiawi untuk menghadapi kenyataan. Pada akhirnya, Suka Duka Tawa mengajarkan bahwa menerima keadaan tidak selalu berarti menyerah. Dengan keikhlasan, komunikasi, dan keberanian berdamai, luka keluarga bisa dipeluk tanpa harus disangkal.

Secara keseluruhan, review film Suka Duka Tawa menunjukkan bahwa film ini bukan sekadar komedi keluarga. Tawa menjadi potret kehidupan yang jujur tentang cinta, luka, dan proses berdamai dalam keluarga yang tidak sempurna. Film ini cocok bagi mama yang ingin menonton kisah ringan, tetapi tetap bermakna. Karena di balik setiap tawa, selalu ada cerita yang layak dipahami.

Bagaimana menurut Mama, apakah kisah keluarga dalam Suka Duka Tawa terasa dekat dengan realita yang pernah dialami?

Editorial Team